Imam Ibnu Majah: Sang Muhaddis Irak

Senin, 4 Februari 2019 tokoh 103 klik

Kitab terakhir yang oleh para ulama dimasukkan ke dalam Kutubus Sittah adalah Kitab Sunan Ibnu Majah. Kitab ini disusun oleh seorang muhaddis kenamaan asal Irak. Siapakah dia?

Nama lengkapnya adalah Abdullah Muhammad bin Yazid bin Majah ar-Rabi’i Al-Qazwini. Ulama asli Qazwin Irak ini lahir pada tahun 209 H/824 M. Dalam literatur hadis dan sejarah Islam, beliau lebih dikenal melalui nama kunyahnya yaitu Ibnu Majah. Selain dikenal sebagai seorang Muhaddis, Imam Ibnu Majah juga dikenal dan menghasilkan karya dalam bidang Tafsir al-Qur’an.

Sebagaimana anak-anak di zamannya, Ibn Majah belajar membaca al-Qur’an, menghafal dan mengenal ilmu-ilmu dalam Islam sejak kecil. Namun, di usia 15 tahun dirinya baru benar-benar berangkat untuk berguru. Waktu itu ia pergi belajar hadis kepada Ali bin Muhammad At-Tanafasi. Minatnya pada ilmu hadis kian besar.

Imam Ibn Majah berguru kepada banyak ulama, beberapa di antaranya adalah: Abu Bakar bin Abi Syaibah, Muhammad bin Abdullah bin Numayr, Hisyam bin Ammar, Ahmad bin Al-Azhar dan Basyar bin Adam. Ia merantau dan mengembarai puluhan tempat; Rayy (Teheran), Bashrah, Kufah, Baghdad, Khurasan, Suriah, dan Mesir adalah beberapa nama tempat yang sempat disinggahi oleh Imam Ibn Majah.

Selain karya monumentalnya, Sunan Ibn Majah, Imam Ibn Majah juga menulis beberapa karya dalam bidang Tafsir al-Qur’an, Fiqih dan Tarikh. Ini menunjukkan kepiawaian dan keahlian Imam Ibn Majah di berbagai bidang keilmuan. Namun dari seluruh karya yang ada, Sunan Ibn Majah adalah yang paling bersinar. Kitab yang memuat sekitar 4000 hadis ini masuk dalam jajaran enam kitab hadis (kutubus sittah) yang diakui oleh para ulama.

Sunan Ibn Majah tidak hanya memuat pembahasan mengenai hukum Islam, di dalamnya juga ada pembahasan seputar masalah akidah dan muamalat. Dari sekian banyak hadis yang dimuat, ada beberapa hadis yang menurut sebagian peneliti termasuk dalam jajaran hadis dha’if, bahkan hadis maudhu’. Imam Abul Faraj Ibnul Jauzi mengkritik dan mengatakan bahwa ada sekitar 30 hadits maudhu' di dalam Sunan Ibnu Majah. Pendapat ini disanggah oleh Imam As-Suyuthi.

Al-Dzahabi dalam kitabnya Tadzkiratul Huffadz menggambarkan Imam Ibn Majah sebagai seorang ahli hadis besar sekaligus mufassir kenamaan di masanya. Selain itu, Imam Ibn Katsir, dalam karyanya, Al-Bidayah, mengatakan, "Muhammad bin Yazid (Ibnu Majah) adalah pengarang Kitab Sunan yang masyhur. Kitabnya itu merupakan bukti atas amal dan ilmunya, keluasan pengetahuan dan pandangannya, serta kredibilitas dan loyalitasnya kepada hadits dan usul serta furu’."

Imam Ibn Majah wafat pada tanggal 22 Ramadhan 273 H/887 M dan dimakamkan di tanah kelahirannya, Qazwin, Irak.