Hukum Menggunakan Tempat Makan Non Muslim

Selasa, 6 Maret 2018 konsultasi | 218 klik

Admin Harakah yang baik hati, saya punya banyak teman non muslim. Saya sering makan di rumahnya. Namun, saya ragu apakah saya boleh makan dengan wadah yang biasanya teman non muslim saya pakai?  

Dalam masyarakat multikultural seperti Indonesia, perbedaan agama tidak dapat terelakan. Pergualan antara satu komunitas agama dengan yang lainnya adalah sebuah keniscayaan. Pergaulan ini tentu harus selalu dijaga dan dipertahankan agar tidak terjerumus pada konflik.

Bagi masyarakat muslim yang hidup berdampingan dengan non muslim pasti akan banyak persoalan yang dihadapi, terutama berkaitan dengan fikih. Misalnya, bagaimana hukum menggunakan piring, gelas, atau peralatan dapur non-muslim. Kalau ada tetangga non muslim mengajak makan malam di rumahnya, bolehkah kita makan dengan menggunakan tempat makanan mereka, meskipun yang dimakan makanan halal?

Pertanyaan seperti ini pasti muncul dalam konteks masyarakat multikultural. Dalam Fiqhul Manhaji yang disusun oleh Musthafa Bugha dan Musthafa Khin dijelaskan bahwa boleh menggunakan tempat makan milik non-muslim asalkan dibasuh terlebih dahulu, karena dikhawatirkan piring atau tempat makan yang digunakan pernah digunakan untuk bekas khamar, babi, atau makanan yang diharamkan dalam Islam. Kalau piring atau gelas sudah bersih dibolehkan menggunakannya.  

Pendapat ini merujuk pada hadis yang diriwayatkan  Abu Tsa’labah bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Cucilah tempat makannya dan gunakanlah untuk makan” (HR: Bukhari). Hadis ini menunjukan kebolehan makan dengan menggunakan tempat makan non-muslim. Kebolehan ini juga berlaku dalam hal meminjam pakaian non-muslim, sepatu, dan lain-lain.