Maksimal, Total dan Sempurna dalam Hal Ibadah

Minggu, 13 Mei 2018 konsultasi | 261 klik
Hilmy Firdausy Teks:Hilmy Firdausy

Kalau sudah jadi orang alim, apa saja yang harus diperhatikan?

Orang alim yang menjadi panutan bukan tipe seorang hamba yang beribadah ala kadarnya saja. Dalam setiap ibadah yang dikerjakannya, seorang alim adalah orang yang berusaha semaksimal mungkin mengambil bentuk ibadah yang paling sempurna dan maksimal. Kalau orang biasa hanya mengerjakan salat wajib, seorang alim menambahnya dengan zikir dan salat sunah qabliyah serta ba’diyyah.

Mengapa harus begitu?

Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari menjawab:

فإن العلماء هم القدوة وإليهم المرجع في الأحكام، وهم حجة الله على العوام وقد يراقبهم الأخذ عنهم من حيث لاينظرون ويقتدون بهداهم من لايعلمون

“Karena ulama adalah panutan dan referensi hukum. Merekalah hujjah (argumentasi) Allah SWT atas orang awam. Tanpa perhatian dan sepengetahuannya, ulama yang hidup berdampingan dengan mereka [orang awam], secara tidak langsung akan jejaknya akan ditiru dan dijadikan contoh.”

Karena alasan inilah sudah sepatutnya seorang alim atau ulama maksimal dan total dalam menunaikan ibadah. Dia tidak biasa beribadah ala kadarnya sebagaimana ibadahnya orang awam. Karena apa yang dilakukannya, secara tidak dia sadari, akan menjadi percontohan bagaimana seharusnya ibadah dan ajaran agama seharusnya ditunaikan dan dikerjakan.

Di sisi yang lain, sebagai seseorang yang diberikan anugerah berupa ilmu oleh Allah SWT, sudah sepatutnya seorang alim mempraktekkan apa yang dia ketahui, khususnya soal ibadah dan syariat agama. Tahu tapi tidak mengamalkan adalah satu tanda dari tidak manfaatnya ilmu yang dimiliki, kata Hadratussyeikh. Selain sebagai contoh bagi masyarakat, maksimal dan total dalam beribadah juga merupakan pertanggungjawaban seorang alim terhadap ilmu yang dia miliki.[]