Mengapa Dilarang Takabur

Selasa, 18 Desember 2018 nasihat 263 klik
Ida Mahmudah Teks:Ida Mahmudah
Faza Grafis:Faza

Takabur menurut pandangan Islam adalah akhlak yang sangat tercela. Islam tidak setuju dengan perilaku takabur atas orang muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat. Apa alasannya? Sebab dampak dari takabur ini akan menimbulkan perbuatan maksiat. Sedangkan perbuatan maksiat hanya akan melahirkan dosa. Dan dosa akan dibalas dengan siksa yang sangat pedih di akhirat nanti.

Orang yang takabbur menganggap orang lain sepele dan tiada artinya samasekali. Ia merasa hebat sehingga tak menutup kemungkinan sering mencibirkan bibir dan menghina orang lain. Akibat lain yang sangat membahayakan ialah orang sombong tidak lagi menghargai dan mengakui kenikmatan Allah yang diberikan kepadanya. Karena sifat takabburnya sehingga ia menganggap kekayaan dan hartanya, dianggapnya bukan karena karunia Tuhan, melainkan atas jerih payahnya sendiri.

Orang yang mempuyai sifat takabur sama halnya dengan kelakuan yang dimiliki iblis. Dimana saja ia berada dan dengan siapa saja ia bergaul, maka kesombongannya dibawa serta, tak pernah ditinggalkan. Sudah menjadi ciri khas orang takabbur, ia selalu mendambakan pujian dari orang lain. Dengan dipuji dan disanjung, ia merasa melebihi dari makhluk. Namun jika ia tidak mendapat penghormatan maupun pujian, ada rasa sakit hati dan benci.

Orang takabbur cenderung gila hormat. Pikirannya selalu mendambakan untuk dihormati orang lain. Sehingga untuk bisa mendapatkan sikap hormat dari orang lain, ia tak segan-segan menceritakan kelebihannya, ilmunya, hartanya, keturunannya, amal ibadahnya dan lain sebagainya. Jika ada orang yang dirasa lebih pintar darinya, lebih kaya, lebih tekun ibadah, lebih terhormat, maka ia akan membencinya. Tak perduli ia saudara atau lawan, jika ia merasa dikalahkan dalam segala hal, maka ia akan menjadi musuh.

Sesunggguhnya takabur atau sombong itu mengakibatkan kerugian di dunia dan di akhirat. Tak ada maslahatnya sama sekali, tak ada keuntungannya sama sekali. Akhlak takabbur ini benar-benar tidak terpuji. Oleh karena itulah islam memandang hina bagi orang yang takabbur. Orang yang demikian ini jika diberi nasehat baik, tidaklah diterima dengan baik. Justru malah sebaliknya, yang memberi nasehat akan dibantah. Lalu terjadilah perdebatan, yang hanya akan meninbulkan bahaya lisan saja. Pada dasarnya, jika ia diingatkan atau diberi nasehat, ia menjadi tersinggung. Ia merasa diremehkan dengan nasehat itu. Karena ia anggap dirinya tak butuh nasehat orang lain.

Orang takabur tak ingin tampil di tengah atau di belakang. Ia selalu ingin di depan. Ia tak mau duduk lebih rendah, tetapi di tempat tinggi, melebihi orang lain. Ia tak mau diremehkan orang lain. Itulah sebabnya, ia memaksakan diri untuk menjadi orang yang kesatu atau nomor wahid. Takabbur yang sudah berurat berakar di dada akan membutakan mata hati dan menutup kebenaran. Rusaklah ibadahnya, amalannya dan diancam oleh Allah bagi mereka yang takabbur.

Orang yang baik dan mulia itu bukan semata mata dalam pandangan manusia saja. Apalah artinya kemuliaan yang diberikan manusia jika Allah memandang hina. Manusia hanya bisa memandang dan menilai dari sisi lahiriyah, dari kenyataan yang tampak oleh mata saja. Namun Allah memandang dan menilai lahir maupun batin manusia. Gejolak hatimu walaupun hanya serambut dibelah tujuh, Allah jelas dapat melihat dan menilainya. Penilaian dalam pandangan Allah dapat kita buktikan kelak di yaumil qiyamat, di hari pembalasan. Di sana nanti ada mizan, semacam timbangan amal yang akan mengukur seberapa jauh kemaksiatan/keburukan manusia yang ditimbulkan oleh kelakuannya, dan seberapa besar amalan baik yang diperbuatnya.

Derajat kemuliaan yang dipuji Allah ialah derajat manusia yang sama sekali tidak takabbur, tetapi tawadlu’ yaitu merendahkan diri terhadap sesama makhluk maupun kepada pencipta (Idah Mahmudah).