Mahar Nabi Untuk Sayyidah Aisyah

Kamis, 9 Januari 2020 konsultasi | 167 klik
Faza Grafis:Faza

Selama hidupnya, Nabi Muhammad Saw memiliki 11 istri. Menurut pendapat yang lain, Nabi menikahi 1 istri. Mereka itu adalah Sayyidah Khadijah, Sayyidah Aisyah, Saudah, Hafshah, Zainab, Ummu Salamah Hindun, Zainab, Juwairiyah al-Harits, Habibah Ramlah, Shafiyyah, Mariyah al-Qibtiyyah dan Maimunah. Perbedaan pendapat mengenai jumlah istri Rasulullah ini dikarenakan perbedaan mengenai status Mariyah al-Qibtiyyah, apakah ia budak Nabi atau istri Nabi.

Namun kali ini kita akan membahas seputar mahar Nabi kala menikahi istri-istrinya. Data ini akan menunjukkan sebetapa Nabi menghargai posisi dan status seorang perempuan. Apa yang hendak dibahas juga akan menjadi bahan pertimbangan di tengah kebiasaan kaum milenial hari ini menikah dengan menggunakan mahar berupa hafalan, bukan harta.

Mahar Nabi untuk Sayyidah Aisyah

Sayyidah ‘Aisyah merupakan satu-satunya istri Nabi Muhammad yang berstatus gadis. Nabi menikahi Aisyah pada usia 6 tahun dan tinggal satu rumah pada usia 9 tahun. Pernikahan ini berlangsung setahun setelah Saudah istri Nabi Meninggal dunia. ‘Aisyah adalah putri sahabat Nabi, Abu Bakar bin Quhafah bin ‘Amir bin ‘Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Tamim bin Murrah. Sedangkan ibunya adalah Ruman binti ‘Umair bin ‘Amir dari Bani Al-Harits bin Ghanim bin Kinanah. Sebelum menikah dengan Rasulullah, Abu Bakar telah menerima pinangan Muth’im bin ‘Ady untuk anaknya Jubair. Karena permintaan Khaulah kepada Abu Bakar, beliau kemudian membatalkan pinangan tersebut dan menikah dengan Nabi dengan mahar berjumlah 500 dirham.

Aisyah adalah seorang wanita muda yang berwajah ceria, bersikap lembut, peramah, dan cerdas. Beliau adalah wanita yang tidak hanya menempati rumah tangga beliau, tetapi juga hati Nabi Muhammad. Sayyidah ‘Aisyah memiliki wajah yang manis, bertubuh ramping, dua belah matanya bulat lebar, berambut ikal, berwajah cerah, dan berkulit putih kemerah-merahan. Nabi Muhammad menjulukinya dan memanggilnya dengan sebutan Humaira.

Sayyidah Aisyah adalah orang yang paling sering bersama Nabi. Sebanyak 2.210 hadis yang beliau riwayatkan terlebih lagi soal kewanitaan, dan kehidupan rumah tangga Nabi. Kecerdasan beliau banyak diakui oleh para ulama’ sebagai ummul mukminin yang menguasai biadng Fiqh. Imam Az-Zuhri mengutarakan bahwa “Pengetahuan ‘Aisyah r.a mengenai agama jika dibandingkan dengan semua penngetahuan yang ada pada istri-istri lainnya, atau jika dibanding dengan pengetahuan agama yang ada pada semua wanita (masa itu) maka pengetahuan pada ‘Aisyah r.a tentu lebih banyak. Beliau wafat dalam usia krang dari 20 tahun pada 17 Ramadhan tahun 57/58 Hijriah dan dimakamkan di Baqi’.

Di masa Nabi, ada dua jenis logam yang dijadikan mata uang; dinar dan dirham. Dinar adalah mata uang yang terbuat dari emas, sedangkan dirham adalah jenis mata uang yang terbuat dari perak. Dari data yang disajikan dalam kitab sirah dan hadis riwayat Muslim, tercatat mahar yang diberikan Nabi kepada Aisyah berjumlah 500 dirham. Kalau kita searching di google, satu dirham hari ini sama dengan 2.9 gram perak. Satu dirham jika dirupiahkan berkisar di angka 4000 rupiah. Jadi jika dikalikan jumlahnya mencapai Rp. 2.000.000,- . Namun hitungan ini menyimpan banyak catatan. Yang utama adalah kadar dirham di masa nabi dengan dirham hari ini sangat berbeda.

Hitungan versi kedua yang bisa kita coba adalah dengan mengikuti pola nisab zakat emas dan perak. Dalam fikih, emas wajib dizakati ketika nisabnya mencapai 20 dirham atau setara 85 gram. Sedangkan perak wajib dizakati kala mencapai 200 dirham. Artinya, kadar atau konversi harga dirham 1/10 dari dinar. Maka ketika Nabi memberikan mahar berupa 500 dirham kepada Aisyah, maka ia setara dengan 50 dinar. Satu dinar hari ini memiliki kadar 4.25 gram emas. Dengan konversi harga emas murni hari ini yang mencapai 745.000 rupiah, maka hasil konversi mahar Nabi kepada Aisyah bisa dihitung melalui rumus (745.000 x 4.25) x 50 = Rp 158.312.000,-

Itulah perkiraan jumlah mahar yang diberikan Nabi kepada Sayyidah Aisyah. Wallahua’lam…