Imam Malik: Guru Para Imam Madzhab

Kamis, 31 Januari 2019 tokoh 78 klik

Madzhab Malik adalah salah satu Madzhab fikih paling tua disbanding madzhab-madzhab yang lain. Dipelopori oleh Imam Malik, salah seorang faqih sekaligus muhaddis ternama yang menulis kitab terkenal berjudul al-Muwattha’, salah satu kitab hadis tua yang ditulis jauh sebelum kitab hadis lainnya seperti Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim lahir. Siapakah beliau?

Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin Haris bin Gaiman bin Kutail bin Amr bin Haris Al-Asbahi. Beliau lahir di Madinah pada tahun 93 hijriyah atau 714 M.

Imam Malik belajar hadis kepada ayah dan paman-pamannya. Beliau juga berguru ke beberapa ulama terkenal di masanya, yaitu: Nafi’ bin Abi Nuaim, Ibnu Syihab Al-Zuhri, Abu Zinad, Hasyim bin Urwa, Yahya bin Said Al Anshari, Muhammad bin Munkadir, Abdurrahman bin Hurmuz dan Imam Ja’far Al-Shadiq. Melalui guru-gurunya ini, Imam Malik menempa seluruh kemampuannya di berbagai bidang keilmuan Islam, khususnya fiqih dan hadis.

Maka tidak heran jika kemudian Imam Malik menjadi salah satu ulama yang diakui di masanya. Beberapa khalifah Islam menjadi muridnya; Al Mansur, Al Mahdi, Harun Arrasyid dan Al Makmun adalah empat khalifah yang pernah berguru kepada Imam Malik. Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’I, yang kelak membangun madzhabnya masing-masing juga pernah menimba ilmu dari Imam Malik. Selain itu, Sufyan al-Tsauri, al-Auza’I, Sufyan bin ‘Uyaynah, Ibn al-Mubarak dan beberapa tokoh terkenal lain juga merupakan muridnya. Konon menurut sebuah riwayat, murid Imam Malik berjumlah ribuan dan seluruhnya menjadi ulama yang dirujuk keilmuannya oleh banyak orang.

Madzhab fiqihnya, berbeda dengan madzhab Hanafi, memberikan porsi yang luas bagi riwayat dan hadis Nabi. Imam Malik juga memasukkan tradisi dan kebiasaan masyarakat Madinah (amal ahl al-madinah) sebagai salah satu sumber hukum. Menurutnya, apa yang dilakukan dan ditradisikan oleh orang Madinah adalah apa yang dulu dilakukan oleh Rasulullah SAW.Selain madzhab fiqih yang kini banyak dianut di derah Timur Tengah dan Maghrib itu, Imam Malik juga terkenal melalui karyanya berjudul al-Muwattha’. Kitab hadis pertama ini disusun dari 100.000 hadis yang dihafal oleh Imam Malik. Namun seluruh hadis itu tidak dimasukkan semua. Ada proses seleksi ketat yang dilakukan Imam Malik. Dan para peneliti berbeda pendapat soal jumlah pasti hadis yang terdapat dalam al-Muwatta’. Perbedaan ini muncul karena al-Muwatta’ tidak hanya memuat hadis-hadis marfu’ saja, tapi juga atsar sahabat dan fatwa para tabi’in.

Dinamakan kitab al-Muwatta’, yang berarti “tersetujui”, karena Imam Malik menyerahkan kitabnya tersebut kepada 70 orang ahli fiqih Madinah untuk diuji. Seluruhnya menyepakati dan mengiyakan apa yang ditulis Imam Malik dalam al-Muwatta’. Oleh karena itulah, Imam Malik kemudian menamakannya al-Muwatta’. Menurut Imam Syafi’i, kedudukan al-Muwatta’ berada di bawah al-Qur’an.

Imam Malik wafat di Madinah pada hari Minggu 10 Rabi’ul Awwal 179 H. atau 800 M, setelah menderita sakit selama 20 hari.