Jauhi Ini Ketika Sedang Berwudhu

Selasa, 30 Juli 2019 nasihat 128 klik
Ida Mahmudah Teks:Ida Mahmudah
Faza Grafis:Faza

Jika kebanyakan kita hanya mengenal sunnah-sunnah dalam berwudhu, namun sebenarnya dalam kajian kitab ini juga diterangkan beberapa hal yang harus dijauhi dalam berwudhu. Dalam kitab Maraqi Al-‘Ubudiyyah Syarah Bidayatul Hidayah disebutkan,

Jauhilah tujuh perkara dalam berwudhu:

Janganlah engkau kibaskan kedua tanganmu sampai engkau menciprat-cipratkan air dan jangan mengeringkannya tanpa alasan.

Adapun bila ada alasan kuat, dahulukanlah anggota yang kiri sebelum yang kanan, karena ia menghilangkan bekas ibadah hingga patut memulai dari sebelah kiri supaya bekasnya tetap ada pada anggota yang lebih mulia.

Janganlah engkau pukulkan air ke  wajah dan kepalamu, tetapi engkau ambil air dengan kedua tanganmu dan engkau basuh wajahmu dengan keduanya serta engkau usap kepalamu dengan keduanya.

Jangan berbicara di tengah wudhu tanpa alasan kuat, tatapi hal ini tidak dikatakan makruh, karena Nabi berbicara kepada Ummu Hani pada hari penaklukan kota Makkah di saat sedang mandi sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar.

Janganlah melebihi dari tiga basuhan ketika membasuh dan mengusap dan jangan pula menguranginya. Karena hal itu makruh, kacuali dengan alasan yang kuat. Misalnya karena waktunya sempit sehingga andai kata ia mengerjakan tiga kali, niscaya habis waktunya. Saat itu diharamkan mengerjakan tiga kali. Atau airnya sedikit sehingga tidak cukup bagimu kecuali untuk shalat fardu. Maka hal itu diharamnkan menambahinya. Atau sisa airnya digunakan untuk minum, maka diharamkan atasmu mengerjakan tiga kali. Sedang mendapati shalat jamaah lebih utama daripada berwudhu dengan membasuh tiga kali.

Jangan menuangkan banyak air sehingga melebihi kadar yang cukup bagi anggota, meskipun tidak melebihi tiga kali tanpa keperluan, sekalipun di sungai. Hal itu makruh apabila hanya disebabkan was-was sedang air itu miliknya atau mubah. Apabila diwaqafkan, maka haramlah melampaui batas. Dan orang yang sering was-was, maka memiliki setan yang bernama Walhan.

Janganlah berwudhu dengan air yang terkena sinar matahari. Diriwayatkan dari Aisyah bahwa ketika ia memanaskan ait di sinar matahari untuk Rasulullah maka Beliau berkata: “Janganlah engkau lakukan itu, hai Humaira, karena bisa menyababkan belang.”

Meskipun hadits ini dha’if karena sanadnya lemah, namun ia dikuatkan oleh khabar Umar bahwa ia tidak suka mandi dengan air yang terkena sinar matahari.

Diriwayatkan bahwa Umar berkata: “Janganlah kalian mandi dengan air yang terkena sinar karena bisa menyebabkan belang. Dan janganlah membersihkan makanan di sela-sela gigi dengan bambu, karena bisa membusukan gigi. Ini masyhur dikalangan para sahabat hingga menjadi ‘ijma sukuti.”

Janganlah berwudhu di bejana yang terbuat dari kuningan, keramik atau wadah kulit dan wadah kayu. Diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Abi Hurairah bahwa dihukum makruh memakai bejana kuningan.

Inilah tujuh perkara yang dihukum makruh di waktu berwudhu dan berlawanan dengan yang utama seperti mengibaskan air dan berbicara.

Disebutkan dalam Khabar yang diriwayatkan oleh Abdur Razzaq dan Hasan Al-Kufi:

إنّ من ذكر اللّه عند وضوئه طهّر اللّه جسده كلّه ومن لم يذكر اللّه لم يطهّر منه الّا ما اصابه الماء

“ Sesungguhnya siapa yang menyebut nama Allah di waktu berwudhu, maka Allah menyucikan seluruh tubuhnya. Dan siapa yang tidak menyebut nama Allah, maka tidaklah suci darinya kecuali bagian yang terkena air.”