Pembagian Ilmu menurut kitab Ta’lim al-Muta’allim

Rabu, 28 Agustus 2019 nasihat 109 klik
Faza Grafis:Faza

Kita boleh jadi teramat sering mendengar istilah dua macam ilmu yaitu ilmu dunia dan ilmu akhirat. Jika ditelisik lebih lanjut, istilah ilmu dunia dan ilmu akhirat itu sendiri masih terkesan bias. Mengingat tidak dijelaskan secara tegas apa yang membedakan antara dua macam kategorisasi tersebut. Jika didasarkan pada materi yang dipelajari dalam  sebuah ilmu, secara kasar dapat disimpulkan bahwa ilmu-ilmu yang berkaitan dengan agama Islam adalah ilmu akhirat, selain dari itu semua disebut dengan ilmu dunia. Masalahnya adalah apakah dikotomi dan pemisahan ini perlu diistilahkan dengan ilmu dunia dan ilmu akhirat? Bukankah cukup dengan menggunakan istilah seperti ilmu agama, ilmu sains atau ilmu sosial?

Kemudian jika berlandasakan pada penggunaan dan pemanfaatan sebuah ilmu, maka istilah dunia dan akhirat juga menjadi tidak terpisahkan dengan tegas, karena ilmu apapun termasuk ilmu agama sendiri adalah sesuatu yang dimanfaatkan sejak di dunia, tanpa harus menunggu akhirat. Dalam kenyataannya, berbagai ilmu sains dan ilmu sosial pun turut berperan dan memiliki kaitan dengan ilmu-ilmu agama. Misalnya kajian fiqih atau kajian hukum berkaitan dengan kehidupan manusia tentu saja akan berkaitan dengan ilmu ekonomi, ilmu medis dan kesehatan, ilmu astronomi dan fisika, dan lain sebagainya. Selain itu, agar dapat memahami dan menerapkan berbagai kajian ilmu agama dalam kehidupan maka seseorang juga dituntut memiliki pemahaman sejarah dan perjalanan sosial kehidupan umat manusia sepanjang lintasan zaman.

Jika melihat pada orientasi seorang pelajar dalam menuntut ilmu, maka tidak juga otomatis kita dapat memastikan bahwa kita seorang pelajar ilmu agama layak mentahbiskan diri sebagai sosok pribadi yang menuntut ilmu atas tujuan akhirat, pun begitu sebaliknya tidak juga otomatis kita dapat menjustifikasi seorang pelajar ilmu yang lain sebagai sosok pelajar yang semata-mata mengejar dunia dan mengabaikan akhirat. Orientasi seseorang dalam menuntut ilmu itu dikembalikan kepada niatnya, dan niat adalah sesuatau yang tersembunyi dan hanya diketahui oleh orang itu sendiri. Dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim sendiri di bagian paling awal dijelaskan bahwa hal paling mendasar dalam menuntut ilmu apapun adalah niat, artinya tidak ada jaminan seseorang layak dikategorikan sebagai penuntut ilmu demi dunia atau demi akhirat hanya berdasarkan jenis keilmuan yang ia dalami, melainkan semua kembali kepada niat seseorang dalam menuntut ilmu. Penulis kitab Ta’lim al-Muta’allim mengutip sebuah ungkapan yang beliau sebut sebagai hadis, namun penulis sendiri belum menemukan sumber atau takhrij hadis tersebut.

كم من عمل يتصوّر بصورة عمل الدنيا ثمّ يصير بحسن النية من أعمال الأخرة, و كم من عمل يتصوّر بصورة عمل الأخرة ثمّ يصير من أعمال الدنيا بسوء النية

Artinya: ada banyak perbuatan yang terlihat merupakan perbuatan dunia, tetapi ia berubah menjadi perbuatan akhirat akibat kebaikan niat dalam melakukannya. Sebaliknya ada banyak perbuatan yang terlihat sebagai amalan akhirat tetapi kemudian berubah menjadi amalan dunia akibat buruknya niat ketika melakukannya.

Terlepas dari kualitas hadis tersebut, kita dapat membuat kesimpulan bahwa tidak boleh menghukumi seseorang atau usahanya dalam menuntut ilmu semata-mata pada apa yang terlihat, tetapi semua itu tetap mengacu pada niat dan orientasi seseorang ketika melakukannya.

Mungkin dalam benak sebagian orang, istilah ilmu dunia dan ilmu akhirat disuarakan atas dasar menyikapi turunnya minat atau keinginan umat Islam dalam mempelajari ilmu agama secara serius, dan juga adanya kesan bahwa pelajar agama itu identik dengan ketertinggalan dan masa depan yang suram. Namun narasi yang lebih bijak untuk dikeluarkan adalah yang bersifat ajakan atau motivasi untuk mempelajari agama, tanpa harus mendiskreditkan dan memberikan justifikasi negatif terhadap pelajar ilmu yang lain.  Dengan demikian, baik ilmu agama maupun ilmu lainnya tetap berada dalam lingkaran yang sama dan dapat sama-sama dipelajari tanpa harus meninggalkan dan merendahkan salah satunya. Tidak perlu memberikan kesan dan gambaran bahwasanya dua ilmu tersebut merupakan perahu yang bergerak ke arah yang berbeda, sehingga untuk mempelajari agama, maka serta merta kita harus meninggalkan ilmu lainnya atas dasar pemisahan dunia dan akhirat.

Hal yang sama berlaku ketika realitas menunjukkan adanya pelangaran nilai Islam dalam proses pembelajaran ilmu tertentu, maka yang perlu diperbaiki hanyalah bentuk pelanggaran tersebut, bukan kemudian sama sekali memberikan kesan agar ilmu tersebut tidak baik untuk dipelajari.

Mungkin sudah saatnya kategorisasi ilmu dunia dan ilmu akhirat yang tidak jelas indikatornya tersebut diganti dengan kategorisasi lainnya yang ditawarkan dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim. Yaitu kategorisasi ilmu berdasarkan manfaat dan kebutuhan terhadap ilmu tersebut. Sebuah ilmu yang merupakan kebutuhan setiap individu maka ia dikategorikan sebagai ilmu fardhu ‘ain , ia mesti dipelajari setiap orang, dan  bagi yang meninggalkan untuk mempelajarinya dianggap berdosa. sedangkan ilmu yang merupakan kebutuhan kolektif maka ia dikategorikan sebgai ilmu Fardhu Kifayah, artinya dalam sebuah ruang populasi masyarakat tertentu harus ada pihak-pihak yang mempelajarinya, seukuran ia mampu menutup kebutuhan masyarakat terhadap ilmu tersebut.

Bagian-bagian tertentu dari ilmu agama yang menjadi kebutuhan setiap individu seperti pemahaman dasar-dasar akidah, fiqih bersuci, ibadah seperti shalat, zakat dan puasa, ilmu tajwid untuk dapat membaca Alquran dengan baik dan benar dan lain sebagainya adalah ilmu yang mesti dipelajari oleh setiap orang. Dalam hal ini kita berkewajiban mendorong siapapun untuk memperlajarinya. Adapula bagian tertentu dari ilmu agama yang menjadi kebutuhan kolektif misalnya memahami seluk beluk akidah secara mendetail, perbandingan agama Islam dengan agama lainnya, perbandigan mazhab-mazhab fikih, ilmu fatwa, ilmu matan dan rijal hadis, ilmu tentang rupa-rupa qiraat Alquran dan lain sebagainya. Dalam hal ini tidak dituntut setiap orang untuk mempelajarinya, tetapi kita semua wajib mempersiapkan dan memberdayakan sejumlah orang tertentu untuk mempelajarinya, dengan ukuran keberadaan mereka dapat menutup kebutuhan masyarakat terhadap ilmu tersebut.

Perbandingan yang sama juga diterapakan pada berbagai cabang keilmuan yang lain. Ilmu fisika, biologi, kedokteran, ilmu media dan komunikasi, ilmu ekonomi, sejarah dan sebagainya tetap diposisikan sebagai ilmu fardhu kifayah mengingat kebutuhan masyarakat terhadapnya juga ada. Seluruh penuntut justru diarahkan nagar memperhatikan niat dan kepedulian mereka terhadap kebutuhan masyarakat pada ilmu yang ia kuasai. Dengan demikian kita telah mengumpulkan semua cabang keilmuan dalam wadah dan lingkaran yang sama, semuanya dipersatukan oleh faktor sama-sama dibutuhkan dan bermanfaat bagi umat manusia, meskipun skala prioritasnya berbeda dimana ilmu fardhu ‘ain tentu saja harus didahulukan daripada ilmu dalam kategori Fardhu kifayah.

Bukannya malah bersemangat untuk membangun dinding pemisah antar para penuntut ilmu, kemudian memberikan justifikasi bahwa salah satu dari mereka lebih baik dan satunya lebih buruk.

Kitab Ta’lim al-Muta’allim sendiri adalah sebuah rujukan yang sangat populer dan banyak dipelajari oleh umat Islam di Aceh dan Indonesia secara umum. Harusnya pola kategorisasi ilmu dengan berdasarkan pada tingkat kebutuhan dan manfaatnya, sebagaimana dijelaskan dalam kitab tersebut sudah lama dihidupkan dan diterapkan dalam atmosfer ilmu pengetahuan umat Islam. Umat Islam Tidak lagi terjebak pada pemisahan dan pembagian ilmu yang bersifat merendahkan salah satunya dan menganggap hanya satu diantaranya yang baik. Pekerjaan berikutnya yang tersisa kemudian justru adalah bagaimana memaksimalkan peradn para pelajar lintas keilmuan terhadap perkembangan dan maslahat agama ini. (Rudy Fachruddin)