Lima Kota Penting dalam Perjalanan Keilmuan Imam Syafi’i

Sabtu, 21 Desember 2019 tokoh 117 klik
Faza Grafis:Faza

Imam Syafi’i  adalah seorang ulama petualang. Beliau malang melintang berpindah dari satu kota ke kota yang lain, dalam prosesnya belajar dan mengajar, hingga kemudian beliau menjadi seorang imam yang menjadi pelopor kemunculan salah satu mazhab fikih terbesar sepanjang sejarah umat Islam. Rihlah ilmiah imam Syafi’i  dapat dibagi dalam beberapa fase yang ditandai dengan kota tempat beliau berada sebagai berikut:

1. Periode Mekah

Imam Syafi’i  menghabiskan masa kanak-kanak dan sebagian masa remajanya di Mekkah. Beliau menghafal Alquran ketika di mekkah. Beliau juga mempelajari Bahasa Arab dan menghafal Syair-Syair arab.  Menurut Syaikh Mahmud Abu Zuhrah, saat di Mekkah Imam Syafi’i  memberikan perhatian besar dalam kajian Tafsir Alquran , Asbabun nuzul dan periwayatan-periwayatn tafsir. Mekkah merupakan majelis murid-muridnya Ibn Abbas seorang sahabat yang merupakan guru besar tafsir Alquran.

Masih menurut Abu Zuhrah, Imam Syafi’i  memiliki beberapa kemiripan dengan Ibn Abbas diantaranya dari sisi kefasihan Bahasa beliau, pemahaman tafsir dan wawasan syair yang mumpuni.

2. Periode Madinah

Pada perkembangan selanjutnya, Imam Syafi’i  pergi ke Madinah dan berguru pada ulama agung di sana saat itu yaitu Imam Malik. Sebelum berguru pada beliau, Imam Syafi’i  telah mempelajari bahkan menghafal kitab al-Muwaththa’, salah satu kitab Imam Malik.

Begitu mengetahui kecedasan imam Syafi’i , Imam Malik memberikan sebuah nasehat kepada imam Syafi’i ,

يا غلام, إن الله ألقى فى قلبك نورا فلا تطفئه بالمعصية

“Wahai anak muda, sungguh Allah memberikan cahaya dalam hatimu, maka jangan engkau padamkan cahaya itu dengan berbuat maksiat!”.

Imam Syafi’i  mempelajari metodologi fikih Imam Malik, selama bertahun-tahun, ada banyak riwayat bahwa Imam Syafi’i  bermulazamah dengan Imam Malik Hingga Imam Malik wafat pada tahun179 H. jika berdasarkan pada riwayat tersebut, maka imam Syafi’i  berguru pada Imam malik selama 16 tahun dengan catatan bahwa imam Syafi’i  pergi ke Madinah pada usia 13 tahun  (163 H).

Namun ada pendapat lain dari Syaikh Zahid al-Kautsary bahwa Imam Syafi’i n berangkat ke Yaman pada usia 17 tahun, artinya beliau hanya bermulazamah Bersama Imam Malik selama 4 tahun. Pendapat ini berdalil pada fakta bahwa selain dalam kitab al-Muwaththa’ imam Syafi’i  hanya meriwayatkan dari Imam malik pada tiga perantara saja. Ini menunjukkan bahwa waktu mulazamah Imam Syafi’i  dengan Imam Malik tidak berlangsung lama.

Dalam periwayatan lain bahkan disebutkan, Muslim Ibn Khalid, salah seorang guru Imam Syafi’i  saat di mekkah memberikan izin fatwa kepada Imam Syafi’i  saat imam Syafi’i  berusia 15 tahun hal ini tentu saja berindikasi bahwa pada usia tersebut beliau masih di Mekkah, jika menggabungkan keterangan ini dengan pendapat al-Kautsary di atas berarti Imam Syafi’i  hanya membersamai Imam Malik selama dua tahun saja.

Jika memperhatikan berbagai riwayat tersebut, ada kemungkinan memang Imam Syafi’i  bersamam Imam Malik hingga Imam Malik wafat, tetapi dalam rentang waktu tersebut, imam Syafi’i  tidak terus menerus berada di Madinah, melainkan sempat kembali ke mekkah atau berpindah ke kota yang lain lagi sebelum kemudian sempat kembali lagi ke Madinah.

3. Periode Yaman

Setelah bermulazamah di Madinah pada Imam Malik, Imam Syafi’i  telah menyerap wawasan fikih Mazhab Madinah. Saat itu beliau telah menjadi salah satu ulama yang sangat alim dalam bidang fikih. Setelahnya, Imam Syafi’i  sempat bermajelis Bersama para ulama besar Yaman hingga kecerdasan Imam Syafi’i tersiar disana. Imam Syafi’i sempat ditimpa tuduhan serius karena dituduh hendak memberontak pada daulah Abbasiyah dan memberikan dukungan pada kelompok ‘Alawiyin. Tuduhan ini ditenggarai muncul dari kesalahpahaman terhadap syair dan perkataan imam Syafi’i  yang berisi pujian-pujian kepada ahlul bait.

4. Periode Baghdad

Riwayat yang beredar sepakat bahwa Imam Syafi’i  pergi ke Baghdad pada tahun 184 H (34 tahun). Namun ada perbedaan riwayat apakah Imam Syafi’i  pergi ke Baghdad dari Yaman atau dari Mekkah. Karena ada yang mengatakan bahwa Imam Syafi’i  sempat kembali ke Mekkah dan membersihkan tuduhan-tuduhan yang diarahkan kepada beliau.

Selama di Iraq, Imam Syafi’i  bermajelis Bersama ulama besar di sana yaitu Syaikh Muhammad al-Syaibany. Beliau belajar, mengambil riwayat, berdiskusi dan berdebat Bersama guru besar mazhab Hanafi tersebut. Sebagian diskusi Imam Syafi’i  dengan Imam Muhammad Ibn Hasan sempat dihadiri oleh khalifah Harun al-Rasyid. Imam Syafi’i  berada di Baghdad selama dua tahun tetapi ada juga yang mengatakan belau di sana selama lima tahun hingga Muhammad al-Syaibany wafat pada tahun 189 Hijriah.

5. Periode Mesir

Sebelum pergi Mesir, Imam Syafi’i  sempat kembali ke mekkah selama sekitar 9 tahun.  Di sana beliau mengadakan rekonstruksi wawasan dan metode fiqih beliau berdasarkan ilmu yang telah beliau serap selama ini. Pada masa ini dapat dikatakan Imam Syafi’i  mulai menumbuhkan metodologi fiqih beliau yang mandiri dan beliau mulai menjelma menjadi seorang mujtahid mustaqil.

Setelah pulang ke mekkah, Imam Syafi’i  juga sempat kembali lagi ke Baghdad. Latar belakang perpindahan beliau ke Mesir adalah karena belau menilai bahwa negeri Iraq meskipun memiiliki khazanah keilmuan yang sangat luas dan ulama yang sangat banyak, tetapi Iraq bukanlah daerah yang tepat untuk mengembangkan mazhab fikih beliau, karena wadah dan kesempatan yang terbatas selain karena ada banyak sekali ulama di sana, ia juga merupakan ibukota dan pusat daulah.

Padahal semenjak di Iraq, Imam Syafi’i  sebenarnya sudah lebih fokus untuk mengajar, bukan lagi untuk belajar, tetapi kesempatan untuk itu dapat dikatakan terbatas karena di masjid Agung Baghdad saja ada sepuluh halaqah fikih yang berbeda. Padahal saat itu juga Imam Syafi’i  telah berniat menyebarkan formulasi fikih beliau sendir yang terlepas dari pemikiran mazhab Maliki di Madinah atau Mazhab Hanafy yang telah lebih dulu berkembang di Iraq.

Saat beliau kembali ke Baghdad, keadaan Baghdad juga sudah berubah karena transisi kekuasaan Harun al-Rasyid kepada khalifaj al-Makmun yang terindikasi telah terpapar pemahaman muktazilah.. Hal ini menurut Abu Zuhrah juga patut diperhitungkan sebagai faktor utama perpindahan Imam Syafi’i  ke mesir. Meski demikian, Pondasi mazhab Syafi’I telah terlihat sejak di Iraq, beliau juga telah menghasilkan karya tulis saat berada disana. Hingga  apa yang beliau sampaikan di sana diabadikan sebagai mazhab qadim mazhab Syafi’i .

Pada akhirnya Imam Syafiiy berangkat ke mesir, di sana beliau merasakan bahwa mesir merupakan negeri yang bersahabat untuk mengembangkan dan menyiarkan mazhab fikih beliau. Saat itu dalam diri imam Syafi’i  telah terkumpul wawasan fikih pemikiran Imam Malik, Abi Hanifah, al-Awza’iy dan laitsy. Beberapa punggawa fikih terbesar hingga saat itu. Sehingga saat itu semua ulama mesir sangat tertarik untuk berguru pada imam Syafi’i . Bahkan ulama yang sebelumnya bermazhab Hanafi dan maliki yang kemudian menjadi murid beliau.

Meski imam Syafi’i  hanya berada di mesir selama lima tahun sebelum beliau meninggal, namun rentang waktu tersebut menjadi waktu yang sangat berkah. Selama di sana Imam Syafi’i  sangat produktif dalam menghasilkan tulisan maupun kegiatan pengajaran beliau, yang kemudian menjadi pelopor dan pangkal mazhab fikih beliau yang terus dikembangkan oleh murid-murid beliau seperti muhamma anak beliau, al-Buwaithy, al-Muzany dan lain-lain. (Rudy Fachrudin).