Imam al-Bukhari; Penghulu Para Muhaddis

Rabu, 30 Januari 2019 tokoh 166 klik

Sahih al-Bukhari adalah kitab hadis yang kandungan otoritasnya di bawah al-Qur’an. Hadis-hadis yang terkandung di dalam Sahih al-Bukhari mendapatkan jaminan sahih dan telah diuji banyak pihak. Semuanya tentu berkat sang Pengarang, Imam al-Bukhari, yang mengumpulkan dan menyeleksi hadis-hadisnya. Siapakah beliau?

Nama lengkap beliau adalah Muhammmad bin Ismail bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari Al Ju’fi. Beliau dilahirkan pada hari Jum’at setelah shalat Jum’at 13 Syawwal 194 H di Bukhara (Bukarest). Diasuh oleh Sang Ibu, Imam al-Bukhari sudah menampakkan tanda-tanda bahwa ia akan menjadi ulama besar di masa depan sejak kecil,

Di usia 10 tahun, Imam  Bukhari memulai pengembaraannya mencari ilmu. Beliau merantau dan melakukan pengembaraan ke beberapa wilayah dan tempat. Beliau belajar ke Balkh, Naisabur, Rayy, Baghdad, Bashrah, Kufah, Makkah, Mesir, dan Syam. Maka tak heran jika guru-guru begitu banyak. Di antara mereka yang sangat terkenal adalah Abu ‘Ashim An-Nabiil, Al Anshari, Makki bin Ibrahim, Ubaidaillah bin Musa, Abu Al Mughirah, ‘Abdan bin ‘Utsman, Imam Ahmad bin Hanbal, ‘Ali bin Al Hasan bin Syaqiq, Shadaqah bin Al Fadhl, Abdurrahman bin Hammad Asy-Syu’aisi, Muhammad bin ‘Ar’arah, Hajjaj bin Minhaal, Badal bin Al Muhabbir, Abdullah bin Raja’, Khalid bin Makhlad, Thalq bin Ghannaam, Abdurrahman Al Muqri’, Khallad bin Yahya, Abdul ‘Azizi Al Uwaisi, Abu Al Yaman, ‘Ali bin Al Madini, Ishaq bin Rahawaih, Nu’aim bin Hammad, dan sederet ulama lainnya.

Murid-murid Imam al-Bukhari pun juga tak terhitung banyaknya. Di antara mereka yang paling terkenal adalah Imam Muslim bin Al-Hajjaj Al-Naisaburi, Imam Ibn Khuzaymah pengarang kitab Sahih Ibn Khuzaymah dan beberapa ulama yang termasuk dalam jejeran muhaddis lainnya.

Selain dikenal sebagai ulama yang zuhud, wara’ dan tawadhu’, Imam Bukhari juga dikenal sebagai muhaddis yang ingatannya luar biasa kuat. Kekuatan hafalan Imam Bukhari sudah masyhur dan diakui oleh mayoritas ulama di masanya. Konon beliau pernah berkata, “Aku hafal seratus ribu hadis yang sahih dan dua ratus ribu hadis yang tidak sahih”.

Salah satu kisah yang masyhur, yang membuktikan bahwa ingatan dan hafalan Imam Bukhari benar-benar kuat adalah kisah berikut:

“Suatu ketika Imam Bukhari tiba di Baghdad. Para ulama hadis Baghdad mendengar kabar itu dan berniat menguji kekuatan hafalan Imam Bukhari yang sudah masyhur diceritakan orang-orang. Mereka pun mempersiapkan seratus buah hadis yang telah dibolak-balik isi hadis dan sanadnya; matannya ditukar dengan matan yang lain; sanadnya ditukar dengan sanad yang lain. Kemudian seratus hadis ini dibagi kepada 10 orang yang masing-masing bertugas menanyakan 10 hadis yang berbeda kepada Imam Bukhari.

Setiap kali salah seorang di antara mereka menanyakan sebuah hadis yang telah dirubah kepada Imam Bukhari, Imam Bukhari selalu menjawab, “aku tidak mengetahuinya!” Setelah kesepuluh orang tersebut selesai bertanya, giliran Imam Bukhari yang menjelaskan kepada mereka, “hadis yang kamu baca tadi, bunyinya tidak seperti itu! Yang benar adalah seperti ini.” Beliau mengoreksi seratus hadis yang ditanyakan oleh sepuluh ulama tadi. Seluruh sanad dan matan hadis yang telah dibolak-balik, oleh Imam Bukhari dikembalikan ke tempatnya masing-masing. Para ulama pun geleng-geleng kepala dan benar-benar mengakui kekuatan hafalan dan kehebatan Imam Bukhari dalam hal hadis.

Salah satu karyanya yang paling besar adalah kitab Sahih al-Bukhari. Hampir 16 tahun Imam Bukhari melakukan perjalanan, pergi ke puluhan kota dan bertemu hampir 80.000 perawi untuk menyusun Sahih al-Bukhari. Dari hasil perjalanannya itu, hampir 700 ribu hadis berhasil dikumpulkan oleh Imam Bukhari, namun hanya 7.400 hadis yang lolos seleksi dan beliau tulis di dalam kitab Sahih al-Bukhari. Inilah yang menjadikan Sahih al-Bukhari memiliki nilai kepastian satu tingkat di bawah al-Qur’an. Proses seleksi yang ketat dan kredibilitas Imam Bukhari dalam menghafal hadis adalah beberapa faktor pembentuknya.

Selain membukukan hadis, Imam Bukhari juga dikenal sebagai kritikus hadis. Beliau tidak menerima sebuah periwayatan yang menyimpan keraguan sekecil biji beras sekalipun. Riwayat-riwayat yang beliau terima adalah riwayat yang benar-benar dibawa oleh seorang rawi yang dhabit dan adil.

Imam Al Bukhari wafat pada malam Idul Fitri tahun 256 H. di usia 62 tahun. Jenazah beliau disemayamkan di Khartank, nama sebuah desa di Samarkand (hari ini masuk wilayah Rusia).