Agar Hartamu Menjadi Sumber Ketenangan Hidup, Lakukan Hal Ini


Kekayaan dapat menjadi sumber kecemasan dalam hidup. Ia dapat pula menjadi mata air ketenangan. Tergantung bagaimana seseorang menempatkannya dalam kehidupan. Ada banyak orang yang menempatkan harta kekayaan sebagai tujuan. Memburunya, mengumpulkannya, lalu menyimpannya serapi mungkin. Ia berpikir bahwa kekayaan tersebut akan membuatnya hidup tenang karena segala kebutuhannya di masa depan akan tercukupi. Tanpa perlu merasa khawatir.

Tetapi kenyataan sering berkata lain. Harta kekayaan yang selalu dikumpulkan, justru mendatangkan kecemasan. Kegelisahan. kekhawatiran. Ketakutan. Karena berbagai sebab dan alasan. Di sinilah justru kekayaan menjadi sumber masalah dalam kehidupan manusia. Lalu bagaimana agar kekayaan dapat menjadi sumber ketenangan, dan bukan sebaliknya?

Islam mengajarkan bahwa harta kekayaan dapat menjadi obat penenang. Bukan dengan cara menyimpan dan menahannya. Tetapi justru dengan menggunakannya agar bermanfaat bagi orang lain. Jiwa manusia akan hidup ketika ia mau berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Ketika berjuang mengumpulkan harta, seseorang terkadang lebih memikirkan dirinya sendiri. Ketika telah berhasil mengumpulkannya, dia juga  hanya memikirkan dirinya. Terkadang sikap semacam itu membuatnya merasa sendirian. Karena itu, obatnya  adalah berinteraksi dengan orang lain berdasar perasaan tulus. Memberi dan berbagai kepada orang lain menjadi cara sederhana menumbuhkan ketulusan dalam jiwa dan hubungan yang hangat dengan orang-orang di sekitar. Memberi mempunyai nilai rela berkorban untuk orang lain. Orang lain yang merasa terbantu akan memandang penolong sebagai orang baik. Hubungan yang penuh dengan ketulusan membuat seseorang merasa aman dan tenteram.

Sebagian ahli tazkiyatun nafs (penyucian batin) memiliki penjelasan lain. Ketika seseorang mengejar kekayaan, maka hatinya akan terpaut. Ia akan terikat oleh rasa cinta berlebihan terhadap kekayaan sehingga takut kehilangannya. Rasa kehilangan dapat menjadi kekhawatiran dan ketakutan dalam diri seseorang. Kedua sifat itulah yang membuat orang merasa tidak tenang dalam hidupnya. Sebaliknya, tidak adanya rasa khawatir dan ketakutan-ketakutan adalah sebuah kebahagiaan. Inilah hakikat kebahagiaan. Perasaan tenang yang tertanam dalam batin. Di sini lah seseorang harus melatih hatinya untuk merasa ‘kehilangan’. Berbagi sesuatu yang kita cintai dengan orang lain secara tulus merupakan proses melepaskan keterikatan batin seseorang dengan sesuatu yang dicintainya. Ketika kita terikat dengan kekayaan materil, maka agar kita tidak masuk dalam jebakan, kita harus melatih hati agar keterikatan itu tidak sampai menguasai kita. Di sinilah berbagi sedikit kekayaan yang kita miliki dapat melatih hati melepaskan keterikatan materialistik tersebut. Semakin sering kita melakukan, semakin kita berani kehilangan sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu kita butuhkan dalam hidup.

Dalam Islam, diajarkan budaya saling memberi. Hal ini merupakan ajaran dalam kitab suci. Saling memberi dikatakan berkorelasi dengan ketenangan jiwa. Dengan demikian, dalam Islam, relasi antara budaya saling memberi dan ketenangan batin bukan hanya berdasar kepada pengalaman manusia semata. Tetapi merupakan janji Allah dalam Al-Quran. Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari, secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Rabbnya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 274)

Imam Muhammad Thahir Ibnu Asyur dalam kitab tafsirnya Al-Tahrir Wa Al-Tanwir mengatakan,

وَهَذَا بِشَارَةٌ لِلْمُنْفِقِينَ بِطِيبِ الْعَيْشِ فِي الدُّنْيَا فَلَا يَخَافُونَ اعْتِدَاءَ الْمُعْتَدِينَ لِأَنَّ اللَّهَ أَكْسَبَهُمْ مَحَبَّةَ النَّاسِ إِيَّاهُمْ، وَلَا تَحِلُّ بِهِمُ الْمَصَائِبُ الْمُحْزِنَةُ إِلَّا مَا لَا يَسْلَمُ مِنْهُ أَحَدٌ مِمَّا هُوَ مُعْتَادٌ فِي إِبَّانِهِ.

Ayat ini merupakan kabar baik bagi orang-orang yang mau menginfakkan hartanya bahwa mereka akan mendapatkan kehidupan yang baik selama di dunia. Mereka tidak merasa khawatir akan mendapat gangguan dari orang lain karena Allah akan menumbuhkan rasa cinta dalam hati banyak orang pada orang yang senang memberi. Orang yang senang memberi tidak akan mendapat musibah yang menyedihkan kecuali musibah yang tidak akan selamat seorang pun darinya. (Al-Tahrir Wa Al-Tanwir, jilid 2, hlm. 78)

Syekh Wahbah Al-Zuhali dalam kitab tafsirnya berjudul Tafsir Al-Wasith mengatakan,

فَمَنْ تَصَدَّقَ بِشَيْءٍ للهِ سِراَّ أَوْ عِلْنًا، فَلَهُ الأَجْرُ الكَامِلُ عِنْدَ رَبِّهِ الَّذِي رَبَّاهُ وَتَعَهَّدَهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ وَبَعْدَ وِلَادَتِهِ، وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِ أَصْلًا فِي الدُّنْيَا وَلَا فِي الآخِرَةِ، وَلاَ هُوَ يَحْزَنُ أَبَدًا، وَهَكَذا كُلُّ مَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِ القُرآن وَاهْتَدَى بِهَدْيِهِ، فأولئك هم المفلحون.

Orang yang sering berbagi sesuatu karena Allah, baik tertutup maupun terbuka, ia akan mendapatkan pahala yang sempurna di sisi Allah. Tuhan yang menumbuhkannya di dalam perut ibunya dan menumbuhkannya setelah dia dilahirkan. Dia tidak akan merasa khawatir sama sekali baik ketika di dunia maupun di akhirat. Dia tidak akan bersedih selamanya. Begitulah orang yang berjalan sesuai dengan petunjuk Al-Quran. Mereka adalah orang-orang yang beruntung (Tafsir Al-Wasith, jilid 1, hlm. 159)

Pernyataan kedua ulama ahli tafsir ini menegaskan bahwa memberi dan berbagi, apapun bentuknya, merupakan sarana mendapatkan kebahagiaan. Islam sendiri memperkenalkan beberapa jenis berbagi seperti ajaran tentang zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF). Masing-masing memiliki aturan yang berbeda. Tetapi seluruhnya memiliki manfaat yang sama, berbagi dengan sesama yang menenangkan jiwa umat manusia.

Demikian uraian mengenai manfaat berbagi yang ternyata dapat mendatangkan ketenangan jiwa. Banyak orang mencari ketenangan dengan melakukan hal-hal yang berdampak buruk bagi dirinya sendiri. Seperti mengkonsumsi alkohol, narkoba dan permbuatan yang merugikan lainnya. Islam mengajarkan cara menenangkan jiwa yang tidak merugikan baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Bahkan cara yang diajarkan dalam Islam akan menguntungkan diri kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita. Jadi, ketika anda sedang gelisah, cobalah berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Wallahu a’lam.  (M. Khoirul Huda)