Ketika Nabi Muhammad Memimpin Kafilah Dagang Khadijah


Awal mula kisah cinta Nabi Muhammad SAW dan Khadijah dimulai dari gerobak-gerobak perdagangan yang bisa digunakan oleh kafilah-kafilah perdagangan. Di waktu itu, masyhur di kalangan orang Arab Mekkah nama seorang pemuda bernama Muhammad. Kejujuran dan kemuliaan ahlaknya diakui dan menjadi buah bibir. Hingga pada akhirnya ia sampai di telinga Khadijah, yang kemudian menjadikan dorongan baginya untuk menguji dengan mengutus anak muda bernama Muhammad ini memimpin kafilah perdagangannya ke Syam.

Untuk merekam apa yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad SAW., sebagaimana yang dikisahkan oleh Ibn Hisyam, Khadijah juga mengutus salah seorang asisten kepercayaannya bernama Maysaroh. Tugas utama Maysaroh dalam kafilah perdagangan yang dipimpin oleh Nabi ke Syam adalah merekam sekaligus melaporkan setiap kejadian dan peristiwa yang dilakukan serta dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Singkat cerita, berangkatlah Nabi Muhammad SAW., Maysaroh berserta rombongan kafilah perdagangan ke Syam.

Setibanya di Syam, Nabi Muhammad SAW. duduk di bawah sebuah pohon hanya sekedar untuk beristirahat sebelum membuka lapak dagangannya. Tiba-tiba, ada seorang Rahib yang datang bertanya kepada Maysaroh, “siapa yang duduk di bawah pohon itu?” Maysaroh menjawab ala kadarnya, “dia laki-laki Quraiys yang berasal dari Tanah Haram”. Setelah diam sejenak, sang Rahib menimpali jawaban Maysaroh, “dia bukan manusia biasa. Dia adalah Nabi!”

Kejujuran Nabi dalam berdagang tidak perlu diragukan lagi. Barang dagangan yang dibawanya dari Mekkah dengan cepat terjual habis dan memperoleh keuntungan yang besar. Setelah mendapatkan pengalaman pernyataan seorang Rahib di Syam, Maysaroh, menurut Ibn Hisyam, lagi-lagi mendapatkan penampakan yang tidak biasa dia lihat.

Ketika perjalanan pulang menuju Mekkah, kebetulan cuaca sedang terik-teriknya. Seolah-olah matahari hanya berjarak beberapa jengkal dari kepala. Maysaroh yang merasa kepanasan lalu melihat dua malaikat yang menaungi Nabi Muhammad yang tengah menaiki untanya. Nabi Muhammad tidak terlihat kepanasan seperti anggota rombongan yang lain. Untuk kesekian kalinya, lagi-lagi, Maysaroh menyaksikan sesuatu yang tidak biasa dari diri Muhammad.

Setelah tiba di Mekkah, langsung saja Maysaroh melaporkan apa yang dilihat dan dialaminya selama berada dalam rombongan kafilah perdagangan yang dipimpin oleh Muhammad kepada Khadijah. Maysaroh melaporkan kejadian yang dialaminya ketika bertemu dengan seorang Rahib yang menyatakan bahwa Muhammad adalah seorang Nabi. Maysaroh juga mengisahkan bagaimana malaikat menaunginya dari terik dan panas matahari ketika berada dalam perjalanan pulang menuju Mekkah. Mendengar apa yang diceritakan oleh Maysaroh, sontak Khadijah kaget. Lambat laun, sedikit demi sedikit mulai tumbuh rasa kagum yang kelak akan berbunga dan melahirkan rasa cinta kepada Muhammad.

Kekaguman dan kebahagiaan Khadijah bukan hanya karena keuntungan yang didapat dari perdagangan yang dipimpin Nabi Muhammad SAW sangat besar. Kebahagiaan Khadijah juga lahir dari penantian yang selama ini dialaminya; mencari sesosok laki-laki yang akan menjadi suaminya kelak. Pelan-pelan, gambaran itu terlihat dalam diri Nabi Muhammad SAW dengan seluruh sifat-sifat terpuji yang diperlihatkannya dan masyhur di kalangan orang Arab Mekkah.