Keberanian Imam An-Nawawi Dalam Mengkritik Penguasa

Sabtu, 7 Desember 2019 tokoh 113 klik
Ida Mahmudah Teks:Ida Mahmudah
Faza Grafis:Faza

Dalam salah satu Syarh kitab Riyadhus Shalihiin yakni kitab Nuzhah Al-Muttaqin tepatnya pada muqadimah (pengantar kitab Nuzhah Al-Mittaqin Syarh Riyadhus Shalihiin karya DR. Musthafa Sa’id Al-Khin,et.ali, Jld. I, tentang biografi Imam An-Nawawi) diceritakan sebagai berikut:

لما ورد دمشق من مصر السلطان الملك الظاهر بيبرس بعد قتال التتار وإجلائهم عن البلاد زعم له وكيل بيت المال أن كثيرا من بساتين الشام من أملاك الدولة فأمر الملك بالحوطة عليها اي بحجزها وتكليف واضغي اليد علي شيء منها إثبات ملكيته وإبراز وثائقه فلجأ الناس الي الشيخ في دار الحديث ...الخ (مقدمة نزهة المتقين شرح رياض الصالحين)

Kisahnya, suatu ketika seorang sultan dan raja, bernama Az-Zhahir Bybres datang ke Damaskus. Beliau datang dari Mesir setelah memerangi tentara Tartar dan berhasil mengusir mereka. Saat itu, seorang wakil Baitul Maal mengadu kepadanya bahwa kebanyakan kebun-kebun di Syam masih milik negara. Pengaduan ini membuat sang raja langsung memerintahkan  agar kebun-kebun tersebut dipagari dan disegel. Hanya orang yang mengklaim kepemilikannya di situ saja yang diperkenankan untuk menuntut haknya asalkan menunjukan bukti, yaitu berupa sertifikat kepemilikan.

Akhirnya, para penduduk banyak yang mengadu kepada Imam An-Nawawi  di Dar Al-Hadits. Beliau pun menanggapinya dengan langsung menulis surat kepada sang raja. Sang Raja gusar dengan keberaniannya ini yang dianggap sebagai sebuah kelancangan. Oleh karena itu, dengan serta merta dia memerintahkan bawahannya agar memotong gaji ulama ini dan memberhentikannya dari kedudukannya. Para bawahannya tidak dapat menyembunyikan keheranan mereka dengan menyeletuk: “Sesungguhnya, ulama ini tidak memiliki gaji dan tidak pula kedudukan, paduka”.

Menyadari bahwa hanya dengan surat saja tidak mempan, maka Imam An-Nawawi langsung pergi sendiri menemui Sang Raja dan menasihatinya dengan ucapan yang keras dan pedas. Rupanya Sang Raja ingin bertindak kasar terhadap diri beliau. Namun Allah telah memalingkan hatinya dari hal itu, sehingga selamatlah Syaikh yang ikhlas ini. Akhirnya, Sang Raja membatalkan masalah penyegelan terhadap kebun-kebun tersebut, sehingga orang-orang terlepas dari bencananya dan tentram kembali. (Idah Mahmudah)