Menikah Itu Harus Kufu’, Cocok dan Sepadan.

Selasa, 19 Februari 2019 konsultasi | 687 klik
Hilmy Firdausy Teks:Hilmy Firdausy
Faza Grafis:Faza

Assalamualaikum Ustadz/ah, saya mau bertanya: saya sering mendengar soal kufu’ dalam Islam. Mohon penjelasannya tentang itu dan apakah ia menjadi rukun atau hal yang bisa membatalkan pernikahan?

Waalaikumsalam…

Dalam pernikahan kita mungkin sering mendengar kata kufu’. Secara bahasa istilah itu diambil dari bahasa Arab yaitu al-kafa’ah (الكفاءة) yang bermakna sepadan, sesuai atau semisal. Dalam konteks fikih munakahat, istilah kufu’ digunakan sebagai simbol seorang kesepadanan dan kesesuaian antara sepasang calon suami-istri. Namun yang perlu diperhatikan, masalah al-kafa’ah atau kufu’ tidak menyebabkan akad pernikahan batal ataupun sah.

Apa saja yang harus sepadan? Para ulama berbeda pendapat soal aspek apa saja yang harus disepadankan antara diri si laki-laki dan perempuan yang hendak menikah;

  1. Madzhab Hanafi mengarahkan soal kufu’ kepada enam hal, yaitu: nasab, islam, pekerjaan, status (seorang yang merdeka atau tidak), kualitas beragama, dan kondisi ekonomi.
  2. Madzhab Maliki hanya mengarahkan soal kufu’ kepada dua hal saja; kesamaan dalam kualitas beragama dan kesamaan dalam kesehatan jasmani. Keterangan ini bisa ditemukan dalam jilid III kitab Taj Al-Iklil.
  3. Madzhab Syafi’i menyatakan bahwa yang dimaksud kufu’ dalam pernikahan adalah menyangkut empat hal; nasab, agama, starata sosial (merdeka atau budak), dan pekerjaan.
  4. Madzhab Hanbali menyatakan bahwa ia terbatas pada lima aspek; agama, pekerjaan, strata ekonomi, status sosial (merdeka atau budak), dan nasab.

Dari keempat poin di atas, secara umum para ulama mengarahkan kufu’ ke dalam beberapa aspek inti; agama, status sosial, kondisi ekonomi dan keturunan. Kesamaan seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang akan menikah dalam kelima aspek tersebut akan membantu bagi terwujudnya pernikahan yang sakinah, mawaddah dan penuh kasih sayang.

Namun kelima aspek itu tidak menjadi syarat mutlak dan ukuran pasti. Pada akhirnya, kecocokan dan kesesuaian sangatlah relatif. Maka para ulama mengembalikan soal kufu’ kepada orang tua atau wali serta pasangan yang hendak menikah. Kalau mereka sudah merasa cocok, meskipun ada satu aspek yang tidak kufu’, maka tidak ada masalah dalam Islam.

Jadi kembali kepada statement di awal, bahwa soal al-kafa’ah atau kesepadanan dalam fikih hanya bersifat anjuran yang bertujuan untuk membantu mereka yang hendak menikah dalam menentukan pilihan. Kesepadanan dan kesesuaian akan mengantarkan sepasang suami istri ke dalam kehidupan pernikahan yang baik. Di samping itu, tetap saja masalah kufu’ tidak menjadi hal yang bisa membatalkan akad pernikahan ataupun mengurangi fadilahnya.[]