Imam Ahmad bin Hanbal: Faqih Muhaddis dari Baghdad

Senin, 11 Februari 2019 tokoh 55 klik

Salah satu madzhab termuda, khususnya dalam jajaran empat madzhab fiqih yang populer, adalah Madzhab Hanbali. Penggagasnya, Imam Ahmad bin Hanbal adalah murid langsung dari Imam Syafi’i. Hari ini, madzhab Hanbali termasuk salah satu madzhab fiqih yang banyak dianut oleh umat Islam dunia. Lalu, siapakah Imam Ahmad bin Hanbal tersebut?

Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Muhamad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdullah bin Hayyan bin Abdullah bin Anas bin ‘Auf bin Qasithi bin Marin bin Syaiban bin Dzuhl bin Tsa’labah bin Uqbah bin Sha’ab bin Ali bin Bakar bin Wail. Imam Ahmad dilahirkan di kota Baghdad pada tanggal dua puluh Rabi’ul Awwal tahun 164 hijriah.

Sejak kecil, Imam Ahmad diasuh oleh sang ibu dikarenakan sang ayah, Muhammad bin Hanbal sudah wafat gugur di medan pertempuran. Tidaknya adanya seorang ayah tidak lalu menjadikan semangat belajar Imam Ahmad menurun. Minatnya untuk belajar ilmu-ilmu keislaman sudah tampak sejak kecil.

Beliau mendapatkan pendidikan pertamanya di kota Baghdad. Saat itu, kota Bagdad telah berubah menjadi pusat peradaban dunia Islam yang penuh dengan beragam jenis ilmu pengetahuan. Di sana tinggal para qari’, ahli hadis, para sufi, ahli bahasa, filosof, dan sebagainya. Di usia 14 tahun, Imam Ahmad sudah mempelajari ilmu-ilmu bahasa Arab dan menjadikan perpustakaan sebagai rumah keduanya.

Pengembaraan mencari ilmu dilajutkan oleh Imam Ahmad dengan merantau ke beberapa tempat; Mekkah, Kufah, Bashrah, Yaman, Tharsus, Wasith, Riqqah, Mesir dan kota lainnya. Di Mekkah, Imam Ahmad bertemu Imam Syafi’i dan menjadi muridnya. Selain Imam Syafi’i, Imam Ahmad muda juga berguru ke beberapa ulama terkemuka di zaman itu, antara lain: Sufyan bin ‘Uyainah, Ibrahim bin Sa’ad, Yahya bin Sa’id al Qaththan, Ismail bin ‘Ulaiyah, Qadli Abu Yusuf

Ali bin Hasyim bin al Barid, Mu’tamar bin Sulaiman, Waki’ bin Al Jarrah, Ibnu Numair, Abu Bakar Bin Iyas, Muhamad bin Ubaid al-Thanafusi, Yahya bin Abi Zaidah, Abdul Rahman bin Mahdi, Yazid bin Harun, Abdurrazzaq bin Hammam Al-Shan’ani, Muhammad bin Ja’far dan lainnya.

Selain dikenal sebagai seorang fakih dan mujthid, Imam Ahmad bin Hanbal juga terkenal sebagai muhaddis yang banyak meriwayatkannya hadis. Beberapa ulama hadis terkemuka tercatat pernah meriwayatkan hadis dari Imam Ahmad. Selain itu, banyak juga ulama seperti kritikus hadis terkenal Yahya bin Ma’in dan Ali Ibn al-Madini yang meriwayatkan hadis dari beliau.Kealiman dan kedalaman ilmu Imam Ahmad banyak diakui oleh para ulama. Kekuatan dan ke-tsiqah-annya dalam meriwayatkan hadis tidak diragukan lagi. Hal ini diakui sendiri oleh sang guru, Imam Syafi’i yang suatu hari menuturkan, “aku melihat seorang pemuda di Baghdad, yang apabila dia berkata; ‘telah meriwayatkan kepada kami...’ maka orang-orang semuanya berkata, ‘dia benar’. Orang-orang pun bertanya, ’siapakah dia?’ Imam Syafi’i menjawab; ‘Ahmad bin Hanbal.’ Maka tidak heran kemudian jika banyak sekali karya yang lahir dari tangan Imam Ahmad bin Hanbal.

Imam Ahmad wafat pada hari Jumat tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun 241 H. Jenazahnya dimakamkan di Baghdad, kota kelahirannya.  Sekitar 800 orang mengiring jenazah Imam Ahmad menuju pemakaman. Satu bentuk kehilangan yang sangat luar biasa akan sosok ulama yang alim dan shalih.