Punya Harta Banyak, Apakah Wajib Berkurban?

Rabu, 14 Agustus 2019 konsultasi | 178 klik
Juriyanto Teks:Juriyanto
Faza Grafis:Faza

Salam admin Harakah yang budiman. Saya pernah mendengar sebuah keterangan bahwa seseorang yang memiliki harta yang sudah mencapai nisab, maka dia wajib berkurban. Apakah benar demikian, padahal sepengetahuan saya kurban adalah sunnah. Mohon penjelasannya. Terima kasih.

Pada dasarnya, kebanyakan ulama mengatakan bahwa hukum berkurban adalah sunnah muakkadah, atau kesunnahan yang sangat dianjurkan, bukan wajib. Kesunnahan melakukan kurban ini terutama semakin dianjurkan pada seseorang yang memiliki kelapangan harta.

Meski demikian, kebanyakan ulama berpendapat bahwa seseorang yang memiliki kelapangan harta namun dia tidak berkurban, maka hukumnya makruh. Menurut ulama Syafiiyah, seseorang telah dinilai memiliki kelapangan harta jika dia mampu membeli hewan kurban dengan harta yang lebih dari kebutuhan dirinya dan kelurganya pada hari Idul Adha dan hari-hari tasyriq.

Ini berbeda dengan pandangan Abu Hanifah dan ulama Hanafiyah. Mereka berpendapat bahwa seseorang sudah dinilai memiliki kelapangan harta jika hartanya sudah mencapai nisab zakat.  Jika harta seseorang sudah mencapai nisab zakat, maka dia wajib berkurban. Jika tidak berkurban, maka dia telah berdosa karena telah meninggalkan suatu kewajiban.

Pendapat mereka ini didasarkan pada hadis riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah, Nabi Saw. bersabda;

مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلا يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

“Barangsiapa mendapatkan kelapangan tetapi tidak berkurban, maka janganlah dia mendekati tempat salat kami.”

Menurut Abu Hanifah dan ulama Hanafiyah, hadis ini menuntut berkurban bagi orang yang sudah memiliki kelapangan harta. Dan ukuran seseorang dinilai memiliki kelapangan harta jika hartanya sudah mencapai nisab zakat.

Sementara menurut ulama Syafiiyah, hadis ini hanya bersifat anjuran, bukan tuntuan, bagi orang yang memiliki kelapangan harta.

Dengan demikian, seseorang yang memiliki harta sudah mencapai nisab zakat, maka dia sudah dinilai memiliki kelapangan harta. Jika dia tidak berkurban, maka menurut ulama Syafiiyah hukumnya makruh. Sementara menurut Abu Hanifah dan ulama Hanafiyah, hukumnya haram dan dia berdosa karena telah meninggalkan kewajiban. (Jurianto)