Tiga Aktivitas Keilmuan Paling Penting Imam Syafi’i

Senin, 20 Januari 2020 nasihat 451 klik
Faza Grafis:Faza

Para ulama adalah orang-orang yang mencintai ilmu pengetahuan, membaktikan hidup mereka di dalamnya. Hal ini pula berlaku pada karakter imam Syafi’i. Beliau pernah berkata, “Sungguh menuntut ilmu itu lebih baik daripada melakukan shalat sunat.”

Berikut adalah tiga aktivitas keilmuan Imam Syafi’i paling penting:

1. Menghadiri majelis kajian

Imam Syafi’i sudah giat menghadiri berbagai halaqah majelis ilmu sejak beliau di Mekah dan masih berstatus sebagai pelajar. Beliau menghadiri majelis Sufyan Ibn ‘Uyainah, imam Ahli Hadis Mekkah, Majelis Muslim Ibn Khalid al-Zanji seorang Faqih negeri Mekkah kala itu, dan lain-lain. Setelah pergi ke Madinah Imam Syafi’i belajar pada Imam Malik dan beberapa ulama besar Madinah yang lain saat itu. Imam Syafi’i juga pergi ke Iraq dan bermajelis bersama Muhammad Ibn Hasan al-Syaibani, Waki’ Ibn al-Jarrah dan beberapa ulama besar yang lain.

Imam Syafi’i terus melanjutkan kegiatan majelis ilmu setelah beliau menjadi seorang guru. Majelis kajian beliau bahkan termasuk sangat digemari dan dinanti-nanti oleh murid-murid beliau yang juga merupakan ulama-ulama besar pada masanya. Ishaq Ibn Rahawaih bercerita, “Suatu ketika saya, Ahmad Ibn Hanbal dan Imam Syafi’i pernah sama-sama sedang berada di Mekkah. Ahmad mengajak dan menyarankan ku agar menghadiri majelis Imam Syafi’i, namun pertama kali aku menolaknya karena alasan Imam Syafi’i tidak jauh terpaut usianya dari kami, apalagi ketika itu ada majelis Sufyan Ibn ‘Uyainah pemuka ahli riwayat pada masa itu. Namun Ahmad meyakinkan ku bahwa jika majelis yang lain masih dapat kita peroleh faidahnya pada momen atau kajian yang lain, tetapi sungguh majelis Imam Syafi’i ini seandainya kita lewati sungguh kita akan merugi dan tidak akan dapat lagi memperoleh kesempatan mengambil faedahya lagi”.

Pengalaman yang sama juga dikisahkan oleh al-Humaidy. Ia berkata, “Suatu ketika aku pernah bersama Ahmad Ibn Hanbal di Mekkah menghadiri majelis Sufyan Ibn ‘Uyainah. Ahmad kemudian berkata kepadaku bahwa di sana ketika itu ada seorang yang bernasab Quraisy yang sangat luas ilmunya dan baik dalam menjelaskan sesuatu, ia adalah Muhammad Ibn Idris al-Syafi’i.” Dan benar saja setelah mengahdiri majelis Imam Syafi’i, al-Humaidi benar-benar takjub pada tingginya ilmu Imam Syafi’i.

Majelis ilmu Imam Syafi’i yang paling berpengaruh tentu setelah beliau pindah ke mesir di bagian akhir hidup beliau. Salah seorang murid penting beliau, Rabi’ Ibn Sulaiman mengisahkan, “Imam Syafi’i sudah memulai kajian beliau sejak selesai shalat subuh, beliau memulai dengan kajian tentang Alquran dan dihadiri oleh para ahli Alquran. Lalu saat matahari terbit, kajian beralih pada pembahasan riwayat dan penafsiran hadis, kemudian sat matahari mulai agak meninggi kajian beralih pada kegiatan muzakarah dan diskusi, kemudian setelah itu kajian beliau beralih pada kajian linguistic dan dihadiri oleh para ahli nahwu, ‘arudh. Syair dan lain-lain. Beliau terus mengajar hingga siang hari.

2. Rajin Menulis

Al-Humaidi pernah bercerita, “Saya pernah pergi ke Mesir bersama Imam Syafi’i, suatu malam aku terbangun dan Imam Syafi’i mendengar suaraku dan memanggilku. Aku melihat beliau di tengah malam itu sedang sibuk dengan tumpukan kertas dan pena. Aku bertanya apa yang sedang beliau kerjakan. Beliau menjawab bahwa beliau sedang mempelajarai makna sebuah hadis. Beliau takut tiba-tiba beliau terlupa dengan apa yang sedang dipikirkan maka beliau selalu menulisnya”. Berdasarkan kisah ini ternyata Imam Syafi’i tidak hanya menulis untuk mengajar atau menulis kitab, tetapi beliau sudah giat menulis sejak beliau belajar agar tidak lupa pada apa yang beliau pelajari.

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Imam Syafi’i membagi waktu beliau menjadi tiga bagian. Bagian pertama beliau menulis, bagian kedua beliau tidur dan bagian ketiga beliau beribadah malam.

3. Berdebat dan berdiskusi

Imam Syafi’i adalah seorang pembicara ulung dalam berdiskusi atau berdebat. Beliau adalah orang yang sangat cerdas, ilmiah namun objektif dan moderat. Beliau pernah berkata, “Setiap berdiskusi, saya tidak pernah bermaksud agar lawan diskusi saya itu terpojok dan kelihatan salah. Saya juga selalu menganggap ilmu yang saya miliki juga tentunya dimiliki oleh orang lain, bukan hanya terbatas pada saya sendiri”. Dalam kesempatan lain, Imam Syafi’i pernah berkata, “saya selalu berdiskusi dalam koridor sebagai bentuk saling nasehat menasehati sesama”.

Imam Syafi’i terlihat sangat berakhlak mulia dalam kegiatan diskusi, padahal beliau diakui sebagai orang yang sangat cerdas dan berkualitas dalam berdiskusi. Ada sebuah kisah menarik saat di Baghdad ketika salah seorang ajudan Harun al-Rasyid berkeinginan menyaksikan diskusi antar Imam Syafi’i dengan Hasan Ibn Ziyad al-Lu’lui’i. Imam Syafi’i berkata sungguh al-Lu’lui belum sampai pada level untuk berdiskusi dengan ku, maka aku akan membawa salah seorang murid ku saja untuk berdiskusi dengannya, tetapi aku tetap akan datang.

Tiba saat majelis diskusi diadakan, al-Lu’lui datang dan membuka diskusi, ”Aku mendengar beberapa pendapat ahli Madinah yang membantah pendapat kami mazhab Hanafi. Hari ini aku hendak membahas beberapa masalah tersebut. Tanyakan lah sesuatu kepada ku!”

Imam Syafi’i kemudian bertanya: “Bagaimana pendapat mu jika ada seorang laki-laki melakukan Qadzf (menuduh perempuan berzina) padahal laki-laki itu sedang shalat?”

al-Lu’lui menjawab, “Tentu saja shalatnya batal.”

al-Syafi’i bertanya lagi, “Bagaimana dengan thaharahnya?”

al-Lu’luiy menjawab,“Thaharahnya tentu tidak masalah, qadzf tidak akan merusak thaharah.”

Imam Syafi’i bertanya lagi, “Lalu bagaimana jika seseorang tertawa saat sedang shalat?”

al-Lu’lui menjawab, “Ia harus mengulangi shalatnya sekaligus thaharahnya juga”.

Imam Syafi’i kemudian berkata, “Jadi menuduh perempuan baik-baik berzina dalam shalat masih lebih ringan daripada tertawa???” Menghadapi reaksi semacam itu, al-Lu’lui terkejut lalu beranjak pergi. Ajudan Harun al-Rasyid seketika tertawa dan mengakui memang al-Lu’lui masih jauh dari level untuk berdiskusi dengan Imam Syafi’i. (Rudy Fachruddin)