Lebih Baik Mana, I’tikaf di Masjid atau Bekerja?


Assalamualaikum Harakah Islamiyah, kira-kira lebih utama atau lebih baik mana ya antara kita beri’tikaf di masjid dan kita bekerja? Kan i’tikaf memiliki pahala? Mohon pencerahannya...

Ada banyak cara untuk mencari dan memetik pahala dalam Islam. dan faktanya, pahala tidak melulu datang dari hal-hal berbau ibadah ritual seperti salat, puasa dan lain-lain. Bahkan sering kali pahala besar menunggu kita dalam kegiatan-kegiatan sosial dan pekerjaan yang berkaitan dengan kebutuhan hidup sehari-hari, yakni bekerja.

Dalam Mu’jam Kabir, Imam al-Thabrani meriwayatkan sebuah hadis yang disampaikan oleh Sahabat Abdullah bin Umar:

عن عبد الله بن عمر قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ..... ولأن أمشي مع أخ في حاجة أحب إلي من أن أعتكف في هذا المسجد يعني مسجد المدينة شهرا

Hadis yang bermakna, “berjalan bersama seseorang untuk satu keperluan lebih aku cintai dibanding i’tikaf yang aku lakukan selama sebulan penuh di Masjid Nabawi!” ini mampu menjelaskan banyak hal, sekaligus menjawab pertanyaan tadi.

Dalam Islam, ibadah yang sunnah harus dikesampingkan ketika berbenturan dengan ibadah wajib. Hal-hal wajib juga tidak selalu soal ritual peribadatan. Semisal: kita hendak salat qabliyah, tapi ada tamu yang datang ke rumah kita. Salat qabliyah itu sunnah, sedangkan menjamu tamu adalah kewajiban tuan rumah. maka sudah sepatutnya seseorang mendahulukan menjamu tamu, dibandingkan meninggalkannya demi melaksanakan salat sunnah qabliyah.

Begitu juga dengan bekerja. Menghidupi keluarga dan menyediakan seluruh kebutuhan primer keluarganya adalah kewajiban suami. Sandang, pangan dan papan. Maka sudah tentu, bekerja untuk mencari nafkah lebih utama dan lebih memiliki nilai pahala dibandingkan i’tikaf di Masjid. Ini sebagaimana yang juga tergambar dalam hadis Rasulullah di atas.[]