Ingin Bebas dari Penyakit Stress? Coba Jurus Zuhud Berikut Ini!


Secara bahasa zuhud berasal dari kata zahida, zahada, zahuda-zuhdan yang berarti meninggalkan dan tidak menyukai. Maka ada istilah zahida fi aldunya yang berarti menjauhkan diri dari kesenangan dunia untuk beribadah. Pelakunya dinamakan al-zahid yang berarti orang yang meninggalkan kehidupan dan kesenangan duniawi dan memilih akhirat. Secara etimologis, kata zahada juga berarti raqaba ‘an shay’ wâ tarakahu, artinya tidak tertarik pada sesuatu dan meninggalkannya. Zahada fî al-dunyâ, berarti mengosongkan diri dari dunia.

Adapun arti zuhud secara terminologi harus dilihat dari berbagai definisi yang diungkapkan oleh para sufi. Dalam pandangan kaum sufi, dunia dan segala isinya merupakan sumber kemaksiatan dan kemungkaran yang dapat menjauhkannya dari Tuhan. Karena hasrat, keinginan, dan nafsu seseorang sangat berpotensi untuk menjadikan kemewahan dan kenikmatan duniawi sebagai tujuan kehidupan, sehingga memalingkannya dari Tuhan. Oleh karena itu maka seorang sufi dituntut untuk terlebih dahulu memalingkan seluruh aktifitasnya baik jasmani dan rohaninya dari hal-hal yang bersifat duniawi. Dengan demikian segala apa yang dilakukannya dalam kehidupan tidak lain hanyalah dalam rangka mendekatkan diri pada Tuhan. Perilaku inilah yang dalam terminologi sufi disebut zuhud.

Sikap zuhud yang berarti meninggalkan dunia dan memilih kehidupan akhirat yang langgeng, yang merupakan manifestasi dari ajaran al-Qur’an. Banyak ayat al-Qur’an yang menerangkan tentang pentingnya kehidupan akhirat yang abadi, yang dijadikan sebagai dasar perilaku kehidupan zuhud. Di antaranya adalah QS an-Nisa: 77 (kesenangan dunia hanya kecil, akhirat lebih baik), ar-Ra’du 26 (kehidupan dunia hanyalah perhiasan sementara), asy-Syura: 36 (kehidupan dunia hanyalah kesenangan sedangkan kehidupan akhirat adalah kekal), Ghafir: 39, al-A’la:16-17, al-Hadid: 20 (harta dan anak-anak adalah perhiasan dunia yang akan hancur). Orang yang zuhud tidak merasa senang dengan berlimpah ruahnya harta dan tidak merasa susah dengan kehilangannya. (lihat QS al-Hadid: 33).

Menurut al-Ghazali, zuhud meliputi tiga dimensi: ‘ilm, hal, ‘amal. Yang dimaksud dengan dimensi ‘ilm adalah kesadaran atau secercah pengetahuan bahwa akhirat itu lebih baik dan kekal. Sedangkan dunia hanyalah sementara. Sedangkan dimensi hal (keadaan) bisa dilihat dari sikap seseorang, bagaimana dia hidup bersosial dan berinteraksi dengan sesama dengan menggunakan akhlak yang baik. Adapun dimensi ‘amal yang muncul dari hal (keadaan) zuhud adalah: 1) meninggalkan sesuatu yang tidak disukai(yaitu dunia); 2) mengeluarkan dari hati kecintaan pada dunia; 3) memasukkan dalam hati cinta pada kepatuhan; 4) mengeluarkan dari tangan dan mata kecintaan pada dunia; dan 5) menugaskan tangan, mata dan anggota tubuh yang lain untuk cinta pada kepatuhan.

Zuhud adalah salah satu maqam yang sangat penting dalam Tasawuf. Hal ini dapat dilihat dari pendapat ulama tasawuf yang senantiasa mencantumkan zuhud dalam pembahasan tentang maqamat, meskipun dengan sistematika yang berbeda-beda. Al-Ghazali menempatkan zuhud dalam sistematika: al-Tawbah, al-Shabr, al-Faqr, al-Zuhd, al-Tawakkul, al-Mahabbah, al-Ma‘rifah, dan al-Ridla. Sedangkan al-Thusi menempatkan zuhud dalam sistematika: al-Tawbah, al-Warâ‘, al-Zuhd, al-Faqr, al-Shabr, al-Ridlâ, al-Tawakkul, dan al-Ma‘rifah.

Intinya adalah, zuhud merupakan prilaku yang tidak menempatkan dunia sebagai satu hal yang harus diperjuangkan melebihi yang lain, apalagi dengan menghalalkan segala cara. Sikap zuhud yang diajarkan para ulama adalah sikap yang mampu menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat. Yang harus disadari adalah, urusan-urusan dunia harus kita letakkan sebagai pendukung bagi agenda-agenda ukhrawi. Dengan begitu, seseorang akan lebih tenang dan enjoy menjalani kehidupannya. Dengan tidak terlalu mementingkan dunia, ambisi dan keinginan untuk memperkaya diri dengan otomatis akan tertangkal dengan sendirinya.