Imam Abu Hanifah: Sang Mujtahid Kufah

Jumat, 25 Januari 2019 tokoh 236 klik
Faza Grafis:Faza

Sebelum Imam Syafii muncul, ada dua Imam besar yang menjadi rujukan; Imam Malik dan Imam Abu Hanifah. Imam Malik khas dengan rujukan riwayatnya, sedangkan Imam Abu Hanifah khas dengan caranya menunjukkan fungsi akal dalam merumuskan hukum Islam.

Nama lengkap Imam Abu Hanifah adalah Nu’man bin Tsabit bin Marzuban. Nama kunyahnya, Abu Hanifah, adalah nama yang lebih populer. Beliau adalah seorang keturunan Persia, bukan Arab. Kakeknya, Marzuban, memeluk Islam di masa Khalifah Umar bin Khattab kemudian hijrah dan menetap di Kufah.

Imam Abu Hanifah lahir di Kufah pada tahun 80 H. atau 699 M. Ayahnya, Tsabit, adalah seorang pebisnis dan penjual sutera di Kufah, maka tidak heran jika kemudian Imam Abu Hanifah juga menjadi seorang pebisnis yang sukses mengikuti jejak sang ayah. Meskipun begitu, Abu Hanifah kecil, sebagaimana kebiasaan keluarga saleh lainnya, menghafal al-Qur’an dan hadis. Beliau hafal al-Qur’an dan hadis dalam usia yang masih tergolong muda.

Di masa remaja, Imam Abu Hanifah mulai menekuni dan belajar ilmu-ilmu agama dari ulama-ulama terkemuka di Kota Kufah. Ia sempat berjumpa dengan sembilan atau sepuluh orang Sahabat Nabi semisal Anas bin Malik, Sahl bin Sa’d, Jabir bin Abdullah, dll. Ketika berusia16 tahun, Abu Hanifah pergi dari Kufah menuju Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Dalam perjalanan ini, ia berguru kepada seorang tokoh tabi’in senior bernama Atha bin Abi Rabah, yang merupakan ulama terbaik di kota Mekah.

Konon, jumlah guru Imam Abu Hanifah sebanyak 4000 orang. Di antaranya 7 orang dari sahabat Nabi, 93 orang dari kalangan tabi’in, dan sisanya dari kalangan tabi’ al-tabi’in. Hal itu tidaklah mengherankan, karena Imam Abu Hanifah telah mengembara dan merantau ke berbagai banyak tempat sejak muda untuk belajar.

Berbeda dengan Imam Malik, Imam Abu Hanifah memberikan porsi akal lebih banyak dalam proses ijtihad. Hal ini menjadi maklum karena di Kufah waktu itu, riwayat-riwayat yang tersebar cenderung telah dirubah, dikurangi dan ditambah-tambahi. Kufah adalah kota politik, yang secara tidak langsung menjadikan fenomena politisisasi hadis-hadis Nabi begitu biasa terjadi. Inilah sebabnya Imam Abu Hanifah menggunakan akal sebagai gantinya.

Model berijtihad Imam Abu Hanifah kemudian diikuti banyak orang, sehingga muncul Madzhab Hanafi yang berporos di Kufah. Dari majelis-majelis dan halaqah pengajian beliau,  lahirlah ulama-ulama besar semisal Abu Yusuf, Muhammad asy-Syaibani, az-Zuffar, dan lainnya. “Fiqh al-Akbar” adalah salah satu kitab monumental karya beliau.

Imam Abu Hanifah beberapa kali ditawari untuk memegang jabatan menjadi seorang hakim di Kufah, namun tawaran tersebut selalu beliau tolak. Beliau kerap dipenjara karena dianggap oposisi oleh pemerintahan Bani Umayyah dan Abbasiyah. Kisah-kisah seputar bagaimana Imam Abu Hanifah disiksa karena tidak mau menuruti kemauan penguasa adalah kisah masyhur yang banyak diceritakan. Integritas dan pendirian beliau dalam satu hal snagatlah kuat. Siapapun tidak akan mampu merubah pendirian yang sejak awal diyakininya benar.

Imam Abu Hanifah wafat di Kota Baghdad pada tahun 150 H/767 M. Di masa Turki Utsmani, sebuah masjid di Baghdad yang dirancang oleh Mimar Sinan didedikasikan untuk beliau. Masjid tersebut dinamai Masjid Imam Abu Hanifah.

Sepeninggal beliau, madzhab fikihnya tidak redup dan terus menjadi Madzhab besar umat Islam hingga hari ini. Saat ini Madzhab Hanafi banyak dipakai di daerah Turki, Suriah, Irak, Balkan, Mesir, dan India.