Merokok Saat Puasa, Batalkah?


Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun islam. Sebagai rukun islam, maka setiap muslim yang telah mencapai usia akil baligh dan berakal sehat diharuskan untuk melaksanakannya. Mereka yang tidak melaksanakannya mendapat ancaman dosa. Sedang mereka yang taat melakukannya diganjar pahala.

Para ulama ahli fikih menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan berakal sehat adalah ia dapat menggunakan akal dan nalarnya dengan baik tanpa gangguan, gila, pingsan, mabuk, dan semacamnya. Ketiganya merupakan bentuk gangguan pada fungsi otak. Buktinya, mereka yang mengalami ketiga hal tersebut tidak dapat memberikan respon dan reflek yang baik.

Adapun kewajiban berpuasa sebagaimana yang tercantum dalam Al Qur’an surat Al Baqarah 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: Wahai orang-orang yang  beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Setiap orang yang berpuasa, diwajibkan untuk menahan lapar, haus, godaan hawa nafsu. Sebab, secara bahasa puasa diambil dari Bahasa Arab “shaum” yang artinya menahan. Maka, mereka yang tidak mampu menahan dirinya dari ketiga hal tersebut, puasanya dianggap batal.

Dari sini, para ulama mengembangkan makna menahan dengan merujuk pada Al Qur’an dan hadis. Diantaranya adalah, dalam berpuasa kita diharuskan untuk menahan emosi dan tidak mengungkapkannya melalui ucapan, umpatan, hasutan, dan sebagainya.

Selain itu, para ulama juga memberikan kriteria tersendiri terkait hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Diantaranya:

Memasukkan benda asing/zat tertentu (dari luar) baik cair maupun padat ke dalam tubuh melalui rongga yang bersambung pada lambung. Yang dimaksud rongga, adalah anggota tubuh yang memiliki lubang seperti mulut, hidung, telinga, dubur, dan penis. Maka, segala sesuatu yang dimasukkan melalui anggota tersebut secara sengaja, dapat membatalkan puasa.

Misalnya, mencicipi rasa masakan lalu menelannya, memasukkan obat wasir dari lubang dubur, dan sebagainya. Berhubung makan dan minum termasuk dalam kategori ini, maka keduanya dianggap membatalkan puasa.

Hal yang sama juga berlaku pada rokok. Sebab, merokok berarti memasukkan benda melalui rongga yang bersambung pada lambung. Saat merokok, ada asap yang dengan sengaja dihisap dan masuk ke dalam tubuh. Meski secara dzahir sebagian asap dikeluarkan kembali, namun pada kenyataanya kandungan tar dan nikotin yang terdapat dalam rokok akan tetap tertinggal dalam tubuh.

Dengan begitu, ada dua hal yang dapat membuat rokok membatalkan puasa; pertama, karena merokok berarti memasukkan zat tertentu ke dalam tubuh melalui rongga yang bersambung pada lambung. Kedua, meski sebagian asap rokok dikeluarkan lagi, namun tetap ada zat bawaan yang tertinggal dalam tubuh, yaitu tar dan nikotin.

selain itu, hal lain yang dapat membatalkan puasa adalah melakukan hubungan suami istri dengan sengaja atau merangsang diri agar meraih kenikmatan dengan keluarnya sperma, haid, nifas, sengaja memancing rasa mual agar bisa muntah, serta murtad. (M. Abdul Hamid LA)