Nasehat untuk Para Pelajar Agar Memuliakan Kitabnya

Rabu, 27 Februari 2019 nasihat 369 klik
Ida Mahmudah Teks:Ida Mahmudah
Faza Grafis:Faza

Salah satu wujud penghormatan terhadap ilmu adalah memuliakan kitab, karena itu dianjurkan bagi penuntut ilmu agar tidak memegang dan membawa kitab kecuali dalam keadaan suci. Diceritakan bahwa Syaikh Syamsul Aimmah Al-Hulwani RA perah berkata, “sesungguhnya saya berhasil mendapatkan ilmu ini adalah dengan penghormatan, karena saya tidak pernah menyentuh kertas belajar selain dalam keadaan suci.”

Syaikh Imam Syamsul Aimmah As-Sarkhasi RA, pernah sakit perut pada suatu malam ketika ia tengah serius belajar. Beliau pun berwudlu berulang-ulang hingga 17 kali, karena dia tidak pernah belajar kecuali dalam keadaan suci. Demikianlah, karena ilmu adalah Nur dan wudlu juga Nur, maka Nur ilmu menjadi semakin cemerlang.

Di antara penghormatan wajib kepada kitab adalah tidak menjulurkan kaki ke arah kitab. Hendaklah meletakkan kitab tafsir di atas kitab yang lain dengan niat memuliakan dan tidak meletakkan barang apapun di atas kitab. Syaikh Burhanuddin RA pernah menyitir hikayat dari seorang Syaikh, bahwa pernah ada seorang faqih meletakkan botol tinta di atas kitab kemudian Syaikh itu megingatkan dalam bahasa Persia “Tidak berbuah ilmumu!!” Qadli Imam Besar Fakhruddin yang populer dengan nama Qadli Khan RA, memberi komentar “jika berbuat demikian itu tidak dimaksudkan meremehkan kitab maka tidak mengapa, meskipun lebih baik menghindarinya.”

Termasuk arti memuliakan kitab yaitu menulisnya sebagus mungkin, jangan corat-coret dan jangan pula membuat catatan-catatan yang mengaburkan tulisan kitab, kecuali keadaan terpaksa. Imam Abu Hanifah RA, pernah melihat seorang penulis yang tulisannya kacau, kemudian ujar beliau “jangan bikin kacau tulisanmu, jika kau masih hidup akan menyesal dan jika mati akan dimaki!” Maksudnya, jika kau tua dan matamu rabun maka kamu akan menyesal dengan sendirinya .

Diceritakan dari Syaikhul Islam Muhammad Majduddin Ash-Sharhaki RA, berkata “kami menyesali tulisan kami yang kacau, catatan kami yang tidak lengkap dan pengetahuan kami yang tidak komprehensif.”  Dianjurkan hendaklah format kitab itu persegi empat, sebagaimana format kitab Abu Hanifah RA, karena format demikian lebih memudahkan untuk mengambil, meletakkan dan mengkajinya.

Sebaiknya pula tidak ada warna merah dalam kitab, karena merah itu warna filosof dan bukan warna (simbol) ulama’ salaf, bahkan ada sebagian dari Guru kami yang tidak berkenan naik kendaraan berwarna merah. Warna adalah ekspresi dari citra dan rasa. Mungkin pada saat itu, filosof selalu memilih warna merah untuk mengekspresikan citra-rasa mereka, tapi tidak demikian halnya para ulama salaf. Di Indonesia sendiri, kenyataan sampai sekarang warna merah tidak dipakai untuk mengekspresikan citra-rasa keagamaan atau pendidikan.

Sumber: Kitab Ta’limul Muta’allim karya Syeikh al-Zarnuji