Tiga Kisah Inspiratif Salafus Shalih

Jumat, 13 Desember 2019 tokoh 303 klik
Ida Mahmudah Teks:Ida Mahmudah
Faza Grafis:Faza

Dalam buku Suara dari Langit karya KH. Agoes Ali Masyhuri, disebutkan bahwa orang-orang salafus shalih hidup dengan menerapkan akhlak mulia. Mereka termasuk orang-orang yang memiliki akhlak paling terpuji setelah para Nabi, Rasul dan para sahabat. Berikut beberapa kisah inspiratif salafus shalih :

1. Ibrahim Bin Adham (w. 162 H)

Suatu ketika, Ibrahim bin Adham pergi ke padang pasir, seorang tentara laki-laki menemuinya dan bertanya, “Apakah kamu seorang hamba sahaya?” Ibrahim menjawab “Ya”. “Jika benar begitu, tunjukkan  kepadaku kota yang ramai.”  Ibrahim lalu menunjuk ke arah kuburan. Tentara itu menegaskan bahwa ia menanyakan kota tempat keramaian manusia, bukan kuburan. Tentara itu pun marah dan memukul Ibrahim dengan cambuk hingga Ibrahim luka.

Tentara itu kemudian berjalan bersama Ibrahim ke desa asal Ibrahim. Orang yang mengenal Ibrahim bertanya-tanya apa gerangan yang telah terjadi. Tentara itu lalu menceritakan kisahnya bersama Ibrahim. Mereka menimpali, “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa dia adalah Ibrahim bin Adham?” Tentara itu lalu turun dari kudanya kemudian mencium tangan dan kepala Ibrahim seraya memohon maaf kepadanya.

Seseorang lalu bertanya kepada Ibrahim, “Mengapa engkau mengatakan bahwa engkau seorang hamba?” Ibrahim menjawab, “Hal itu karena ia tidak menanyakan siapa aku ini. Ia hanya bertanya? ‘Apakah kamu seorang hamba?’ Aku pun mengiyakannya karena memang benar aku hamba Allah. Ketika ia memukul ke kepalaku, aku memohonkan untuknya surga kepada Allah.”

Mereka bertanya lagi, “Mengapa engkau mendoakan hal baik untuk seseorang yang telah menzalimimu?” Ibrahim menjawab, “Aku sadar, aku akan diberi pahala atas perlakuannya padaku. Aku sama sekali tidak menginginkan diriku memperoleh ganjaran kebaikan, sedangkan dia memperoleh ganjaran yang buruk.”

2. Fudhail Bin Iyadh (107-187 H.)

Jika Fudhail Bin Iyadh  mendengar kabar bahwa dirinya dijelek-jelekan orang lain, Maka ia akan menjawab, “Demi allah, sungguh aku sangat marah akan perbuatannya (Iblis). Ya Allah,Ya Tuhanku sudilah kiranya engkau memaafkan ku jika apa yang dikatakannya tentangku benar dan sudilah kiranya Engkaulah memaafkannya jika apa yang dikatakannya  tentangku adalah dusta.”

3. Bakar Bin Abdullah al-Muzani (w. 106 H)

Suatu hari, Bakar Bin Abdullah al-Muzani dimaki-maki oleh seseorang dengan makian yang melampaui batas. Meski begitu, dia hanya terdiam. Seseorang lalu bertanya kepadanya, “Mengapa engkau tidak membalas makiannya sebagaimana ia memaki-makimu?” Bakar menjawab, “Sungguh aku tidak mengetahui ada keburukan pada dirinya sebagai bahan makian. Lagi pula, sama sekali tidak halal bagiku melontarkan celaan bohong (mencela tanpa bukti).” (Idah Mahmudah).