Para Ulama Mujaddid Versi Mbah Moen

Jumat, 13 September 2019 tokoh 570 klik
Faza Grafis:Faza

Salah satu bocoran menarik yang disampaikan oleh Rasulullah Saw, terkait dengan siklus yang terjadi pada umat Islam sepanjang sejarah adalah keberadaan ulama-ulama di setiap kurun yang akan menjadi mujaddid atau pembawa pembaharuan dalam tubuh umat Islam.  Hal ini disampaikan oleh Rasulullah dalam sebuah riwayat:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ فِيمَا أَعْلَمُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا

Artinya: dari Abu Hurairah yang aku tahu hadits itu dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Setiap seratus tahun Allah mengutus kepada umat ini seseorang yang akan memperbaharui agama ini (dari penyimpangan)."

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud, dalam bab al-Malahim: peristiwa dalam satu abad, no. 3740/4291. Hadis serupa juga diriwayatkan oleh al-Hakim dan Al-baihaqy, sama-sama dari jalur Abi Hurairah. Al-Hafizh al-‘Iraqi mengatakan bahwa sanad hadis tersebut kualitasnya Shahih.

Proses Tajdid di sini dapat dipahami merupakan ulama yang memiliki pengaruh besar terhadap umat Islam dengan sumbangsih mereka dalam ilmu pengetahuan, misalnya memberantas penyimpangan yang muncul, menghasilkan karya monumental, melakukan aktualisasi terhadap ajaran Islam dan lain sebagainya. Dalam kitab Al Ulama Al Mujaddidun, Syaikh Maemoen Zubair sendiri mengartikan Mujaddid itu sebagai ulama yang menerangkan Sunnah dan melenyapkan bid’ah, memperbanyak dan menolong ilmu agama.

Jika melihat kemunculan para tokoh-tokoh besar yang memberikan sumbangsih besar terhadap agama Islam pada lintasan abad, maka tentu saja yang mengisi pos-pos mujaddid pada abad pertama Hijriah adalah mereka para sahabat Rasulullah Saw. mereka saat itu memang belum membuat rumusan-rumusan cabang ilmu keislaman atau menghasilkan karya tulis apapun kepada kita, tetapi dalam kurun waktu tersebut mereka menyibukkan diri pada sesuatu yang lebih besar, mulai dari pengumpulan, pembukuan dan pembakuan penulisan mushaf Alquran, pemberian tanda baca Alquran, peletak dasar kaidah keshahihan riwayat, pelaku aktif kegiatan fatwa dan ijtihad pertama setelah terputusnya wahyu dan sepeninggal Rasulullah Saw, dan tentu saja perluasan wilayah dan penambahan jumlah kaum muslimin. Dengan demikian, mujaddid pada abad pertama adalah mereka para sahabat sesuai dengan besaran sumbangsih dan pengaruh mereka masing-masing.

Setelah berlalunya era para sahabat, maka tampillah para tabi’in. mereka tentu saja menghadapi tantangan dan tugas yang berbeda dengan pendahulu mereka para Sahabat. Di antara porsi besar dari sumbangsih mereka adalah proses dokumentasi riwayat dari Rasululah Saw melalui catan dan tulisan, mereka melakukan hal tersebut sampai berkelana dari satu ke kota lainnya yang dikenal sebagai tempat keberadaan para Sahabat, mulai dari Mekkah, Kufah, Syam hingga Mesir. Sehingga berbagai petunjuk dari Rasulullah yang terekam dari perkataan dan perbuatan beliau dapat terakses hingga sekarang.

Pada era berikutnya, sumbangsih dan peran sebagai Mujaddid bisa dikatakan terus mengerucut pada sekelompok orang saja, setelah pada dua era sebelum mereka ada sangat banyak individu dari kalangan sahabat dan tabi’in yang layak masuk dalam kategori tersebut. Seiring dengan periwayatan dan dokumentasi hadis yang tetap terus berjalan, maka kegiatan peletakan dasar-dasar keilmuan dan ijtihad mulai semakin meningkat kebutuhannya, maka tampillah para ulama seperti Imam Syafi’i, Imam Ahmad Ibn Hanbal dan para ulama lain yang seperti mereka. Di tangan mereka dalil-dalil Syari’at diolah mulai dari ayat Alquran, hadis, ijma’ dan qiyas.

Pada masa seterusnya, tantangan yang di hadapi dunia Islam terus berubah, islam semakin meluas, interaksi dengan adat budaya berbagai bangsa tidak dapat terelakkan, masuknya pengaruh filsafat dari berbegai aliran dan belahan dunia, serta dinamika politik muali dari keruntuhan, pergantian dan kemunculkan berbagai kekuatan politik yang terjadi di wilayah Islam serta dijalankan oleh umat Islam sendiri pada akhirnya memberikan pengarauh yang sangat besar paa tantangan dan tugas para ulama di masa tersebut.

Pada abad keempat muncul Imam Abu Bakar al-Baqilani seorang qadhi dan ahli ilmu kalam, kemudian pada abad kelima muncul Imam Ghazali, seorang ulama yang kelak meninggalkan berbagai karya besar dan monumental dalam bidang ilmu kalam, filsafat, ushul Fiqih dan fiqih, beliau juga punggawa yang menuliskan pendapat dan simpulan fiqih syafi’i pada masa tersebut. Selanjutnya pada abad keenam, muncul Imam Rafi’i dan Imam Nawawi yang melanjutkan keras Imam Ghazali, apalagi Imam Nawawi juga meninggalkan sangat banyak karya tulis dalam bidang fiqih dan hadis, mulai dari yang ringkas hingga yang sangat tebal. Mereka berdua menghasilkan sumbangsih dalam kegiatan Tarjih berbagai pendapat dan riwayat yang diperhitungkan dalam Mazhab Syafi’i.

Pada abad ketujuh ada Ibn Daqiq al-‘Aid, seorang yang digelari sulthan nya para ulama di masanya. Pada abad kedelapan muncul Syaikhul Islam Jalaluddi al-Bulqaini. Selanjutnya, pada abad kesembilan kita mengenal imam Jalaluddin al-Suyuthi, seorang ulama yang membaktikan akhir hidupnya untuk menulis hingga melahirkan puluhan judul kitab yang sangat bernilai, karya-karyanya tersebar dalam berbagai cabang ilmu mulai dari Fiqih, hadis, ilmu alquran, tafsir dan bahasa. Bahkan beliau layak ditasbihkan sebagai pelopor dalam ilmu Alquran dan perumusan kaidah-kaidah fiqih.

Pada abad kesepuluh kita mengenal Imam Ali al-Syibramalisy dan Imam Ibn Hajar al-Haitsami. Nama yang disebutkan terkahir adalah punggawa tarjih mazhab Syafi’i era ketiga setelah duet imam Rafi’i dan Nawawi. Ibn Hajar juga kemudian menjadi guru dari banyak ulama besar Syafi’iyah. Abad ini dapat dikatakan adalah masa-masa awal merosotnya pengetahuan di dunia Islam dan mulai diungguli oleh peradaban Barat.

Pada abad kesebelas, kita mengenal al-Imam Ja’far al-Barzanji penulis kitab maulud Nabi yang masyhur, kemudian al-Habib al-Sayyid ‘Abdullah al-Haddad penulis banyak kitab yang menjadi rujukan Ahlussunah wal Jama’ah untuk melawan arus pemikiran yang berlainan dengannya. Selanjutnya pada abad kedua belas kita mengenal al-Imam al-Murtadha al-Zabidi yang juga rujukan penting bagi para ulama Ahlussunah di masanya. Beliau juga tercatat memiliki murid yang kemudia melahirkan rantai ulama besar Nusantara di kemudian hari di mulai dari KH. Abdul Manan, kemudian anaknya KH Abdullah, kemudian muridnya Syaikh Mahfuzh Termas, kemudian Kyai Faqih Maskumambang, kemudian muridnya Kyai Zubair Dahlan. Pada abad kedua belas juga Sayyid Ahmad al-Marzuqi penulis kitab ‘Aqidat al-Awwam.Pada Abad ketiga belas kita mengenal Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Sayyid Bakr Syatha (penulis Hasyiyah I’anat al-Thalibin). Dan berbagai ulama yang lain yang memiliki sumbangsih besar hingga sekarang. Pada abad ketiga belas dan seterusnya sepertinya agak kesulitan untuk mencatat satu dua nama sebagai Mujaddid. Hingga Syaikh Memoen Zubair mengalihkan pembahasan pada beberapa tema tajdid yang diperhatikan oleh para ulama dalam dua abad belakangan. Namun beliau memunculkan beberapa nama ulama di dalamnya seperti Mahmud Syaltut, Syaikh Yasin al-Fadani, Syaikh Yusuf al-Qardhawi, dan lain-lain.

Penjelasan Syaikh Maemoen Zubair tentu saja tidak berlaku secara mutlak, membuat penilaian nama para mujaddid dalam satu abad tentu saja bukan hal yang mudah, mengingat tentu saja ada banyak ulama yang juga tidak kalah besar pengaruhnya dalam setiap abad, di luar nama-nama yang disebutkan di atas. Penilaian yang dibuat oleh Syaikh Memoen Zubair ini tentu tidak lepas dari perspektif subjektif beliau.

Kita melihat nama-nama para ulama di atas banyak diambil dari para tokoh spesialis fiqih. Padahal jika melihat dengan perspektif ilmu hadis misalnya, tentu saja nama-nama Seperti Imam Bukhari, al-Baihaqi, Daruquthni, Ibn Hajar al-‘Ashqalani dan lain-lain layak untuk juga dimasukkan. Kemudian jika melihat dalam sudut pandang ilmu Alquran dan tafsir, tentu saja nama seperti al-Thabari, Ibn Katsir dan lain-lain juga layak.

Selain itu nama-nama di atas juga dominan dengan nama para punggawa mazhab Syafi’iy. Padahal jika menggunakan sudut pandang mazhab yang lain, nama-nama seperti al-Sarkhasi, ibn Rusyd, Ibn Hazm, Ibn Qudamah dan lain sebagainya juga tidak kalah besar pengaruhnya.

Kita melihat pada abad-abad terakhir , Syaikh maemoen Zubair juga mulai mengerucutkan pada nama-nama ulama yang memiliki pengaruh besar di dunia islam Nusantara. jika melihat sudut pandang umat Islam di belahan dunia lain tentu saja, masi banyak nama ulama yang lain yang juga layk untk dikategirikan sebagai Mujaddid di wilayah tertentu yang lain.

Namun, pada akhirnya kita dapat mengambil pelajaran besar berkaitan dengan para ulama mujaddid di setiap zaman, bahwa mereka akan terus bermunculan di setiap waktu dan tempat dengan sumbangsih yang berbeda-beda, menghadapi tantangan dan tugas yang berbeda-beda. Itulah yang telah dinubuatkan oleh Rasululah Saw. Bahwa agama Islam tidak akan pernah dapat dimusnahkan.(Rudy Fackhruddin).