Enam Adab Penting Saat Mempelajari Al-Qur’an


Orang yang hendak mempelajari Al-Qur’an tentu saja harus memperhatikan adab-adab dalam mempelajarinya. Hal ini dimaksudkan agar apa-apa yang dia pelajari menjadi lebih berkah dan berada dalam ridha-Nya. Apalagi yang dipelajari adalah pedoman kita selaku umat muslim.

Al-Nawawi menyebutkan dalam kitab Al-Tibyan bahwa di antara adab orang yang mempelajari Al-Qur’an adalah:

1. Berguru kepada guru yang berkompeten

Bergurulah kepada seorang guru yang berkopeten, jelas agamanya, ilmunya dan telah terkenal kapasitas keilmuannya.

Muhammad bin Sirin, Malik bin Annas dan lainnya dari kalangan para salaf mengatakan “ilmu ini adalah agama maka perhatikanlah dari mana kalian mengambil agama”.

Ar-Rabi’ mengatakan “aku tidak berani minum ketika Syafi’i melihatku, karena aku segan padanya.”

Diriwayatkan dari Amirul mukminin, Ali bin Abi Thalib, ia berkata : “hak seorang guru atasmu adalah kamu mengucapkan salam kepada orang-orang secara umum dan menghaturkan salam khusus untuknya serta duduk di hadapannya. Ketika sedang berada di sisinya janganlah sekali-kali menujuk-nunjuk dengan tangan, mengedip=ngedipkan mata, mengatakan padanya bahwa si fulan megatakan sesuatu yang berkebalikan dengan yang ia katakan, menggunjing seseorang di sisinya, berbisik-bisik di majelisnya, menarik-narik bajunya, mendesaknya ketika ia tengah tidak bersemangat dan jangan pula bosan karena lamanya waktu belajar.”

Hendaknya kita perhatikan adab yang disarankan oleh Ali bin Abi Thalib ini.

2. Berpenampilan sopan

Hendaknya ia mendatangi gurunya ketika dalah keadaan rapi, suci, telah bersiwak, hatinya tidak sedag disibukkan oleh hal lain, dan tidak masuk sebelum meminta izin jika gurunya berada di tempat yang memerlukan izin.

Jika memasuki majelis, hendaknya ia mengucapkan salam kepada orang yang telah lebih dulu datang. Janganlah ia melangkahi kumpulan orang-orang, akan tetapi hendaknya ia menduduki tempat yang tersisa dari majelis tersebut, kecuali jika sang guru mengijinkan untuk maju atau orang-orang di sekitarnya mempersilahkannya.

3. Bersikap sopan dan bergabung dengan hadirin

Ia hendaknya bersikap baik dan sopan pada hadirin yang menghadiri majelis sang guru karena hal itu merupakan adan terhadap guru dan demi menjaga majelisanya. Duduk di hadapan sang guru sebagai murid dengan tidak meninggikan suara, tertawa atau banyak bicara yang tidak perlu.

4. Belajar tatkala suasana hati guru sedang tenang

hendaknya ia mengambil kesempatan pada waktu guru sedang bersemangat. Yakni ketika hati guru tidak sedang gusar, bosan, murka, sedih, gemira, lapar, haus, ngantuk, gelisah dan hal-hal lainnya yang menhyebabkan guru tidak bersemangat dan konsentrasi.

Diantara adabnya ialah ia baersabar menghadapi sikap keras guru dan keburukan perilakunya. Janganlah hal tersebut menghalanginya untuk terus berlajar padanya. Jangan sampai itu menjadi penghalang memdapatkan taufik.

5. Bersemangat tinggi

Hendaknya ia gigih, bersungguh-sungguh dalam belajar, bersemangat, pikiran segar. Amirul Mukminin Umar bin Khattab berkata : “belajarlah hingga kalian faham sebelum kalian diangkat menjadi pemimpin”

Artinya, bersungguh-sungguhlah menyempurnakan keahlian kalian ketika kalian jadi pengikut sebelum kalian menjadi pemimpin. Karena jika kalian telah menjadi seorang tuan yang diikuti, kalian akan terhalang dari belajar disebabkan tingginya martabat dan banyaknya kesibukan.

Imam Syafi’i juga berkata : “belajarlah hingga kamu memahami, sebelum menjadi pemimpin, jika kamu sudah menjadi pemimpin tidak ada lagi kesempatan untuk melakukan hal tersebut”

6. Memilih waktu belajar

Belajar di waktu pagi kebih baik. Sebagaimana hadits Nabi Saw.

“ya Allah, berkatilah umatku pada pagi harinya” (HR. Abu Daud)

Hendaknya ia juga konsisten dalam mengulang hafalannya. Karena sejatinya semua waktu itu baik, namun ada yang lebih baik dan ada yang paling baik. (Idah Mahmuda)