Imam al-Nasa’i: Muhaddis dari Khurasan

Rabu, 6 Februari 2019 tokoh 70 klik

Salah satu dari enam kitab hadis yang disepakati oleh para ulama adalah kitab bernama Sunan al-Nasa’i. Judul kitabnya dinisbahkan kepada pengarangnya, yaitu Imam Al-Nasa’i. Siapakah beliau?

Nama lengkapnya adalah adalah Ahmad bin Syu’aib bin Ali bin Sinan bin Bahr. Beliau diahirkan pada tahun 215 hijriah di desa Nasa’, salah satu kota di daerah Khurasan. Namun di kalangan para ulama dan muhaddis, beliau lebih dikenal dengan nama al-Nasa’i, sesuai dengan desa kelahirannya.

Menurut banyak riwayat, di usianya ke 15 tahun, Imam Nasa’i memulai mengembara ke daerah Baghlan untuk belajar kepada salah seorang ulama hadis ternama saat itu, Imam Qutaybah bin Sa’id. Sejak saat itu, kecenderungan dan minatnya kepada ilmu hadis kian tumbuh berkembang. Beliau juga mengembara ke berbagai tempat seperti: Baghdad, Kufah dan Bashrah, Haran, Maushil Syam, Mesir dan wilayah Hijaz untuk berguru kepada banyak ulama.

Di antara para ulama yang menjadi gurunya adalah: Ishaq bin Ibrahim, Hisyam bin ‘Ammar, Suwaid bin Nashr, Ahmad bin ‘Abdah Al-Dlabbi, Abu Thahir bin al-Sarh, Yusuf bin ‘Isa Al-Zuhri, Ishaq bin Rahawaih, Al Harits bin Miskin, Ali bin Kasyram, Imam Abu Dawud, Imam Abu Isa al-Tirmidzi, dan yang lainnya. Dari Imam al-Nasa’i pun kemudian lahir banyak sekali ulama’.

Selain dikenal sebagai salah seorang ulama yang kuat hafalannya, Imam Nasa’i juga dikenal sebagai ulama hadis yang memiliki pemahaman yang mendalam terhadap hadis-hadis Nabi. Ketelitian dan kejeliannya dalam memilah riwayat juga tidak perlu diragukan lagi. Ratusan ribu hadis dihafal dengan baik oleh Imam Nasa’I, berikut dengan pemahaman yang mendalam atas hadis-hadis yang dihafalnya.

Salah satu produk karyanya yang paling besar adalah kitab Sunan al-Nasa’i. Kitab hadis yang berisi sekitar 5700 hadis ini merupakan salah satu kitab dari enam kitab yang mendapat julukan Kutubus Sittah. Jumlah hadis tersebut adalah hasil seleksi ketat yang dilakukan Imam Nasa’I dari ratusan hadis yang dihafal dan didapatkannya dari pengembaraan serta pertemuannya dengan banyak guru.

Dalam kitab Sunan Al-Nasa’I kita tidak hanya akan menemukan kepiawaian dan keahlian Imam Nasa’I di bidang hadis, namun kita juga akan mendapati keahlian Imam Nasa’I di bidang fiqih. Kitab yang disusun berdasarkan bab-bab fiqih ini, selain menyajikan hadis-hadis dengan kualitas baik, juga menyertakan sedikit pemahaman atas hadis yang dicantumkan melalui penempatan bab-babnya.

Menurut Imam al-Dzahabi, Imam al-Nasa’i meninggal di Ramlah; satu daerah di Palestina. Pendapat ini didukung oleh Ibn Yunus, Abu Ja’far al-Thahawi (salah seorang murid al-Nasa’i) dan Abu Bakar al-Naqatah. Imam al-Nasa’i meninggal pada tahun 303 H dan dikebumikan di Bait al-Maqdis, Palestina.