Pemikiran Imam Ghazali Tentang Hubungan Ulama Dan Penguasa

Jumat, 17 Januari 2020 nasihat 187 klik
Ida Mahmudah Teks:Ida Mahmudah
Faza Grafis:Faza

Imam Ghazali mengatakan bahwa hubungan ulama dengan penguasa adalah ulama sebagai guru dan pengausa sebagai murid. Dengan demikian jika ulama menasihati pada penguasa (pemerintah) dan penguasa mematuhi nasihat tersebut, maka bisa dikatakan wujudnya cinta tanah air dari dua pihak.

  1. Kepatuhan penguasa pada ulama sama seperti kepatuhan murid pada guru. Dengan demikian bisa dianggap cinta tanah air dari pihak penguasa.
  2. Nasehat ulama pada penguasa/pemerintah sama halnya nasihat guru kepada muridnya. Dengan demikian bisa dianggap cinta tanah air dari pihak ulama.

Imam Ghazali menganalisis dan mengkaji secara mendalam tentang posisi ulama dengan penguasa dan akhirnya beliau menyimpulkan hubungan keduanya bagaikan guru dan murid dengan alasan sebagai berikut:

فالفقيه هوالعالم بقانون السياسة وطريق التوسط بين الخلق إذا تنازعوا بحكم الشهوات فكان الفقيه معلم السلطان ومرشده إلى طرق سياسة الخلق وضبطهم لينتظم باستقامتهم أمورهم في النياء .....الخ (إحياء علوم الدين-كتاب العلم الباب الثاني: في فرض العين وفرض الكفاية)

Sulthan atau penguasa tugasnya mengurusi rakyat. Sementara sulthan sendiri untuk mengurusi rakyat membutuhkan sebuah undang-undang. Sedangkan ahli fiqih atau ulama ialah orang yang tahu tentang undang-undang siyasah. Jadi, ahli fiqih atau ulama itu posisinya adalah gurunya sulthan atau penguasa dan tugas guru ialah menjelaskan atau meluruskan murid jika sang murid berjalan tidak sesuai materi undang-undang. (Ihya Ulumuddin; Juz 1, Hal 18)

والملك والدين توأمان فالدين أصل والسلطان حارس ومالا أصل له فمهدوم وما لا حارس له فضائع... (إحياء علوم الدين-كتاب العلم الباب الثاني: في فرض العين وفرض الكفاية)

Kesimpulannya adalah Al-Ghazali mengibaratkan agama atau ulama dan sulthan keduanya adalah sebagai anak kembar. Agama adalah podasi, sulthan adalah penjaganya, sesuatu yang tanpa podasi akan mudah runtuh, dan sesuatu tanpa penjaga akan hilang. Keberadaan sulthan merupakan keharusan bagi ketertiban dunia, ketertiban dunia merupakan keharusan bagi ketertiban agama, dan ketertiban agama merupakan keharusan bagi tercapainya kesejahteraan akhirat. Degan demikian terdapat ikatan erat antara dunia dan agama bagi tegaknya wibawa dan kedaulatan negara melalui kepala negara yang ditaati dan yang mampu melindungi kepentingan rakyat, baik duniawi maupun ukhrawi. (Ihya Ulumuddin; Juz1, Hal 18)

Berpijak dari rumusan Imam Ghazali yang berupa adanya ikatan kuat antara ulama sebagai guru dan penguasa sebagai murid maka adanya sebuah akhlak yang harus dilakukan keduanya sebagai hadits Nabi: “Sesungguhnya saya bagimu adalah seperti orang tua kepada anaknya.” (HR. Abu Daud, An-Nasa’I, Ibnu Majah dan Ibnu Hibbah dari Hadits Abu Hurairah)

Hadits di atas merupakan  salah satu hadits yang menerangkan tentang salah satu akhlak pendidikan terhadap anak didiknya sebagaimana kejelasan bapak pendidikan Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin bab ilmu, yaitu menganggap anak didik seperti anaknya sendiri.

Dalam masalah hadits di atas Imam Ghazali dalam kitabnya berkata:

(والوظيفة الأولى) الشفقة على المتعلمين وان يجريهم مجرى بنيه قال رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم "انما انالكم مثل الوالد لولده" بأن يقصد إنقاذهم من نار الآخرة....الخ (احياء علوم الدين باب علم)

Tugas guru yang ke satu ia hendaknya mencintai muridnya dan guru hendaknya mengasihi anak didiknya dengan memperlakukan mereka sebagai anaknya sendiri, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya saya bagi kamu semua seperti bapak terhadap anaknya,” dan dengan tujuan menyelamatkan murid dari api neraka.

Imam Murtadlo Muhammad bin Muhammad al-Husainy Az-Zubaidy, dalam kitab Al-Ittihaf As-Sadah Al-Muttaqin syarah Ihya Ulumuddin menjelaskan maksud ucapan Imam Ghazali ialah:

(والوظيفة الأولى) من الوظائف السّبعة (الشفقة على المتعلمين) بصرف الهمة على ازلة المكروه عنهم (وان يجريهم مجرى بنيه) في تلك الشفقة (قال رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم "انما انالكم مثل الوالد لولده").....(بأن يقصد إنقاذهم) اي تخلصهم (من) عذاب (نار الآخرة وهو أهم من إنقاذالوالدين ولدهما من نار الدنيا) اي من مشاقها –إتحاف السادة المتقين بشرح إحياءعلوم الدين في باب العلم

 Tugas guru yang ke satu dari tujuh beberapa tugas yang wajib dilakukan oleh guru ialah ia hendaknya mencintai muridnya dengan menghilangkan segala perasaan yang membencinya dan guru hendaknya mengasihi anak didiknya dengan memperlakukan mereka sebagai anaknya sendiri, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya saya bagi kamu semua seperti bapak terhadap anaknya,” dan dengan tujuan menyelamatkan murid dari api neraka. (Al-Ittihaf As-Sadah Al-Muttaqin).

Demikian penjelasan mengenai pemikiran Al Ghazali tentang hubungan yang ideal antara ulama dan umara. Intinya, menurut Al Ghazali, ulama adalah guru bagi para penguasa. Idealnya, ulama memandang para penguasa dengan pandangan kasih sayang. Seperti guru atau orang tua yang menyayangi anaknya. Penguasa menghormati ulama karena pengetahuan mereka yang mendalam tentang aturan kehidupan. (Idah Mahmudah)