Empat Spirit Kelestarian Lingkungan dalam Sunnah Nabawiyah

Kamis, 6 Februari 2020 nasihat 446 klik
Faza Grafis:Faza

Agama berperan menebarkan kepatuhan bagi para pemeluknya. Rasa patuh seorang pemeluk agama terhadap apa yang diajarkan dalam agamanya dapat menciptakan umat manusia yang berkarakter, termasuk menciptakan manusia yang berperan aktif menyelesaikan berbagai permasalahan sosial, salah satunya adalah permasalahan lingkungan hidup.

Hadis merupakan salah satu sumber pokok ajaran agama Islam. Islam mendorong penganutnya agar semaksimal mungkin hidup mengikuti nilai yang tertuang dalam hadis Nabi. Beberapa spirit kepedulian lingkungan ternyata tersirat dalam beberapa hadis Rasulullah Saw. Misalnya:

1. Menutup celah pemborosan

Saat kita mendengar agama Islam, maka jangan membayangkan ia sebagai sebuah agama yang mengajarkan manusia untuk membuat patung, kemudian membawakan sesajian makanan bagi patung-patung itu. Praktek demikan bukan lah sesuatu yang asing dalam sejarah umat manusia, penyerahan berbagai macam sesajian kepada benda-benda mati adalah sebuah praktek pemborosan yang seolah menjadi baik atas nama Ibadah bagi kalangan tertentu.

Rasulullah melalui hadis beliau tegas melarang pemborosan, bahkan dengan alibi kegiatan ibadah sekalipun, hal ini terpatri dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw pernah berjalan melewati Sa’ad yang sedang berwudhu’, Rasulullah Saw kemudian berkata: “ما هذا السرف يا سعد!” artinya: “betapa yang kamu lakukan itu adalah sebuah pemborosan wahai Sa’ad!”. Sa’ad kemudian bertanya kepada Rasulullah Saw, “أ فى الوضوء سرف”, artinya, “apakah ada istilah boros saat melakukan wudhu’?”, Nabi kemudian menjawab, “tentu saja, bahkan jika kamu berwudhu’ di atas sungai yang mengalir, tetap saja jangan boros (air)”.

Hadis di atas sungguh menanamkan karakter anti pemborosan dalam ajaran Islam. Kita tidak boleh melakukan pemborosan sekalipun dalam ibadah seperti wudhu’. Kita juga dilarang menganggap sepele praktek pemborosan, bahkan hendaknya kita tidak boros menggunakan air meski sedang berada di tengah sungai yang mengalir.

Dalam sudut pandang masyarakat Arab saat itu, tentu air dipandang sebagai sumber daya yang sangat penting bagi manusia. Saat ini ada banyak sumber daya yang kita butuhkan mulai dari air, listrik, kertas, energi, bahan bakar dan segala macam. Hendaknya semua umat Islam secara kolektif menjadi manusia yang pandai berhemat. Karakter semacam ini juga memberikan sumbangan besar bagi usaha pemeliharaan lingkungan hidup.

2. Jangan melakukan pencemaran

Masyarakat Arab pada masa Rasulullah Saw tentu belum memiliki wawasan ekologis seluas yang dimiliki oleh kita saat ini. Ilmu pengetahuan tentang lingkungan telah memberikan gambaran bagi siklus dan peredaran air, udara dan berbagai sumber daya alam yang lain. Kita memahami bahwa pencemaran yang terjadi pada sebuah saluran peredaran sumber daya akan menghasilkan dampak buruk yang tidak kecil, meski pun ia terlihat sepele.

Akan tetapi jauh-jauh hari Rasulullah telah mewanti-wanti umat Islam agar tidak buang hajat pada air yang tidak mengalir, Rasulullah Saw bersabda:

لايبولنّ أحدكم فى الماء الراكد

Artinya: jangan sekali-kali kalian buang hajat pada air yang tergenang.

Dalam hadis yang lain Rasulullah bersabda:

اتقوا الملاعن الثلاثة, البراز فى الموارد, وقارعة الطارق, والظل

Artinya: takut lah pada tiga hal yang dapat mendatangkan laknat! Yaitu buang kotoran pada saluran air, jalan yang dilalui manusia atau tempat berteduh.

Dalam hadis yang lain, nabi bersabda:

إذا استيقظ أحدكم من نومه فلا يغمس يداه فى الإناء حتى يغلسها

Artinya: “jika kalian baru bangun tidur, jangan dulu kalian masukkan tangan kalian dalam wadah air, sebelum kalian mencucinya”

Sungguh melalui hadis di atas kita dididik untuk memposisikan sumber daya alam ini sebagai kebutuhan bersama, jangan melakukan pencemaran terhadap bagian tertentu pada sehingga ia tidak lagi dapat dinikmati oleh orang lain.

4. Menggalakkan penghijauan

Agama berperan lebih jauh daripada kemanusiaan dalam menggalakkan suatu kebaikan. Jika kemanusiaan menganjurkan berbuat baik atas pertimbangan moralitas saja, maka agama turut memberikan Targhib atau janji balasan baik untuk setiap perbuatan kebaikan.

Jauh-jauh hari sebelum manusia mengetahui hukum kimia dan geografi yang berlaku pada tanaman, atau jauh sebelum manusia dilanda kekhawatiran saaat hutan terus tergerus di tengah pembangunan yang dilakukan manusia, Rasulullah telah memberikan anjuran untuk semangat menanam tanaman, beliau bersabda:

ما من مسلم يغرس غرسا إلا كان ما أكل منه له صدقة

Artinya: tidaklah seseorang menanam seuah tanaman, kecuali setiap ia menjadi makanan bagi makhluk lain, itu menjadi amalan sedekah baginya.

Dalam hadis yang lain Rasulullah bersabda:

إذا قامت الساعة وفى يد أحدكم فسيلة فليغرسها

Artinya: seandainya kiamat terjadi, dan kalian masih memegang benih tanaman di tangan kalian, maka hendaklah kalian tanam benih tersebut.

Dalam hadis yang lain, Rasulullah Saw bersabda:

لاتعقروا نخلا, ولا تحرقوه, ولا تقطعوا شجرة مثمرة

Artinya: Jangan kalian cabut pohon kurma, jangan kalian bakar, dan jangan kalian tebang pohon-pohon yang berbuah!

Pada masa itu tentu tanaman atau pohon hanya dipahami fungsinya sebagai sumber cadangan makanan. Namun sekarang kita memahami bahwa pohon juga berperan sebagai sumber oksigen, ia juga berperan dalam resapan air tanah. Sehingga sedekah dengan menanam pohon itu jauh lebih luas lagi jangkauannya di samping fungsinya sebagai sumber makanan.

4. Mencintai kebersihan

Sampah telah menjadi problema besar bagi umat manusia, volume sampah yang sangat dan terus membesar, dan tidak dapat terkejar oleh proses penguraian secara alamiah mengakibatkan berbagai dampak dan bencana. Sampah menyumbat saluran air, mencemarkan air dan tanah, menimbulkan bau tidak sedap, membuanuh banyak biota laut, mencemarkan udara saat dibakar dan masih banyak lagi.

Meski pun tidak dapat menyelesaikan permasalahan sampah secara tuntas, membiasakan gaya hidup bersih setidaknya dapat meminimalisir dampak buruk dari sampah. Kebiasaan tidak membuang sambpah-sampah sembarangan, memisah antar jenis sampah organik dan anorganik, tidak membiarkan sampah menumpuk dan lain-lain adalah kebiasaan yang dapat mewujudkan itu semua. Spirit gaya hidup bersih pun nyatanya telah ditanamkan oleh Rasulullah Saw dalam sebuah hadis di antaranya Nabi Muhammad Saw pernah bersabda:

إن الله طيب يحب الطيب, نظيف يحب النظفة, كريم يحب الكرم

Artinya: sesungguhnya Allah itu maha baik dan menyukai yang baik-baik, Allah itu bersih dan menyukai apa yang bersih, mulia dan menyukai apa yang mulia.

Penutup:

Spirit pemeliharaan lingkungan dalam hadis tentu bukan bermakna Rasul jauh-jauh hari telah merumuskan prediksi kerusakan lingkungan yang massif atau telah menyusun langkah-langkah strategis dalam konservasi lingkugan hidup. Rasulullah Saw tentu memandang alam semesta sesuai dengan pemahaman peradaban manusia kala itu.

Kesadaran terhadap isu masalah ekologi global bukan lah sesuatu yang telah diketahui sejak lama, bahkan kurang dari satu abad belakangan, dunia industry masih berlomba menciptakan bahan baku plastic yang tahan lama, baru dua dekade belakangan umat manusia kemudian terhenyak ketika bahan plastik tersebut menjadi boomerang terhadap lingkungan karena sampah yang dihasilkannya tidak dapat terurai dalam waktu yang singkat

Spirit dalam sunnah nabawiyah terhadap konservasi lingkungan adalah penanaman karakter dan gaya hidup yangsetidaknya dapat mengurangi dampak kerusakan lingkungan, populasi muslim di seluruh dunia tidak lah sedikit, sehingga gaya hidup ramah lingkungan jika mau diamalkan oleh setiap umat islam itu pengaruhnya tidak lah kecil. (Rudy Fachruddin)