Membaca Zikir Saat Mengantar Jenazah

Sabtu, 15 Desember 2018 konsultasi | 3037 klik
Ida Mahmudah Teks:Ida Mahmudah
Faza Grafis:Faza

Assalamualaikum Harakah, saya mau bertanya soal kebiasaan orang Indonesia membaca zikir ketika mengiringi jenazah. Bagaimana hukumnya ya?

Waalaikumsalam…

Mengiringi jenazah termasuk hak seorang muslim atas muslim lainnya. Rasulullah SAW menyatakan: “hak seorang Muslim atas Muslim lainnya ada enam: bila engkau menjumpainya, maka ucapkanlah salam kepadanya, jika ia mengundangmu, maka sambutlah, bila meminta nasehat kepadamu, nasehatilah, jika ia bersin dan memuji Allah SWT, maka do’akanlah, dan bila ia sakit, tengoklah, serta bila ia mati, iringilah jenazahnya.” (HR.Muslim)

Dalam memenuhi hak sesama Muslim yang telah wafat, perjalanan seorang Muslim untuk mengantarkan jenazah menuju liang lahat senantiasa bercermin pada petunjuk Rasulullah SAW yang merupakan suri tauladan umat Islam. Petunjuk terkait hal ini pasti ada, lantaran kematian sahabat Nabi sudah terjadi sebelum Rasulillah SAW wafat.

Dengan diawali imam yang memimpin tahlil: laailaaha illallaah muhammadurrasuulullah 3 kali dan disambut hadirin, lalu berangkatlah peti jenazah. Selanjutnya, para pengantar jenazah ke makam, ada yang bersama-sama melantunkan tahlil sepenjang jalan sampai ke makam. Ada yang tenang-tenang saja, bahkan ada yang pelan-pelan bercengkrama, kadang diselingi canda dan tawa. Orang-orang Indonesia, terutama di desa-desa, mengiringi jenazah dengan cara yang hangat dan pembacaan tahlil sepenjang jalan menuju pemakaman.

Zikir yang mereka kumandangkan itu berdasar pada keterangan;

Pertama, “makruh hukumnya meninggikan suara ketika membaca ayat-ayat Al-Qura’an, zikir, dan shalawat. Tetapi Imam Al-Madabighi berpendapat: hukum makruh di atas terkait kondisi dan situasi di masa awal Islam. Sekarang zamannya sudah beda, tidak apa-apa, justru menambah syiar, khusunya bagi si mayit atau jenazah.”

Kedua, disebutkan “para pengantar jenazah yang berjalan kaki disunnahkan berjalan di depan keranda atau di dekatnya sambil berjalan cepat dan berpikir tentang dan sesudah mati. Tapi tidak disunnahkan bagi para pengantar jenazah untuk gaduh, bercakap-cakap urusan dunia, apalagi dengan suara keras, kecuali melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an, membaca zikir, atau shalawat kepada Nabi karena yang ini menambah syiar bagi si mayit”.

Ketiga, disebutkan pula “bahaya/fitnah seperti yang banyak terjadi disebabkan diantara para pengantar jenazah ada yang sibuk berbincang urusan duniawi, bahkan terkadang ada yang ngerumpi. Maka, sebaiknya pengantar jenazah mengiringi pemberangkatannya dengan zikir agar bisa mengurangi obrolan duniawi sekaligus mengurangi hal-hal negatif lainnya.”

Begitulah hukum dan anjuran yang disampaikan para ulama terkait dengan tradisi atau apa yang harus dilakukan ketika mengantar dan mengiringi jenazah. (Ida Mahmudah)