Pentingnya Niat dalam Islam


Niat merupakan unsur penting dalam sebuah ibadah. Tanpa niat, sebuah ibadah akan dinilai kurang sempurna, bahkan tidak sah. Suatu hari, seorang pemuda Quraisy datang ke Madinah. Bersusah payah dia mengarungi padang pasir yang tandus dan luas seorang diri. Susah payahnya berakhir ketika dia sampai ke batas kota Madinah. Para sahabat Muhajirin di Madinah sangat mengenal pemuda tersebut. Pemuda Quraisy dari Mekah. Kerabat mereka sendiri.

Pemuda tersebut datang ke Madinah bukan karena mengikuti perintah Allah atau Rasul-Nya. Menyelamat diri dan agama dari intimidasi kaum Quraisy. Pemuda itu, ternyata datang ke Madinah untuk mengejar seorang perempuan yang dicintainya. Rupanya, pemuda tersebut telah melamar si perempuan. Si perempuan itu menolak kecuali jika si pemuda mau berhijrah ke Madinah. Kisah mereka banyak dibicarakan oleh masyarakat Madinah. Si perempuan bernama Ummu Qais. Sedangkan si lelaki dijuluki Muhajir Ummu Qais.

Terjadilah polemik di kalangan sahabat. Mereka saling bertanya apakah pantas seseorang datang jauh-jauh ke Madinah hanya untuk mengejar-ngejar perempuan? Bukan untuk melaksanakan perintah Allah untuk berhijrah ke Madinah? Lalu Rasulullah SAW. naik ke podium dan berpidato,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ، وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Sebuah amal tergantung niatnya. Setiap orang punya  niatnya sendiri-sendiri. Siapa saja yang hijrahnya menuju Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan dan rasul-Nya. Siapa saja yang hijrahnya untuk mengejar dunia yang dia akan mendapatkannya atau untuk mengejar perempuan yang akan dinikahinya, maka hijrahnya adalah untuk perkara yang dia berhijrah untuknya. (HR. Muslim).

Hadis yang diriwayatkan imam Muslim ini merupakan hadis yang sangat penting. Al-Imam Al-Syafi’i (w. 204 H.) mengatakan, “Hadis ini adalah sepertiga ajaran Islam”. Beliau juga pernah mengatakan, “Hadis ini masuk dalam 70 bab fiqih Islam.” (Syarah Shahih Muslim, jilid 13, hlm. 54).

Menurut Imam Al-Nawawi (w. 676 H.), “Dalam hadis ini terdapat dalil bahwa bersuci yang meliputi wudu, mandi, tayamum, tidak sah kecuali dengan adanya niat. Begitupula ibadah shalat, zakat, puasa, haji, iktikaf dan ibadah lainnya.” (Syarah Shahih Muslim, jilid 13, hlm. 54).

Sekalipun Islam memandang penting niat, tetapi tidak demikian dengan sebagian umat Islam. Mereka seringkali menyepelekan ilmu tentang niat dengan alasan yang diada-adakan. Misalnya, ketika ada seorang ulama menyampaikan tata cara niat yang benar menutu syariat, yang terdapat rinciannya di sana, mereka yang memandang niat tidak penting akan mengatakan, “Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkan yang demikian”, “Kita harus mengikuti Rasulullah SAW saja”, “Islam telah sempurna, tidak perlu ditambah-tambahkan lagi” dan lain sebagainya. Sebenarnya, sikap tersebut hanya menunjukkan keterbatasan ilmu mereka. Mereka menyebut perkara agama yang tidak mereka ketahui sebagai bid’ah atau syubhat. Sungguh menyedihkan kondisi umat ini. Bila saja mereka mau membuka kitab-kitab karya ulama-ulama terdahulu dari berbagai mazhab, mereka akan menemukan bahwa keempat mazhab fiqih Islam sepakat tentang adanya tata cara niat (kaifiyatun niyah). Sebagai contoh, Syekh Abdurrahman Al-Jaziri (w. 1360 H.) telah menjelaskan tata cara niat dalam empat mazhab dalam kitab beliau al-fiqh ala al-madzahib al-arba’ah.

Setelah menjelaskan rincian niat dalam mazhab Hanafi, Al-Jaziri mengatakan, “Kesimpulannya, dalam niat shalat fardu harus ada penentuan waktu yang diniati shalatnya. Jika seseorang shalat di dalam waktu, maka niatnya dengan menyebut fardu zuhur, asar dan lainnya.. Jika tidak disebutkan waktu fardunya maka niat shalatnya belum cukup berdasarkan kesepakatan ulama.” (Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba’ah, jilid 1, hlm. 193). 

Ulama Malikiyah punya pendapat senada. Untuk shalat fardu, harus disertakan ketentuan waktunya. Seperti dengan “niat menyengaja shalat zuhur” atau asar dan seterusnya. Bila dia tidak meniatkan fardu yang telah ditentukan waktunya, maka shalatnya tidak sah. (Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba’ah, jilid 1, hlm. 193). 

Mazhab Syafi’i berpendapat, ada tiga unsur yang harus ada dalam niat shalat fardu. Pertama, menyebutkan kefarduan. Kedua, menyengaja melakukan shalat. Ketiga, menentukan waktu shalat yang dikerjakannya seperti zuhur, asar atau lainnya. Ketika syarat-syarat ini tidak terpenuhi, niat shalat menjadi batal, dan batallah shalatnya. (Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba’ah, jilid 1, hlm. 194). 

Ulama Hanabilah mengatakan, dalam niat shalat fardu harus ada ta’yin (menentukan waktunya) seperti dengan cara meniatkan shalat zuhur, atau asar atau maghrib atau jum’ah dan seterusnya. Tidak cukup niat yang hanya menyebutkan fardu saja (saya niat shalat fardu). Selain ta’yin ini tidak wajib ditambahkan apa-apa lagi. (Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba’ah, jilid 1, hlm. 194). 

Perhatikanlah pendapat keempat mazhab tentang keharusan ta’yin (menentukan waktu shalat). Ta’yin adalah bentuk perincian dalam niat. Seandainya ada orang shalat, tanpa terbersit hatinya hendak melaksanakan shalat zuhur, maka berdasarkan keterangan di atas, shalatnya tidak sah. Sungguh malang nasib orang-orang seumur hidup rajin shalat, tapi karena tidak didasarkan pada ilmu yang benar, maka shalat-nya menjadi sia-sia. Ketika mereka disarankan untuk belajar agama lagi, mereka membantah dengan membawa-bawa Rasulullah SAW. yang menurutnya tidak pernah mengajarkan rincian niat tersebut. Menurut mereka, yang harus diikuti adalah Rasulullah, bukan para imam mazhab tersebut. Padahal, mereka adalah orang-orang awam yang tidak mengerti bahasa Arab. Bahasa yang digunakan oleh hadis-hadis Rasulullah SAW. Berbeda dengan para imam mazhab yang selain mengerti bahasa Arab, hafal hadis, juga mengerti maksud-maksud hadis-hadis Rasulullah SAW. (Khoirul Huda)