Bersikap Wara’ Selama Masa Belajar Ilmu Agama


Wara’ menurut Sahal bin Abdullah adalah meninggalkan hal-hal  yang tidak pasti (syubhat), yaitu hal-hal yang tidak berfaedah. Sedangkan menurut Asy-Syibli, wara’ merupakan upaya untuk menghindarkan diri dari berbagai hal yang tidak berkaitan dengan Allah SWT. Menurut Imam Al-Ghazali wara’ adalah menahan diri dari larangan Allah SWT. Dalam proses belajar pelajar hendaklah bersikap wara’ yaitu sikap yang berhati-hati dan berusaha menjauhi segala perkara yang tidak saja haram tetapi juga syubhat dan makruh.

Dalam masalah wara’ ini, sebagian ulama meriwayatkan hadits Nabi SAW, “Barangsiapa tidak berbuat wara’ ketika belajar, maka Allah akan memberinya cobaan dengan salah satu dari tiga macam: dimatikan dalam usia muda, ditempatkan di tengah komunitas orang bodoh, atau dijadikan abdi penguasa.” Tapi jika berbuat wara’ ketika belajar, maka ilmunya bermanfaat, belajarnya mudah, dan faedahnya berlimpah.

Termasuk perbuatan wara’ adalah menghindari perut kenyang, terlalu banyak tidur dan banyak ngobrol yang tidak berguna. Dan hendaklah menghindari makan makanan pasar, karena makanan pasar itu cenderung najis dan kotor, jauh dari dzikrullah bahkan cenderung membuat lemah dari Allah, dan orang-orang fakir melihatnya tetapi tidak mampu membelinya sehingga mereka tersiksa karenanya, maka hilanglah berkah makanan itu.

Sebuah hikayat, Syaikh Imam yang mulia Muhammad Ibnu Fadhal pada masa belajarnya tidak pernah menyantap makanan pasar. Ayahanda Muhammad, yaitu Fadhal, tinggal di kampung, setiap Jum’at mengirim makanan ke rumahnya. Pada suatu hari Fadhal melihat roti pasar di rumah anaknya, ia pun marah dan enggan berbicara dengannya. Muhammad mohon maaf dan menjelaskan, “Saya tidak membeli roti itu dan saya pun tidak memakannya, tetapi itu pemberian temanku.” Lalu sang ayah menimpali, “Bila kamu berhati-hati dan wara’ niscaya temanmu tidak akan sembarangan seperti itu.”

Demikian para pelajar zaman dahulu berbuat wara’, dan ternyata mereka mendapat taufiq ilmu dan mengajarkannya sehingga keharuman nama mereka abadi sepanjang masa.

Seorang ahli Fiqih yang Zuhud berpesan kepada muridnya, “Hindarilah perbuatan ghibah dan bergaul dengan orang yang banyak bicaranya.” Lalu katanya lagi, “Orang yang banyak bicara itu mencuri umurmu dan membuang sisa-sisa waktumu.”

Termasuk wara’ juga adalah menghindar dari orang yang suka berbuat anarki (perusak), maksiat dan pemalas. Bergaulah dengan orang-orang shalih. Karena pergaulan itu pasti membawa pengaruh. Demikian beberapa contoh perilaku wara’ sebagaimana dijelaskan dalam kitab Ta’lim Al-Muta’allim. (Idah Mahmudah)