Imam Syafi’i: Sang Perumus Ushul Fiqih

Jumat, 8 Februari 2019 tokoh 739 klik

Siapa di antara kita yang tidak mengenal Imam Syafi’i? Sebagai madzhab terbesar yang dianut mayoritas oleh umat Islam Indonesia, nama Imam Syafi’i sangat popular di telinga orang Indonesia. Tapi tidak semuanya tahu biografi dan biodata beliau…

Nama lengkap Imam Syafi’i adalah Abu Abdullah Muhammad bin Idris Al-Syafi’i. Beliau lahir di daerah Gaza Palestina pada tahun 150 Hijriah (767 M). Imam Syafi’i merupakan salah seorang keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur ayah. Dirawat sendiri oleh sang Ibu selama 2 tahun setelah sang ayah meninggal dunia setibanya mereka di Gaza. Setelah itu, Imam Syafii dan ibunya kembali lagi ke Mekkah, kota asal mereka.

Meskipun hidup dalam serba kekurangan, Imam Syafi’i tidak malas belajar. Di usia 9 tahun, beliau sudah lancar dan hafal seluruh ayat dalam al-Qur’an. Di usia yang cukup beliau juga Imam Syafi’i menghafalkan kitab al-Muwatha’ karangan Imam Malik bin Anas. Kitab yang populer di masanya itu berisi sekitar 1.720 hadis. Kepada Imam Malik, Imam Syafi’i mempelajari hadis, membaca dan menghatamkan al-Muwattha’.

Selain itu, Imam Syafi’i juga menekuni bahasa dan sastra Arab di dusun badui Bani Hundail selama beberapa tahun. Sekembalinya ke Mekkah, beliau juga belajar fiqh kepada seorang ulama besar saat itu bernama Imam Muslim bin Khalid Azzanni. Banyak lagi guru-guru yang ditemui oleh Imam Syafi’i untuk belajar berbagai bidang ilmu pengetahuan. Imam Syafi’i merantau ke Mekkah, Madinah, Mesir, Yaman dan Irak untuk belajar.

Di usia 15 tahun, Imam Syafi’i sudah diamanati untuk menjadis seorang mufti. Kecerdasan dan pengetahuannya di berbagai bidang hukum menjadikannya sebagai ulama muda yang diperhitungkan kala itu. Posisi mufti menunjukkan bahwa Imam Syafi’i telah diakui sebagai salah satu ulama yang pakar dan alim di bidang hukum Islam.

Banyak karya yang lahir dari tangan beliau; di dalam bidang Ilmu Hadis, karya beliau berjudul “Ikhtilaf al-Hadis” merupakan kitab pionir yang mengawali ilmu mukhtalif al-hadis. Dalam Ushul Fiqh, kitab “al-Risalah” tak perlu dipertanyakan lagi. Sebagai salah seorang perumus Ushul Fiqh dan kaidah-kaidah hukum Islam, kitab “al-Risalah” beserta Imam Syafi’i adalah rujukan wajib yang harus dibaca dan dipelajari. Kitab fiqihnya berjudul “al-Umm” juga menjadi landasan yang dirujuk kitab-kitab fiqih yang ditulis setelahnya.

Dalam tangga Mujtahid, Imam Syafi’i termasuk salah satu seorang Mujtahid Mutlak. Yaitu Mujtahid yang mampu menggali hukum Islam dari sumber-sumber utama, al-Qur’an dan Hadis, dengan menggunakan metode yang dirumuskannya sendiri berdasarkan kasus-kasus maupun teori yang telah terjadi. Bahkan, apa yang hari ini kita kenal dengan nama Ushul Fiqih, adalah hasil rumusan Imam Syafi’i sendiri.Produk-produk hukum Imam Syafi’i dan hasil penelitiannya kemudian dibubukan dan diikuti oleh umat Islam. Madzhab Syafi’i hari ini adalah madzhab fiqih yang diikuti oleh mayoritas umat Islam di Indonesia dan Asia Tenggara. Keunikan Madzhab Syafi’i sendiri terletak pada posisinya yang selalu mengetengahi antara Madzhab Malik dan Madzhab Hanafi yang seringkali bertolak belakang. Karakter moderasi dan tawassuth inilah yang menjadikan Madzhab Syafi’i dijadikan Madzhab inti di Indonesia.

Imam Syafi’i wafat pada hari Jum’at menjelang subuh pada bulan Rajab tahun 204 Hijriyah. Beliau meninggal dunia di Mesir pada usia 52 tahun dan dimakamkan di sana.