Imam Tirmidzi: Ahli Hadis Dari Lembah Sungai Amudarya

Kamis, 31 Januari 2019 tokoh 241 klik

Imam Tirmidzi adalah perpaduan seorang mujtahid dengan pengetahuan yang mendalam terhadap fiqih dan seorang muhaddis terkemuka. Kitabnya, Sunan Tirmidzi, sangat kental dengan aroma fiqih; salah satu kitab hadis yang diakui otoritasnya oleh para ulama. Lalu, siapakah Imam Tirmidzi?

Nama lengkapnya adalah Muhammad bin ‘Isa bin Saurah bin Musa al-Sulami al-Tirmidzi. Beliau dinisbahkan ke daerah asalnya, Tirmidz, yang berada di sekitar lembah sungai Jihun atau Amudarya yang hari ini berada di kawasan Uzbekistan dan dilahirkan di sana tahun 209 hijriyah.

Imam Tirmidzi adalah seorang muhaddis yang buta. Namun para ulama berdebat soal kapan Imam Tirmidzi mulai mengalami kebutaan. Beberapa di antaranya mengatakan bahwa Imam Tirmidzi mengalami buta sejak kecil. Namun pendapat yang masyhur mengatakan bahwa beliau buta di masa tuanya. Kebutaan yang dialami Imam Tirmidzi disebabkan oleh mata beliau yang senantiasa mengeluarkan air mata karena kerendahan hati, wara’ dan sifat zuhudnya.

Sejak kecil Imam Tirmidzi sudah memperlihatkan minatnya pada bidang-bidang ilmu keislaman, khususnya fiqih dan hadis. Beliau tercatat pernah merantau ke Khurasan, Iraq dan Hijaz. Guru-guru beliau, antara lain: Muhammad ibn Basyar Bundar (167-252 H), Muhammad ibn Al-Mutsanna Abu Musa (167-252 H), Ziyad ibn Yahya Al-Hassani (w. 254 H), Abbas ibn Abdul ‘Azhim Al-‘Anbari (w. 246 H), Abu Sa’id Al-Asyaj Abdullah ibn Sa’id Al-Kindi (w. 257 H.), Abu Hafsh ‘Amr ibn ‘Ali Al-Fallas (160-249 H), Ya’qub ibn Ibrahim Al-Dauraqi (166-252), Muhammad ibn Ma’mar Al-Qaisi Al-Bahrani (w. 256 H), dan Nashr ibn ‘Ali Al-Jahdhami (w. 250 H). Selain nama-nama di atas, Imam Tirmidzi juga belajar kepada Imam al-Bukhari, Imam Muslim dan Imam Abu Dawud.

Sedangkan murid-muridnya antara lain: Makhul bin al Afdhal, Muhammad bin Mahmud Anbar, Hammad bin Syakir, Abd bin muhammad al-Nafsiyyun, al-Haisam bin Kulaib al-Syasyi, dan Ahmad bin Yusuf al-Nasafi, Abi al-Abbas al-Mahbubi Muhammad bin Ahmad bin Mahbub al-Marwazi, dan lain-lain.Bermodalkan kealiman dan pengetahuan yang mumpuni di berbagai bidang keilmuan, Imam Tirmidzi menghasilkan beberapa karya yang dirujuk hingga hari ini: Kitab ‘Ilal, Kitab Tarikh, Kitab al-Sama`il al-Nabawiyyah, Kitab al-Zuhud, Kitab al-Asma’ wa al-Kuna, Kitab al-‘Ilal al-Kabir, Kitab al-Asma’ al-Sahabah dan Kitab al-Asma’ al-Mauqufat. Dari seluruh karya yang ditulis Imam Tirmidzi, tentu saja Sunan Tirmidzi merupakan karya yang paling monumental. Kitab hadis yang berisi hampi 4000 hadis ini berisi hadis-hadis sahih, hasan, dha’if dan gharib yang membahas bab-bab fiqih secara sistematis.

Ada perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai kapan tepatnya Imam Tirmidzi wafat. Al-Sham’ani dalam kitabnya al-Ansab menuturkan bahwa beliau wafat di desa Bugh pada tahun 275 H. Pendapat ini diikuti oleh Ibn Khallikan. Sementara yang lain mengatakan beliau wafat pada tahun 277 H. Sedangkan pendapat yang mu’tabar adalah sebagaimana dinukil oleh al-Mizzi dalam al-Tahdzib bahwasanya Imam Tirmidzi wafat di daerah Tirmidz pada malam Senin 13 Rajab 279 H. Beliau wafat pada usia 70 tahun dan dimakamkan di Tirmidz, Uzbekistan.