Tanda-Tanda Orang Alim yang Harus Kamu Ketahui!


Seorang pencari ilmu dan orang yang berilmu memiliki kedudukan yang istimewa di dalam Islam dan diperlakukan begitu istimewa oleh Allah SWT. Di dalam al-Qur’an, Allah SWT menjamin rejeki dan derajat orang-orang yang mencari ilmu. Di dalam sebuah riwayat Nabi Muhammad SAW juga bersabda bahwa para malaikat membentangkan sayapnya bagi para pencari ilmu sembari mendoakan mereka.

Namun hari ini, agak rumit bagi kita untuk membedakan orang-orang yang benar-benar berilmu dengan mereka yang pura-pura alim padahal bodoh. Di tengah jaman hoax hari ini, banyak orang berebut untuk dikatakan alim dan mendapatkan tempat dalam tatanan sosial. Tak jarang kita temukan, dari mulut orang-orang yang dianggap alim dan dirujuk ilmunya ini kita mendapati banyaknya cacian, hinaan kepada orang lain, ujaran kebencian dan hal-hal tercela lainnya.

Menurut Ibn Hazm, sebagaimana yang dikutip oleh Ibn Muflih dalam al-Adab al-Syar’iyyah, ada tiga ciri utama yang terbenam dalam diri seorang alim;

1. Tidak suka menghina orang yang lebih bodoh

Orang alim mewarisi sifat-sifat ketawadhuan. Dia tidak pernah memamerkan kealimannya. Dia juga tidak pernah menghina dan menertawakan kebodohan orang lain. Apa yang ada di pikiran seorang alim adalah kesadaran bahwa dirinya masih bodoh dan tidak tahu apa-apa.

2. Tidak iri kepada orang yang lebih pintar

Ketika ada orang yang lebih alim dibandingkan dirinya, seorang yang benar-benar alim justru akan termotivasi dan tergerak untuk berguru kepada orang tersebut. Tak ada celah untuk perasaan dengki dan iri hanya karena ada orang yang lebih alim dan banyak jamaahnya dibanding dirinya.

3. Hal-hal duniawi tidak menjadi tujuannya

Orientasi seorang yang alim adalah akhirat dan ridho Allah SWT. Dunia tidak menjadi tujuannya, apalagi melalu praktek-praktek yang menjual keilmuannya demi mendapatkan harta, kuasa dan tahta. Seorang yang alim akan benar-benar menjaga dirinya dari bisikan-bisikan dunia yang fana

Ketika kalian menemukan ketiga sifat tersebut dalam diri seseorang, maka sesungguhnya ialah orang yang benar-benar alim dan berilmu. Sebaliknya, jika kalian masih menemukan seorang alim, ustadz, atau kiai yang suka menghina, merasa iri dan terus menerus mengejar dunia di hadapannya, maka sejatinya ia bukanlah orang yang alim.

Ketiga hal itu juga bisa kita pakai sebagai bahan dan indikator perenungan; apakah ilmu yang kita peroleh selama ini benar-benar telah melahirkan sifat-sifat yang baik dan mencegah kita dari meletakkan dunia di atas segalanya?