Pendapat Ulama Tentang Kaos Tauhid

Jumat, 26 Oktober 2018 konsultasi | 2763 klik
M. Khoirul Huda Teks:M. Khoirul Huda
Faza Grafis:Faza

Admin Harakah, teman-teman saya punya trand baru seperti bikin kaos bertuliskan kalimat tauhid lalu menjualnya secara online. Yang ingin saya tanyakan, bagaimana hukum membuat dan menjual kaos tauhid. Kalau saya ingin membelinya, lalu saya memakainya apakah boleh? Terima kasih.

Kalimat tauhid adalah lafal yang dimuliakan dalam Islam. Persoalan menuliskan kalimat yang dimuliakan dalam Islam dalam benda-benda yang rawan diletakkan di tempat yang tidak terhormat telah dibahas para ulama sejak lama.  Pada umumnya, para ulama melarang demi menjaga kemuliaan kalimat tersebut. Di antara yang melarang adalah Imam Al-Zaila’I Al-Hanafi (w. 742 H.),

وَيُكْرَهُ كِتَابَةُ الْقُرْآنِ وَأَسْمَاءِ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى مَا يُفْرَشُ لِمَا فِيهِ مِنْ تَرْكِ التَّعْظِيمِ، وَكَذَا عَلَى الْمَحَارِيبِ وَالْجُدْرَانِ لِمَا يُخَافُ مِنْ سُقُوطِ الْكِتَابَةِ، وَكَذَا عَلَى الدَّرَاهِمِ وَالدَّنَانِيرِ

Makruh menulis Al-Quran dan nama-nama Allah Taala di atas benda yang dijadikan alas karena terdapat tindakan yang tidak menghormatinya. Begitu pula menuliskannya di mihrab dan tembok karena dikhawatirkan tulisan tersebut akan terjatuh. Begitu pula menuliskannya di uang dinar dan dirham. (Tabyin Al-Haqaiq Syarah Kanz Al-Daqaqiq, jilid 1, hal. 58)

Imam Ibnu Al-Humam Al-Hanafi (w. 861 H.) mengatakan,

تكره كتابة القرآن وأسماء الله تعالى على الدراهم والمحاريب والجدران وما يفرش" انتهى.

Makruh menulis Al-Quran dan nama-nama Allah di atas uang dirham, mihrab, tembok dan kain yang dijadikan alas. (Fath Al-Qadir, jilid 1, hal. 169).

Imam Al-Dardiri Al-Maliki (w. 1230 H.) mengatakan,

وظاهره أن النقش مكروه ، ولو قرآنا [أي على القبور] ، وينبغي الحرمة؛ لأنه يؤدي إلى امتهانه . كذا ذكروا . ومثله : نقش القرآن وأسماء الله في الجدران" انتهى.

Secara zahir, mengukir tersebut hukumnya makruh, walaupun ayat Al-Quran, maksudnya mengukir di atas kuburan, dan pantas jika dihukumi haram. Hal itu karena dapat membuat Al-Quran direndahkan. Begitulah yang disebutkan para ulama. Dan hukumnya seperti mengukir di kuburan, adalah mengukir Al-Quran dan nama-nama Allah di tembok. (Al-Syarh Al-Kabir, jilid 1, hal. 425)

Imam Abu Abdillah Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad Ulaisy Al-Maliki (w. 1299 H.) mengatakan,

وَيَنْبَغِي حُرْمَةُ نَقْشِ الْقُرْآنِ، وَأَسْمَاءِ اللَّهِ تَعَالَى مُطْلَقًا لِتَأْدِيَتِهِ إلَى الِامْتِهَانِ، وَكَذَا نَقْشُهَا عَلَى الْحِيطَانِ

Pantas jika diharamkan menuliskan Al-Quran dan nama-nama Allah Taala, secara mutlak, karena dapat membuatnya direndahkan. Begitu pula menuliskannya di tembok. (Minah Al-Jalil, jilid 1, hal. 517)

Imam Al-Nawawi Al-Syafi’i (w. 676 H.) mengatakan,

ويكره كتابته على الحيطان، سواء المسجد وغيره، وعلى الثياب انتهى

Makruh menulis Al-Quran di tembok, baik tembok masjid maupun lainnya, dan makruh pula menulis Al-Quran di pakaian. (Raudhah Al-Thalibin, jilid 1, hal. 80).

Para ulama dari berbagai mazhab di atas cenderung menghukumi makruh, dan ada pula yang menghukumi haram. Berbeda dengan tokoh ulama Salafi yang cenderung melarang menuliskan Al-Quran atau kalimat mulia di kaos.

Syekh Muhammad Sholeh Al-Munajjid pernah ditanya tentang banyaknya kaos bertuliskan lafal Allah di Inggris. Lalu bagaimana hukum memakai kaos tersebut yang seringkali dibawa ke kamar mandi? Dalam fatwa bertema hukum memakai kaos yang bertuliskan lafzul jalalah, ia menulis,

إن هذه القمصان لا يجوز شراؤها ولا لبسها ويجب الإنكار على من يلبسها ، لأن في هذا التصرف وهو كتابة لفظ الجلالة عليها استخفافاً بهذا اللفظ ، وهو يؤدي بلا شك إلى اهانته ، إما بإلقائه في أماكن يجب أن يصان عنها كالحمامات - وبالأخص إذا اتسخ وأريد غسله - أو غير ذلك من صور الاهانة ، ثم إن في البعد عن شراء هذه القمصان منك ومن المسلمين الآخرين تضييقاً لدائرة شراء هذه القمصان مما يضطر المنتجين - إذا كان هدفهم تجارياً - إلى البعد عن هذه الكتابة . والله أعلم

Kaos-kaos tersebut tidak boleh dibeli, tidak boleh dipakai. Wajib menegakkan nahi munkar kepada orang yang memakainya. Karena, perbuatan tersebut, yaitu menulis lafal Allah yang agung di kaos, termasuk perbuatan merendahkan kemuliaan lafal tersebut. Hal itu tanpa diragukan dapat membuat lafal tersebut dihinakan. Ada kalanya, ia akan ditaruh di tempat yang harusnya tulisan tersebut dijaga darinya seperti toilet. Khususnya, ketika kaos itu kotor dan hendak dicuci atau bentuk perendahan lainnya. Kemudian, menjauhkan diri anda dan umat Islam dari membeli kaos-kaos tersebut untuk mempersempit perputarannya adalah cara yang dapat menekan para produsen pembuat kaos, jika tujuan mereka hanya murni ekonomi, sehingga mereka juga akan menjauhkan diri dari menulis lafal mulia tersebut pada kaos.

Demikian adalah beberapa pendapat ulama tentang hukum membuat dan membeli kaos bertuliskan kalimat yang mulia (kalimah thayyibah). Kebanyakan ulama menghukumi makruh. Sebagian lagi menghukumi haram. Penilaian mereka semata-mata untuk menjaga kemuliaan kalimah yang dimuliakan dalam Islam. Wallahu A’lam. (M. Khoirul Huda)