Menurut Imam Ghazali, Penguasa Harus Memperhatikan 10 Hal Ini

Rabu, 1 Januari 2020 nasihat 133 klik
Ida Mahmudah Teks:Ida Mahmudah
Faza Grafis:Faza

Pemimpin yang adil merupakan salah satu dari tujuh golongan yang mendapatkan “tiket khusus” masuk ke dalam naungan Allah, hari di mana tiada naungan selain naungan-Nya. Pemimpin adil adalah pribadi yang mampu mengemban amanah, menunaikan tugas dan kewajiban, memberikan hak-hak kepada orang-orang yang semestinya mendapatkan, memudahkan orang-orang yang sedang kesulitan dan kesusahan, serta menegakkan hukum sama rata tanpa pandang bulu kepada semua golongan. Sejarah membuktikan, banyak bangsa lestari disebabkan oleh karena sikap adil pemimpinnya.

Dalam kitab Tibr Masbuk fi Nashihat al-Muluk (logam emas yang terpahat; nasehat bagi para raja), Imam Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan 10 macam perkara yang dapat membuahkan sikap adil bagi para pemimpin, yaitu;

1. Paham Manfaat dan Bahaya Kekuasaan

Dengan mengetahui manfaat dan bahaya kekuasaan, seorang pemimpin akan memiliki sifat Khauf (ketakutan) dan Raja’ (harapan). Khauf, kalau-kalau ia menjadi pemimpin yang dzalim. Khauf, kalau-kalau ia mendapat laknat. Khauf, kalau-kalau kelak di hari kiamat, Allah tidak berkenan melihatnya. Khauf, kalau-kalau ia dipersiapkan tempat duduk di neraka. Khauf, kalau-kalau Baginda Nabi SAW tidak berkenan memberikan Syafa’at kepadanya.

Pengetahuan mendalam tentang manfaat dan bahaya kekuasaan, yang dikuatkan dengan sikap khauf-raja’, akan mendorong seorang pemimpin menjadi pribadi yang selalu mengintropeksi diri dan teliti dalam setiap perkataan, tindakan maupun kebijakan yang ia tetapkan. Sebab ia tahu betul bahwa segala yang berkaitan dengannya, akan memberikan implikasi baik ataupun buruk terhadap rakyatnya.

2. Selalu Rindu Nasihat Para Ulama

إن يشتاق أبدا إلى رؤية العلماء ويحرص على استماع نصحهم وان يحذر من علماء السوء الذين يحرصون على الدنيا فإنهم يثنون عليك ويغرونك...... الخ

Yang dimaksud ulama di sini adalah ulama yang benar-benar ikhlas, yang tidak berkata dan tidak bertindak kecuali hanya karena Allah SWT semata. Bukan ulama Su’, yang selalu mendekat dan memuji para penguasa hanya karena mengejar-ngejar dunia. Nasehat ulama yang suci hati dan bening fikirannya ini akan menuntun para pemimpin menjadi imam yang adil bagi rakyatnya.

3. Tidak Terima Dengan Segala Macam Bentuk Kedzaliman

الأصل الثالث من ذلك ينبغي أن لاتقنع برفع يدك عن الظلم لكن تهذّب غلمانك وأصحابك وعمالك ونوابك, فلا ترضى لهم بالظلم فإنك تسأل عن ظلمهم كما تسأل عن ظلم نفسك......الخ

Seorang pemimpin harus memiliki sikap ini, dan menanamkannya kepada kepada segenap bawahan, ajudan dan para pembantunya. Pemimpin harus mampu menjauhkan dirinya dan para pembantunya dari perilaku dzalim sekecil apapun. Andaikata ia mampu berlaku adil dan menjauhi kedzaliman, namum ternyata para ajudan dan pembantunya justru bertindak dzalim dan sewenang-wenang, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban dan turut menanggung dosa  atas perilaku dzalim pembantunya, manakala ia hanya mendiamkannya saja.

Di antara contoh seorang pemimpin yang senantiasa berusaha menjauhkan dirinya dan segenap pembantunya dari sikap dzalim adalah Khalifah Umar bin Khattab RA. Khalifah Umar RA merupakan teladan ideal seorang pemimpin yang tidak rela dengan perilaku dzalim sekecil apapun. Beliau senantiasa mengingatkan para pembantunya agar berlaku adil dalam mengemban amanah sebagai pelayan rakyat.

4. Tidak Sombong

الأصل الرابع إن الوالي في الأغلاب يكون متكبرا ومن التكبر يحدث عليه السخط الداعيه إلى الانتقام,...الخ

Pada umumnya, pemimpin seringkali terjangkiti penyakit sombong. Mereka mengira bahwa kekuasaan dan rakyat ada dalam genggamannya, padahal segala kekuasaan mutlak pemberian Sang Maha Kuasa Allah Malikul ‘Alam. Sikap sombong yang muncul dalam diri seseorang bisa mengaburkan akal sehat dalam dirinya. Dan keadilan tidak akan mungkin lahir dari pribadi-pribadi yang hatinya masih diliputi kesombongan.

Pemimpin sudah seharusnya memiliki sifat rendah hati dan berusaha mnejauhkan diri dari kesombongan. Dengan kerendahan hati, seorang pemimpin tidak akan menjelma pribadi yang lemah. Malah, ia akan menjadi pribadi kuat dan pemberani, karena telah mampu menaklukan nafsu dan amarahnya.

5. Merasakan Apa yang Dirasakan oleh Rakyatnya

الأصل الخامس إنك في كل واقعة تصل إليك وتعرض عليك تقدر إنك واحد من جملة الرعية وإن الوالي سواك فكل ما لا ترضاه لنفسك لاترضى به لأحدمن المسلمين,وإن رضيت لهم بما لاترضاه لنفسك فقد خنت رعيتك وغششت أهل ولايتك......الخ

Akar keadilan kelima adalah merasakan apa yang dialami. Yang dimaksud dengan empati terhadap rakyat adalah benar-benar merasakan apa yang dirasakan oleh rakyatnya. Bukan hanya sekedar bersimpati. Pemimpin yang memiliki rasa empati tinggi akan memperlakukan rakyatnya, sebagaimana ia memperlakukan dirinya sendiri. Ia mencintai rakyatnya, sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Jika seorang pemimpin suka melakukan tindakan yang melukai rakyatnya, sementara ia juga merasakan luka yang sama ketika diperlakukan seperti itu, menurut Imam Ghazali, pemimpin demikian termasuk kategori pemimpin khianat yang tertipu oleh kekuasaan.

6. Tidak Pernah Meremehkan Kebutuhan Rakyat

الأصل السادس أن لاتحتقر انتظار أرباب الحوائج ووقوفهم ببابك وأحذر من هذا الخطر, ومتى كان لأحد من المسلمين إليك حاجة فلا تشتغل عن قضائها بنوافل العبادات.....الخ

Tidak pernah meremehkan kebutuhan rakyat meskipun terlihat sepele di mata seorang pemimpin. Kekuasaan bisa menimbulkan sifat takabbur, yang akan melahirkan ketidak pedulian terhadap nasib dan kebutuhan rakyat kecil. Semua kepentingan rakyat, baik yang nampak remeh maupun terlihat berat, harus selalu didahulukan oleh seorang pemimpin. Bahkan, menurut Imam Ghazali, pemimpin tidak diperkenankan menyibukkan diri dengan ibadah Sunnah sampai-sampai lalai pada tugasnya untuk melayani kebutuhan rakyat.

 7. Hidup Sederhana

الأصل السابع أن لاتعود نفسك الاشتغال بالشهوات من لبس الثياب الفاخرة وأكل الأطعمة الطيبة, لكن تستعمل القناعة في جميع الأشياء فلا عدل بلا قناعة...الخ

Seorang pemimpin tidak diperkenankan hidup glamor, foya-foya dan selalu menuruti hawa nafsunya. Sudah semestinya, pemimpin memiliki sifat qana’ah, yakni menerima dengan lapang dada pemberian Sang Maha Kuasa serta tidak berlebih-lebihan dalam men-tasharruf-kannya. Menurut Imam Ghazali, keadilan tidak akan ada manakala seorang pemimpin tidak mempunyai sifat qana’ah. Hidup sederhana yang didasari sifat qana’ah sangat dianjurkan dan diajarkan oleh Rasulullah SAW. Betapa banyak kisah dan teladan kesederhanaan dari Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

8. Lemah Lembut Kepada Siapa Saja

الأصل الثامن إنك متى أمكنك أن تعمل الأمور بالرفق واللطف فلاتعملها بالشدة والعنف.....الخ

Seorang pemimpin yang ideal adalah ia yang mampu bersikap lemah lembut terhadap rakyatnya, tanpa membeda-bedakan pangkat maupun profesinya. Lemah lembut bukan berarti lembek atau tidak tegas terhadap penegakkan hukum. Lemah lembut adalah mengasihi sesama dan berprilaku sopan santun kepada siapa saja.

Tidak kasar, tidak mudah marah, tidak mudah membentak ketika sedang menghadapi rakyatnya.. jika ia melihat kesalahan dan kekeliruan, ia tetap menegakkan hukum setimpal dengan perbuatan pelakunya. Hukuman yang setimpal dengan perbuatan pelaku kejahatan adalah salah satu bentuk ungkapan kasih sayang seorang pemimpin kepada rakyatnya. Sebab, ia telah berusaha untuk berlaku adil kepada rakyatnya, baik kepada korban maupun kepada pelaku kejahatan dengan tidak menghukum melebihi hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.

9. Membahagiakan Rakyat Dengan Hal-Hal Yang Diperbolehkan Aturan Agama

الأصل التاسع ان تجتهد أن ترضى عنك رعيتك بموافقة الشرع....الخ

Senantiasa berusaha membuat rakyat bahagia dan sejahtera, dengan menjalankan peraturan atau kebijakan yang masih tetap berada dalam koridor aturan agama. Tujuan adanya pemimpin adalah untuk mengatur dan melayani kebutuhan rakyat, sehingga seorang pemimpin dituntut mampu membawa kesejahteraan dan kebahagiaan bagi rakytanya. Ketika ia mampu membawa rakyatnya sejahtera, tentu rakyat akan mencintainya.

Saat pemimpin dan rakyat saling mencintai, maka di situlah turun rahmat dan ridha Ilahi. Mereka akan menjadi sebaik-baik kaum, karena pemimpin dan rakyatnya saling mencintai dan saling ridha karena Allah.

10. Tidak Menjual Agama Untuk Mendapatkan Simpati Rakyat

الأصل العاشر إن لا يطلب رضا احد من النّاس بمخالفة الشر ع فإن من سخط بخلاف الشرع لايضر سخطه....الخ

Pemimpin sudah semestinya berjuang untuk rakyat, membangun serta membawa kemajuan bagi bangsanya. Namun ia tidak diperkenankan menerjang aturan agama hanya untuk membuat rakyatnya bahagia dan sejahtera. Jika pemimpin hanya mencari simpati manusia, maka ia tidak akan pernah menemukannya. Setiap perkara, mengandung pro dan kontra. Pun juga sikap, gaya, maupun kebijakan yang lahir dari seorang pemimpin, takkan pernah lepas dari pro dan kontra. Ini sudah menjadi sunnatullah. Karena, setiap kepala tentu berbeda pendapat.

Rasulullah SAW, seorang pemimpin ideal yang mampu adil terhadap siapa pun saja, masih ada yang membenci. Apalagi sekedar manusia biasa? Sudah barang tentu ada yang memuji dan mencaci. Maka seorang pemimpin tidak perlu khawatir kehilangan simpati dari rakyatnya.

Sepuluh akar keadilan yang telah disebutkan di atas, bisa dijalankan oleh pemimpin, siapapun! Bukan hanya terkhusus untuk kepala negara, kepala daerah maupun pejabat-pejabat lainnya. Setiap orang. Berdasarkan kenyataan ini, maka setiap kita harus memiliki 10 akar keadilan yang disebutkan oleh Imam Ghazali, supaya pohon keadilan senantiasa tumbuh-kembang dan kokoh menancap dalam diri.  (Idah Mahmudah)