Mufassir-Mufassir Perempuan

Sabtu, 26 Januari 2019 tokoh 51 klik
Faza Grafis:Faza

Selama berabad-abad lamanya, umat Islam pasti tidak asing dengan para mufassir yang mayoritas dari kaum pria. Namun taukah kalian bahwa sejak zaman Nabi sampai abad 14 H ini ada beberapa mufassir perempuan yang juga tidak kalah banyak kontribusinya dalam memberi penafsiran-penafsiran Al-Qur’an. Siapakah mereka?

1. Ummul Mukminin Aisyah r.a

Tafsirnya tergolong Tafsir bil Ma’tsur dengan mengoleksi riwayat-riwayat hadis tentang tafsir Al-Qur’an yang jumlahnya ± 355 riwayat baik dari Rasulullah maupun pengetahuannya sendiri. Di antara tafsirnya ada yang melawan berbagai isu jelek tentang perempuan, seperti tradisi diskriminatif menstruasi taboo dengan menafsirkan Al-Baqarah ayat 222 dengan metode tafsir bil ma’tsur dengan corak tafsir perpaduan fiqih dan adab ijtima’i.

2. Ummu Salamah

Merupakan salah satu istri Rasulullah saw. Terlibat dalam beberapa turunnya ayat sehingga menjadi saksi maupun penyedia informasi tentang latar belakang turunnya ayat.

Ada 25 ayat yang ditafsirkan oleh Ummu Salamah, seperti Al-Baqarah ayat 222-223, dan 238, Ali-Imran ayat 195 dan lainnya. Adapun Sumber penafsirannya berasal dari Sunnah Nabi, Asbabun Nuzul, Informasi kesejarahan, seperti ketika menafsirkan Al-Ahzab ayat 59 (persepsi perempuan Anshar terhadap ketentuan penggunaan jilbab berdasarkan ayat tersebut), Informasi tentang qira’at, dan Penggunaan Nalar. Ayat-ayat yang ditafsirkan tidak hanya khusus berakaitan dengan perempuan namun menghimpun aspek lain, seperti aspek teologis, hukum maupun sosial.

3. Zayb An-Nisa Al-Makir

Merupakan seorang intelektual perempuan dari India. Karya tafsirnya lengkap seluruh ayat berjudul “Zayb al-Tafasir fi Tafsir al-Qur’an”.

4. Aisyah Abd al-Rahman (Bintu Al-syathi’)

Merupakan Mufasir wanita pertama di dunia Islam pada zaman kontemporer. Karya tafsirnya berjudul “Al-Tafsir al-Bayani li al-Qur’an al-Hakim”, yang terdiri dari penafsiran tujuh surat pendek juz ‘Amma (Ad-Duha, Al-Insyirah, Al-Zalzalah, Al-’Adiyat, An-Nazi’at, Al-Balad, dan At-Takatsur), serta tujuh surat pendek lainnya di buku kedua (Al-’Alaq, Al-Qalam, Al-’Ashr, Al-Layl, Al-Fajr, Al-Humazah, dan Al-Ma’un).

Tafsir ini dianggap representasi terbaik dari metodologi al-Qur’an yang digagas oleh Amin Al-Khulli, dengan beberapa prinsip penafsiran seperti: sebagian ayat menafsirkan ayat yang lain, munasabah, al-’ibrah bi ‘umum al-lafdz la bi khusus al-sabab, dan tidak adanya sinominitas (mutaradif) dalam setiap kosa kata AL-Qur’an

Adapun Prinsip Penafsirannya adalah (metode memahami Al-Qur’an secara obyektif):

  • Al-Qur’an yufassiru ba’dhuhu ba’dhon (menafsirkan sebagian yang lain)
  • Al-Qur’an harus dipahami secara keseluruhan dengan karakteristik dan gaya bahasa yang khas
  • Adanya tatanan kronologis Al-Qur’an dapat memberi sejarah bagi kandungan Al-Qur’an tanpa menghilangkan nilainya

5. Zaynab Al-Ghazali

Seorang dai perempuan terkemuka Mesir. Kitab tafsirnya lengkap 30 juz, berjudul “Nadzarat fi Kitabillah”. Tafsirnya memiliki kecenderungan reformatif yang mendorong agar menjadikan Al-Qur’an sebagai undang-undang umat serta menjadi jalan kemajuan. Ciri tafsirnya: Membela hak-hak perempuan dengan menyelamatkan mereka dari nilai-nilai negatif  dan mendorong mereka berpegang teguh pada nash-nash syari’at.

6. Kariman Hamzah

Seorang wartawan Mesir ini mempersembahkan tiga jilid tafsirnya yang berjudul “Al-Lu’lu wal Marjan fi Tafsiri al-Qur’an”. Tafsirnya memberikan prespektif perempuan ketika membahas persoalan perempuan. Selain itu juga menggunakan bahasa yang mudah, sehingga objeknya diperuntukkan bagi pemula dan anak-anak.

7. Aminah Wadud

Nama aslinya Maria Teasley, seorang warga Amerika keturunan Afrika-Amerika. Ia seorang akademis yang juga seorang aktifis khususnya dalam memperjuangkan pemikiran feminisnya. Pernah bergabung di sebuah LSM Malaysia yang mempunyai misi menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber utama untuk menyelamatkan perempuan dari konservatisme Islam

Bukunya berjudul: Quran and Woman: Reading The Secred Text from a Woman’s Perspective, ditulis menggunakan metode tafsir holisitik, yaitu metode penafsiran dengan mengaitkan berbagai pesoalan sosial, moral, ekonomi, dan politik, termasuk isi tentang perempuan pada era modern ini. Teori ini kemudian disebut dengan hermeneutika. Di samping ia juga menggunakan tafsir bil ma’tsur untuk menganalisa semua ayat yang memberi petunjuk khusus bagi perempuan. Hasilnya, Amina Wadud secara implisit menegaskan bahwa penciptaan manusia seluruhnya sama baik laki-laki dan perempuan dan hendaknya dilihat sebagai aksentuasi dari paham tauhid (bersatu), saling melengkapi dan mengisi satu sama lain.

8. Nadhira Zaynuddin

Lahir di Libanon tahun 1905. Kitab tafsirnya yang terkenal “As-Sufur wa Al-Hijab” tahun 1928, bertujuan mengembalikan hak-hak perempuan yang terpuruk . Isu yang dimuat di dalamnya tentang Penggunaan HIJAB & JILBAB, yaitu bahwa hijab maupun jilbab tidak bisa menentukan baik-buruknya perempuan, melainkan kualitas pribadinya. Ayat-ayat yang menjadi objek penafsirannya antara lain Qs. Ahzab ayat 32, 33,53 dan 59 (Ayat hijab hanya untuk istri-istri Rasulullah), serta Qs. An-Nur ayat 30 dan 31 (Pelindung wanita ketika hendak buang hajat di malam hari). Ia berkesimpulan bahwa Ayat-ayat tersebut bukan hujjah kewajiban perempuan menutupi wajahnya juga seluruh tubuhnya.

9. Banu Ye-Isfahani (Banu Mujtahidah)

Nama lengkapnya Hajjah Sayyidah Nushrat Bigum Anim, lahir di kota Isfahan, Iran tahun 1269 H. Ia Berjuang dan berusaha membimbing dan meningkatkan perkembangan intelektual dan spiritual kaum perempuan sampai akhir hayatnya, pada tahun 1362 H. Bintu Mujtahidah adalah satu-satunya mujtahid perempuan pada zamannya, ia mendapatkan ijazah untuk meriwayatkan hadis, sekaligus pakar dalam fiqih, tasawuf dan tafsir. Adapun karya tafsirnya adalah “Tafsir Makhzan al-Irfan”, sebanyak 30 juz, 15 jilid / ± 400 halaman. Isinya berupa pembahasan Irfan (mistik), akhlak dan seputar Al-Qur’an, serta tegolong tafsir Syiah.

10. Hibbah Rouf Izzat

Ia merupakan seorang Mahasiswi Ilmu Politik di Universitas Kairo. Karyanya al-Mar’ah wa al-’Amal al-Siyasy, walaupun bukan sebuah tafsir namun merupakan gagasan yang ditawarkan atas reinterpretasi terhadap beberapa ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan perempuan, khususnya peran perempuan di ranah publik.

11. Ulfa Yusuf

Pegiat tafsir asal Tunisia yang berlatar belakang sastra di Universitas Menouba. Ia mewakili corak Maghribi-Sekular dalam membaca ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi terkait dengan isu-isu perempuan. Karya-karyanya antara lain Hirah Muslimah fi al-Mirats wa al-Zawaj wa Al-Jinsiyah al-Mitsliyah (Kegalauan Perempuan Muslimah tentang Warisan, Perkawinan dan Hubungan Sejenis), Naqishatu ‘Aqlin wa Dinin (Perempuan Kurang Akal dan Agama), dan Al-Ihbar ‘an al-Mar’ah fi al-Qur’an wa al-Sunnah (Informasi seputar perempuan dalam Al-Qur’an dan Sunnah).