Etika Berdebat Dalam Islam

Selasa, 22 Januari 2019 nasihat 406 klik
Hilmy Firdausy Teks:Hilmy Firdausy
Faza Grafis:Faza

Pada dasarnya, berdebat adalah sesuatu yang dianjurkan untu ditinggalkan dalam Islam. Mengapa begitu? Karena berdebat seringkali berujung pada permusuhan dan pertikaian. Kalau kita menonton debat, yang terlihat di dalamnya adalah sikap untuk membenarkan diri sendiri dan selalu memandang orang lain salah. Sikap inilah yang dilarang oleh Islam, yang ujungnya juga berdampak pada anjuran untuk tidak terjebak dalam perdebatan.

Akan tetapi, jika debat senantiasa menjaga standart etika dan prilaku yang ada, maka debat diperbolehkan dalam Islam. Apalagi jika debat dilangsungkan untuk menguji gagasan dan integritas seseorang terkait sesuatu. Seperti debat pasangan calon presiden, gubernur dan bupati. Melalui panggung perdebatan tersebut gagasan mereka diuji. Lalu, apa saja etika debat yang diatur dalam Islam melalui al-Qur’an dan Hadis Nabi?

KH. Luqman Hakim dalam cuitan di akun twitternya mengungkap beberapa etika debat yang harus diperhatikan:

  1. Menggunakan metode yang bijak
  2. Menggunakan cara komunikasi yang mengandung kebajikan
  3. Akurasi logika dan kebenaran
  4. Didasari kasih sayang, saling menghargai dan menghormati
  5. Ditujukan untuk mengikuti Jalan Allah SWT

Pertama, dua pihak yang berdebat harus menggunakan metode yang bijak. Watu berbicara dibagi secara adil dan tidak memotong saat lawan bicara menyampaikan gagasannya. Kedua, cara komunikasi yang dibangun harus mengandung kebaikan. Kedua belah pihak yang berdebat harus fokus pada substansi dan tidak menggunakan kalimat yang menyinggung pribadi lawan bicara. Ketiga, alur logika dan jalur kebenaran yang disampaikan haruslah akurat dan konkret, tidak mengawang-ngawang. Keempat, berjalannya debat haruslah dilandasi rasa kasih sayang, saling menghargai di antara sesama pihak yang tengah berdebat. Terakhir, seluruh gagasan dan apa yang diperdebatkan haruslah diniatkan untuk kemaslahatan manusia dan menjadi media untuk mewujudkan jalan Allah SWT.

Inilah lima etika yang menurut KH. Luqman Hakim merupakan sari-sari etika debat sebagaimana yang disampaikan dalam al-Qur’an. Maka sudah sepatutnya, dua orang atau beberapa orang yang akan berdebat hendaknya memperhatikan lima hal tersebut. Jika sebuah dialog atau debat didasarkan pada kelima etika tersebut, maka insyallah debat akan berjalan lancar, tidak berujung pada permusuhan dan pertikaian serta menghasilkan sesuatu yang baik terkait apa yang diperdebatkan.