Kitab-Kitab Ulumul Quran Karya Ulama Nusantara.

Rabu, 28 Agustus 2019 tokoh 146 klik
Faza Grafis:Faza

Keluasan karya tulis ulama nusantara adalah sesuatu yang terkadang tidak diketahui oleh banyak orang. Ada banyak kaum Muslimin di Indonesia termasuk para pelajar Islam yang hanya akrab membaca kitab-kitab para ulama dari berbagai belahan dunia lain, tapi tidak sedikitpun familiar dengan kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama nusantara, padahal seharusnya wawasan terhadap karya tulis para ulama nusantara sangat penting untuk diperkenalkan kepada khalayak luas, khususnya para pelajar Islam mereka. Hal ini menjadi penting untuk memberikan gambaran tentang betapa luasnya keilmuan para ulama kakek-kakek mereka dahulu, hal ini dapat menjadi pelecut semangat para pelajar serta dapat menjadi contoh bagi mereka agar tidak cepat merasa puas diri dan bangga dengan tingkat pengetahuan yang telah mereka capai.

Para ulama nusantara dari berbagai latar waktu yang berbeda telah banyak menelurkan banyak karya-karya tulis dalam berbagai cabang ilmu keislaman, banyak dari karya tulis tersebut yang tidak kalah kualitasnya dibandingkan karya tulis para ulama dan belahan dunia yang lain. Dalam kajian ulumul Quran misalnya, -sebagai sebuah cabang keilmuan yang termasuk lebih terbatas rujukan tulisannya dibandingkan cabang keilmuan yang lain seperti fiqih, akidah dan tasawuf- juga dapat diperoleh kitab para ulama nusantara yang menulis dalam kajian ilmu tersebut. Beberapa kitab tersebut dapat dirangkum sebagai berikut ini:

1. Kitab نَهجُ التَّيسِير شَرح منظومة الزمزمى فى أصول التفسير (Nahj al-Taysir Syarh Manzhumah al-Zamzamy fi Ushul al-Tafsir.

Kitab tersebut ditulis oleh Sayyid Muhsin Ibn ‘Aly Ibn Abdirrahman al-Musawy al-Hadhramy. Ayah beliau merupakan asli Madinah yang kemudian hijrah ke Nusantara tepatnya ke palembang. Beliau dilahirkan pada tahun 1905. Beliau mempelajari Islam pada masa mudanya di Jambi di madrasah Nurul Islam dan madrasah Sa’adatut Darain, kemudian pada tahun 1922, beliau pergi ke Mekkah untuk ibadah haji, kemudian menuntut ilmu di sana selama tujuh tahun. Selanjutnya beliau belajar di hadramaut dan mengajar di sana. Beliau wafat pada usia muda pada tahun 1935 dan dimakamkan di Mekkah.

Kitab tersebut merupakan syarahan untuk nazham al-Zamzamy tentang dasar-dasar ilmu tafsir. Cetakan untuk kitab Syarahan tersebut juga disertai dengan hasyiyah (catatan pinggir) dari dua ulama yang lain yaitu hasyiyah dari Sayyid ‘Alwi Ibn Sayyid ‘Abbas Ibn Abdul Azizi Ibn Muhammad al-Maliki al-Makki al-Hasany yang diberi judul Hasyiyah Faidh al-Khabir, serta Hasyiyah dari Syaikh Ysin al-Fadany yang juga salah satu ulama besar Nusantara. Cetakan kitab tersebut beserta dua hasyiyahnya terdiri 200 halaman yang membahas pokok-poko berkaitan dengan Alquran dan ilmu nya, dimulai dari pembahasan pengantar ilmu tafsir, ayat-ayat nasakh, sejarah penulisan mushaf Alquran, jumlah ayat Alquran dan sebab perbedaan hitungannya, keutamaan sebagian ayat Alquran, syarat-syarat menafsirkan Alquran, Makki madani, Asbabun nuzul, Qiraat, waqaf dan Ibtida’, Gharib, Mu’arrab, Majaz, Mafhum dan Manthuq, Muthlaq dan Muqayyad, Nasakh dan Mansukh, pembahasan tentang Uslub Alquran, serta diakhiri dengan ringkasan beberapa materi yang lain seperti Qasam, Jadal, Gharib, qishash, hukum menghadiahkan bacaan pahala Alquran dan ilmu-ilmu pecahan dari Alquran.

Format penjelasan Syarahan tersebut masih mengikuti pada redaksi dari bait-bait Syair nazhm al-Zamzamy, namun dipisahkan sesuai dengan tema pembahasan dan diberikan judul di atasnya. Pada bagian tertentu, Sayyid Muhsin juga menambahkan pembahasan di luar redaksi nazhm yang berkaitan dengan materi yang sedang dibahas. Dalam memberikan contoh-contoh berupa ayat Alquran, maka biasanya hanya disebutkan penggalan sebagian ayat saja, begitu juga dalam penyebutan hadis-hadis hanya disebutkan bagian yang penting saja serta tanpa menyebutkan sanad.

Jika melihat pada materi-materi yang dibahas dalam kitab tersebut, maka ia tela memuat cukup banyak materi-materi pokok dalam ilmu Alquran, secara garis besar, penyajian materi di dalamnya cukup ringkas dibandingkan dengan kitab-kitab seperti al-itqan dan al-Burhan, sehingga kitab tersebut cukup sesuai untuk pembelajaran tingkat awal ulumul Quran. Ditambah lagi dengan penjelasan dua hasyiyah di bawahnya yang menambah informasi lebih luas serta memuat penjelasan lebih lanjut terkait ayat Alquran dan hadis yang dikutip dalam kitab ini.

2. Kitab المفتاح على تحرير أصول التفسير (al-Miftah ‘ala Tahrir Ushul al-Tafsir)

Kitab tersebut ditulis oleh Miftah Ibn Ma’mun al-Syianjury, seorang ulama asal cianjur. Kitab ini merupakan sajian materi ulumul quran yang sangat ringkas kurang dari 20 halaman. Secara garis besar penulis hanya memuat empat bagian mulai dari masalah yang berkaitan dengan turunnya Alquran, masalah berkaitan dengan sanad dari ayat Alquran,  masalah berkain dengan lafaz dan masalah berkaitan dengan makna, ditutup dengan pembahasan sekilas tentang tafsir.

Materi pembahasan hanya memuat poin paling pentingnya saja seperti definisi, klasifikasi dan contohnya saja. Beberapa materi malah terkesan sangat ringkas, misalnya pembahasan tentang ayat layly dan nahary hanya berisi penjelasan bahwa layly adalah ayat yang turun pada malam hari, sedangkan nahary adalah ayat yang turun pada siang hari. Kebanyakan ayat Alquran turun pada siang hari.

Sajian materi yang teramat singkat barangkali dapat menjadikan kitab ini seperti pengenalan materi untuk orang yang benar-benar baru pertama kali mempelajari Ulumul Quraan. Atau dengan kata lain dapat juga dikatakan bahwa kitab ini tak ubahnya seperti merangkum keseluruhan materi ulumul Quraan agar selesai dibaca sekali duduk. Miftah Ibn Ma’mun al-Syianjury sendiri juga memiliki karya tulis dengan format serupa dalam bidang ilmu hadis dan ilmu nahwu. Artinya beliau memang memiliki keahlian dalam merangkum materi sebuah cabang keilmuan.

3. Kitab موارد البيان فى علوم القرآن (Mawarid al-Bayan Fi ‘Ulum al-Quran)

Kitab tersebut merupakan tulisan Ustadz Dr.Afifuddin DImyathi. Beliau kelahiran Jombang 1979, beliau belajar di Sudan dari jenjang sarjana sampai doktoral. Kitab tersebut terdiri dari 150 halaman lebih dan telah dicetak lebih dari tiga kali oleh penerbit Lisan ‘Araby.

Materi yang disajikan dalam kitab ini tidak jauh berbeda dengan kitab ulumul quran pada umumnya, dibagi menjadi 27 pembahasan. Sisi yang sedikit berbeda dari kitab Ini adalah adalah tujuh pembahasan terakhir lebih diarahkan seputar materi kegiatan penafsiran, mulai dari pengertian dan macam-macam bentuk penafsiran, syarat dan tingkatan para mufassir, dan kitab-kitab tafsir. Keistimewaan dari kitab ini adalah penyajianya yang modern dan mudah dipahami, apalgi dilengkapi dengan tabel atau diagram yang mmudahkan pemahaman.

4. Kitab فتح الخبير شرح مفتاح التفسير (Fath al-Khabir Syarh Miftah al-Tafsir)

Kitab di atas merupakan tulisan dari salah satu ulama nusantara yang paling menduni yaitu Syaikh Mahfuzh Termas, beliau kelahiran tahun 1868. Beliau adalah mahaguru dari banyk ulama nusantara, pakar di banyak keilmua terutama dalam kajian hadis, dan dikenal memang memiliki banyak karya yang mendunia

Kitab ini merupakan kitab yang paling tebal yang disebutkan disini yaitu setebal 780 halaman, ia merupakan Syarahan dari kitab Miftah al-Tafsir yang ditulis oleh Syaikh Abdullah Fudy dari Nigeria (W 1829 M). sesuai dengan kitab matannya kitab Fath al-Khabir memang lebih menekankan pada aspek materi ilmu Alquran yang berkaitan dengan lafazh dan kebahasaan seperti Nahwu, Sharaf dan Balaghah. Hal ini menjadikannya memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh kitab ilmu Alquran pada yang lain. Kitab Ini ditulis  setahun sebelum Syaikh Mahfud Termas meninggal dunia.

Paparan berkaitan dengan beberapa karya tulis dalam bidang ilmu Alquran atau ilmu tafsir  yang ditulis oleh para ulama tanah air di atas diharapkan dapat membuka wawasan berkaitan dengan produktivitas para ulama nusantara, sekaligus dapat memperkenalkan dan menambah rujukan baru bagi para pelajar Alquran. (Rudy Fahruddin)