Tak Peduli Perbedaan Keyakinan, 5 Sosok Ini Bantu Selamatkan Nabi dari Ancaman Kekerasan!

Rabu, 27 Februari 2019 tokoh 175 klik
Faza Grafis:Faza

Di dalam episode kehidupan Nabi Muhammad SAW, terdapat sejumlah orang yang tidak atau belum bergabung di dalam barisan umat, namun mereka banyak berkontribusi dengan Nabi dengan cara mereka masing-masing. Mereka membantu, melindungi, memandu, dan berkawan dengan Nabi bahkan mereka berjuang untuk mengikuti dakwah Nabi.

Dimulai dengan Waraqah bin Naufal, sosok yang sangat hanif. Di saat Nabi Muhammad merasa terguncang jiwanya dan merasa ragu akan datangnya seseorang kepadanya, apakah yang datang itu adalah sosok malaikat Jibril atau bukan, Siti Khadijah pergi membawa Nabi untuk menemui Waraqah. Setelah mendengar dan menyimak cerita Nabi dan lima ayat pertama yang diterimanya, Waraqah berkata “ini adalah sosok yang sama yang membawa wahyu yang dikirim Allah kepada Musa, ia adalah malaikat jibril”. Pernyataan Waraqah tersebut sangat menenangkan hati Nabi. Bahkan, saat kondisi Nabi kritis di awal kenabiannya, Waraqah adalah salah seorang yang memberi kesaksian bahwa yang datang kepadanya adalah malaikat Jibril, bukan setan.

Sosok kedua yang banyak membantu Nabi dalam segala aktivitasnya adalah pamannya, Abu Thalib. Saya kira semua sudah faham atas semua perlindungan Abu Thalib, kepala suku Quraisy kepada keponakannya ini. Pada masa itu, suku Quraisy terkenal dengan sistem klan yang begitu kuat. Siapa saja yang mendapat perlindungan akan sebuah klan, hidupnya dijamin aman dan tentram. Dan siapa saja yang berani menyakiti bahkan mencelakakannya, maka ia akan berhadapan dengan klan tersebut. Maka, perlindungan Abu Thalib terhadap Nabi Muhammad telah membuatnya aman dan tentram. Meskipun ada sedikit gangguan yang dialami Nabi saat dalam naungan perlindungan pamannya, Abu Thalib.

Lalu, bagaimana dengan kondisi umat Nabi Muhammad? Suku Quraisy adalah suku yang sangat terhormat sehingga Nabi tidak terancam hidupnya. Namun sebaliknya, para sahabat mengalami berbagai ancaman yang berat. Maka dari itu, Nabi memerintahkan para sahabat untuk segera hijrah ke negeri Habasyah. Mayoritas di negeri ini adalah beragama Kristen. Para sahabat kemudian hijrah ke habasyah dan mereka ada dalam perlindungan Raja Habasyah. Dalam kasus ini kita bisa melihat bagaimana para sahabat pergi mencari perlindungan ke negeri yang berpenduduk Kristen, persis dengan kondisi sekarag sekelompok pengungsi dari Syria, Yaman, Libya, Irak, Afghanistan, dan Tunisia yang memasuki wilayah eropa dan mereka berlindung d negara yang mayoritas non-Muslim.

Kondisi Nabi masih dalam keadaan aman dan tentram sampai kemudian Abu Thalib wafat. Kemudian, setelah itu Abu Lahab yang mengomandani suku Quraisy dan mengumumkan kepada mereka agar melepaskan perlindungan kepada Nabi. Dalam hal ini bisa diartikan bahwa siapapun bisa mencelakakannya bahkan membunuhnya. Suku Quraisy pun tidak sama sekali membela dan mempertahankan perlindungan kepada Nabi. Nasib pilu yang dialami Nabi membuatnya lari dikejar mereka yang hendak mencelakakannya. Tubuh nabi terluka berdarah-darah karena dilempari batu oleh penduduk Thaif.

Kesedihan yang dialami Nabi pun telah usai berkat perlindungan seorang kepala suku kecil, ia adalah Muth’im bin Adhi. Muth’im mengumumkan kepada seluruh umat sukunya bahwa Nabi Muhammad berada dalam perlindungannya. Amanlah saat itu nyawa Nabi Muhammad. Muth’im bin Adhi adalah seorang yang tidak mempercayai agama Allah, namun ia sangat tulus untuk melindungi dan merawat Nabi agar tidak diganggu lagi oleh penduduk thaif. Seiring berjalannya waktu, Muth’im melepaskan perlindungan setelah peristiwa Isra’ Mi’raj yang telah dialami Nabi. Ia menuduh Nabi berbohong dan karenanya dia melepaskan jaminan perlindungannya terhadap Nabi Muhammad.

Setelah kejadian tersebut, turunlah perintah untuk hijrah ke Yatsrib. Saat itu, kondisi Nabi sangat terancam dan hijrah adalah satu-satunya jalan keluar. Kemudian, Abu Bakar dan Nabi memutuskan pergi di malam hari menuju Yatsrib. Mereka dipertemukan dan ditolong oleh salah seorang non-Muslim bernama Abdullah bin Arqat (saat itu belum masuk islam). Abdullah inilah yang menuntun dan memimpin perjalanan Nabi melewati jalan yang tidak bisa ditembus oleh kafir jahiliyah.

Sosok terakhir, banyak yang tidak tahu bahwa ada seorang rabbi yahudi yang sangat sayang kepada Nabi Muhammad. Mukhayriq namanya. Dia adalah seorang yang kaya raya dan ia juga berkontribusi dalam Perang Uhud untuk membela Nabi. Dia berwasiat bahwa jika seandainya jiwanya terbunuh, maka semua harta kekayaannya akan diserahkan kepada Nabi.

Peperangan pun terjadi pada hari sabtu. Sebagai seorang beragama Yahudi, seharusnya Mukhayriq berdiam diri di dalam rumah. Namun, ia bertekad dan memutuskan untuk pergi membantu Nabi. Dalam kondisi terluka parah di perang uhud, Nabi Muhammad diberitahu bahwa Mukhayriq telah gugur dan semua harta kekayaannya diberikan kepada Nabi. Nabi berkata “Dia Yahudi terbaik!” Kisah mengenai Mukhayriq ini bisa dibaca dalam kitab Thabaqat Ibn Sa’d, Ibn Hajar dalam al-Ishabah fi Tamyizi Shahabah, dan Ibn Sabbah dalam Tarikh al-Madinah.

Sejarah diatas menyisakan cerita manis bagi kita semua bagaimana Nabi Muhammad menjalin persaudaraan baik dengan non-Muslim. Setelah membaca sejarah ini, saya merasa malu akan hadirnya Islam yang datang untuk menebar rahmat kini menjadi agama yang gampang melaknat, agama yang sangat terkenal dengan sikap ramah kini menjadi agama yang penuh dengan api amarah, dan agama yang selalu mengajarkan kasih sayang, kini selalu merasa tersinggung dan sangat mudah untuk mengatakan “inilah penista agama!”

(Rifa Tsamrotus Sa’adah)