Lima Filosof Muslim yang Wajib Kamu Ketahui

Kamis, 29 November 2018 tokoh 12674 klik
Hilmy Firdausy Teks:Hilmy Firdausy
Vanny Rosa Grafis:Vanny Rosa

Tau gak, peradaban Islam tidak hanya melahirkan para ulama yang pakar di bidang keilmuan saja lho! Ada juga beberapa tokoh, sarjana dan pemikir Muslim yang punya kontribusi besar di bidang ilmu-ilmu pengetahuan eksak dan sosial. Tak tanggung-tanggung, mereka dengan tawaran teorinya, ternyata mampu menjadi sumber inspirasi bagi perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa dan belahan dunia lainnya sampai hari ini.

Kali ini kita akan mengulas lima filosof Muslim besar yang luar biasa. Yuk simak!

1. Al-Kindi

Nama lengkapnya Abu Yusuf Ya’kub bin Ishak Al-Sabbah bin Imran bin Al-Asha’ath bin Kays Al-Kindi. Lahir pada tahun 185 H (801 M) di Kufah. Ayahnya adalah gubernur di Kufah, pada masa pemerintahan Al-Mahdi dan Harun Al-Rasyid dari Bani Abbas. Menurut Ibn Nadim, Al-Kindi mengarang hampir 241 karya dalam bidang filsafat, logika, aritmatika, astronomi, kedokteran, ilmu jiwa, politik, optika, musik, matematika dan sebagainya.

Al-Kindi adalah filosof yang berusa mempertemukan antara agama dan filsafat. Ia berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu tentang kebenaran atau ilmu yang paling mulia dan tinggi martabatnya. Dan agama juga merupakan ilmu mengenai kebenaran, akan tetapi keduanya memiliki perbedaan. Mengenai hakikat Tuhan, Al-Kindi menegaskan bahwa Tuhan adalah wujud yang hak (benar), yang bukan asalnya tidak ada menjadi ada, Ia selalu mustahil tidak ada, Ia selalu ada dan akan selalu ada. Jadi Tuhan adalah wujud sempurna yang tidak didahului oleh wujud yang lain, tidak berakhir wujudNya dan tidak wujud kecuali denganNya.

2. Al-Farabi

Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin Tharkhan. Sebutan Al-Farabi diambil dari nama kota Farab, dimana ia dilahirkan pada tahun 257 H (870 M). Menjelang dewasa al-Farabi meninggalkan negerinya dan pergi ke kota Baghdad, pusat pemerintahan dan ilmu pengetahuan pada masanya, untuk belajar antara lain pada Abu Bisyr bin Mattius. Selama berada di Baghdad, ia memusatkan perhatiannya kepada ilmu logika.

Al-Farabi dikenal sebagai bapak filsafat Islam. Ialah filosof yang pertama kali menegaskan pentingnya logika atau rasionalisme ke dalam Islam. Sebagian besar karangan-karangan Al-Farabi terdiri dari ulasan dan penjelasan terhadap filsafat Aristoteles, Plato, dan Galenius. Meskipun banyak tokoh filsafat yang diulas pikirannya, namun ia lebih terkenal sebagai pengulas Aristoteles.

Gagasanya yang paling terkenal adalah al-madinah al-fadilah. Yaitu gagasan mengena sistem pemerintahan yang menurut al-Farabi harus dipimpin oleh sosok yang memiliki unsur kenabian sekaligus seorang filosof. Gagasan ini sebenarnya ia kembangkan dari Plato yang melihat struktur pemerintahan layaknya struktur anatoni tubuh manusia; otak adalah raja yang menentukan gerak seluruh anggota tubuh.

3. Ibnu Sina

Ibnu Sina dilahirkan dalam masa kekacauan, di mana Khilafah Abbasiyah mengalami kemunduran, dan negeri-negeri yang mula-mula berada di bawah kekuasaan khilafah tersebut mulai melepaskan diri satu persatu untuk berdiri sendiri. Kota Baghdad sendiri, sebagai pusat pemerintahan Khilafah Abbasiyah, dikuasai oleh golongan Bani Buwaih pada tahun 334 H dan kekuasaan mereka berlangsung terus sampai tahun 447 H.

Ibnu Sina memberikan perhatiannya yang khusus terhadap pembahasan kejiwaan, sebagaimana yang dapat kita lihat dari buku-buku yang khusus untuk soal-soal kejiwaan atau pun buku-buku yang berisi campuran berbagai persoalan filsafat. Pengaruh Ibnu Sina dalam soal kejiwaan tidak dapat diremehkan, baik pada dunia pemikiran Arab sejak abad kesepuluh Masehi sampai akhir abad ke-19 Masehi, terutama pada Gundissalinus, Albert the Great, Thomas Aquinas, Roger Bacon, dan Dun Scott. Bahkan juga ada pertaliannya dengan pikiran-pikiran Descartes tentang hakikat jiwa dan wujudnya. Hidup Ibnu Sina penuh dengan kesibukan bekerja dan mengarang; penuh pula dengan kesenangan dan kepahitan hidup bersama-sama, dan boleh jadi keadaan ini telah mengakibatkan ia tertimpa penyakit yang tidak bisa diobati lagi. Pada tahun 428 H (1037 M), ia meninggal dunia di Hamadzan, pada usia 58 tahun.

4. Al-Ghazali

Abu Hamid bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali lahir tahun 450 H di Tus, suatu kota kecil di Khurassan (Iran). Al-Ghazali pertama-tama belajar agama di kota Tus, kemudian meneruskan di Jurjan, dan akhirnya di Naisabur pada Imam al-Juwaini, sampai yang terakhir ini wafat tahun 478 H/1085 M. Selain dikenal sebagai Ulama di berbagai bidang keilmuan, al-Ghazali merupakan garda terdepan di masanya untuk menangkal paham-paham bathiniyah yang sesat.

Banyak sekali karya yang lahir dari fase al-Ghazali sebagai seorang filosof. “al-Munqidz minad Dhalal”, “Mi’yarul Ilmi”, “Maqashidul Falasifah”, “Tahafutul Falasifah” dan karya lainnya. Al-Ghazali dikenal sebagai aktor yang berhasil mengintegrasikan filsafat ke dalam Islam dalam bentuk lahirnya ilmu manthiq. Bagi al-Ghazali, hanya silogisme atau manthiq lah unsur yang bisa diambil dari filsafat Yunani dan diadopsi ke dalam Islam. Selebihnya, menurut al-Ghazali, tidak bisa diadopsi. Oleh karena itu, al-Ghazali mengharamkan filsafat dan mengkafirkan para filosof yang dengan brutal mengadopsi seluruh nilai filsafat Yunani ke dalam Islam yang sebenarnya tidak cocok dan layak.

5. Ibn Rusyd

Abul Walid Muhammad bin Ahmad bin Rusyd, lahir di Cordova pada tahun 520 H. Ibnu Rusyd adalah seorang ulama besar dan pengulas filsafat Aristotelian. Kegemarannya terhadap ilmu sukar dicari bandingannya, karena menurut riwayat, sejak kecil sampai tuanya ia tidak pernah terputus membaca dan menelaah kitab, kecuali pada malam ayahnya meninggal dan dalam perkawinan dirinya.

Karya Ibnu Rusyd meliputi berbagai ilmu seperti: fiqih, ushul, bahasa, kedokteran, astronomi, politik, akhlak, dan filsafat. Tidak kurang dari sepuluh ribu lembar yang telah ditulisnya. Buku-bukunya adakalanya merupakan karangan sendiri, atau ulasan. Karena sangat tinggi penghargaannya terhadap Aristoteles, maka tidak mengherankan kalau ia memberikan perhatiannya yang besar untuk mengulaskan dan meringkaskan filsafat Aristoteles. Buku-buku lain yang telah diulasnya ialah buku-buku karangan Plato, Iskandar Aphrodisias, Plotinus, Galinus, al-Farabi, Ibnu Sina, al-Ghazali, dan Ibnu Bajah.

Ibnu Rusyd adalah tokoh pemikir Islam yang paling kuat, paling dalam pandangannya, paling hebat pembelaannya terhadap akal dan filsafat, sehingga ia benar-benar menjadi filosof-pikiran dikalangan kaum Muslimin. Pada garis besar filsafatnya, ia mengikuti Aristoteles dan berusaha mengeluarkan pikiran-pikirannya yang sebenarnya dari celah-celah kata-kata Aristoteles dan ulasan-ulasannya. Ia juga berusaha menjelaskan pikiran tersebut dan melengkapkannya, terutama dalam lapangan ketuhanan, di mana kemampuannya yang tinggi dalam mengkaji berbagai persoalan dan dalam mempertemukan antara agama dengan filsafat nampak jelas kepada kita.