Wudlu dan Shalat untuk Pengidap Beser

Sabtu, 18 Agustus 2018 konsultasi | 1433 klik
M. Khoirul Huda Teks:M. Khoirul Huda
Faza Grafis:Faza

Assalamualaikum. Belakangan ini, saya merasa kurang tuntas saat buang air kecil, sehingga kerap terasa ‘bersisa’, dan sewaktu-waktu keluar, bahkan saat shalat. Orang-orang menyebutnya beser. Keluhan ini saya rencanakan untuk diperiksakan ke dokter.

Kendati demikian, dengan adanya beser dan anyang-anyangen ini, bagaimana tata cara wudlu dan shalat saya, mengingat keluar air kencing adalah hal yang membatalkan wudhu? Berarti saya batal terus dong wudhunya? Terima kasih.

Dalam fikih, beberapa aktivitas seperti shalat dan memegang mushaf Al Quran memiliki syarat sah yaitu tidak berhadats. Kita mengenal ada dua jenis hadats: yang mewajibkan berwudlu, yang disebut hadats kecil; serta hadats yang mewajibkan seseorang mandi, disebut dengan hadats besar.

Salah satu hadats kecil adalah keluarnya sesuatu dari ‘dua jalan’, yaitu qubul (jalan bagian depan, atau saluran kemih dan liang senggama) dan dubur (jalan belakang, atau anus), selain mani serta darah haid dan nifas.

Para ahli fikih membahas persoalan salisul baul, yaitu orang yang mudah keluar air seni atau beser. Salah satu penyebab beser adalah penurunan fungsi otot-otot kendali kandung kemih, sehingga mudah muncul hasrat buang air kecil, dan air seni menetes karena kendali otot kandung kemih yang tidak maksimal.

Orang beser dikategorikan sebagai orang-orang yang senantiasa berhadats (daaimul hadats). Dalam praksis ibadah, masalah ini mencakup dua keadaan: permasalahan hadats dan najis.

Ketika keluar air kencing, otomatis seseorang jadi berhadats. Sayangnya bagi orang beser, kencing tak bisa ditahan sebagaimana lumrahnya orang sehat. Ujug-ujug menetes saja, maka wudhunya pun batal. Selain sering berhadats, air kencing yang mengenai pakaian itu najis. Saat shalat, wudhu yang batal dan pakaian yang najis menjadikan shalat tidak sah.

Ahli fikih membahas tata caranya sebagai berikut, sebagaimana dikutip dari Al Fiqhul Manhaji ‘ala Madzhabi Imam asy Syafii:

فالمستحاضة تغسل الدم، وتربط على موضعه، وتتوضأ لكل فرض، وتصلي.

Maka perempuan yang mengalami istihadlah, ia membersihkan dahulu darahnya, kemudian membalut/menutup jalan keluar darah, dan berwudlu setiap kali hendak shalat fardlu.Meskipun keterangan di atas membincang cara wudhu dan shalat pengidap istihadhah (keluar darah yang keluar di luar masa haid atau nifas) cara di atas disamakan pada perkara beser, karena istihadhah dan beser punya kesamaan: sama-sama daaimul hadats (sering berhadats), dan sering terkena najis.

Caranya: sebelum memulai shalat, buang air kecil dahulu sampai sekiranya terasa cukup tuntas. Lantas alat kelamin ditutup atau ditahan agar tidak meneteskan air seni ke sarung/celana, boleh dengan celana dalam atau kain lainnya. Segerakan shalat dengan sarung yang suci. Jika saat shalat terasa ada air kencing menetes ke kain, hal ini dapat ditolerir (di-ma’fu) karena susahnya mencegah hadats dan najis.

Karena sering batal wudhunya, pengidap beser ini wajib berwudlu dan ganti kain penahan yang terkena air kencing setiap kali shalat fardlu, namun tidak wajib saat melakukan shalat sunnah. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam. (Iqbal Syauqi)