Kapan Kiamat Terjadi?


Apakah dunia ini punya akhir? Islam mengajarkan bahwa dunia ini punya akhir. Dalam ajaran Islam dikenal istilah Hari Akhir (Yaum Al-Akhir) dan Kiamat (Al-Qiyamah). Keduanya berarti akhir dari dunia dan alam semesta. Percaya pada adanya Hari Akhir adalah salah satu syarat seseorang disebut mukmin. Imam Abu Daud meriwayatkan, “Apakah iman?” Nabi saw. menjawab, “Yaitu percaya pada adanya Allah, malaikat, para rasul, kitab-kitab, hari akhir, dan takdir baik dan buruk.” (HR. Abu Daud)Sekalipun kita harus percaya akan adanya Hari Akhir, namun kita tidak tahu benar kapan ia akan terjadi. Allah SWT dalam Al-Quran menjelaskan bahwa tiada yang tahu kapan kiamat akan terjadi.  “Mereka bertanya tentang kiamat, kapan waktunya. Katakan, hanya Tuhanku yang tahu. Tak ada yang mengetahu secara jelas waktunya kecuali Dia. Kiamat akan terasa berat bagi langit dan bumi. Kiamat datang kepada kalian secara mendadak.” (Qs. Al-A’raf: 187)

Ayat di atas menegaskan bahwa tidak ada yang tahu pasti kapan kiamat akan terjadi. Karena itu, hendaknya kita jangan menduga-duga atau meramal-ramal kapan kiamat terjadi. Yang harus dilakukan sebenarnya adalah mempersiapkan bekal bagi kehidupan kita setelah kiamat. Kiamat hanya akhir dari dunia. Bukan akhir dari kehidupan umat manusia. Setelah kiamat, manusia akan menjalani kehidupan yang lebih kekal. Yaitu kehidupan di akhirat. Banyak orang memikirkan kiamat, mencari-cari tanda-tandanya, namun justru melakukan perbuatan dosa yang tidak mencerminkan persiapan menghadapi kehidupan setelah kiamat. Kehidupan akhirat perlu bekal yang tidak sedikit. Hendaknya kita lebih menyibukkan diri dengan amal-amal baik dan menjauhi perbuatan-perbuatan yang dapat menyusahkan kita di akhirat.

Di antara yang perlu diwaspadai menjelang kiamat adalah menyebarnya kekacauan. Rasulullah saw. bersabda, “Akan ada fitnah (kekacauan). Orang yang tidur lebih baik dibanding orang yang duduk. Orang yang duduk lebih baik dibanding yang berdiri. Orang yang berdiri lebih baik dibanding orang yang berjalan. Orang yang berjalan lebih baik dibanding orang yang terlibat membuat kekacauan.” Sahabat bertanya, “Rasulullah, apa anjuranmu?” Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa punya unta, uruslah untanya. Barangsiapa yang punua kambing, uruslah kambingnya. Barang siapa yang punya tanah, uruslah tanahnya.” Sahabat bertanya, “Bagaimana dengan orang yang tidak punya apa-apa?” Rasulullah saw. berkata, “Hendaknya dia mengambil pedangnya dan pukulkan bagian yang tajam ke atas batu. Lalu dia menyelamatkan diri semampunya.” (HR. Abu Daud)

Dalam riwayat lain, Rasulullah saw. berpesan agar kita menjaga lidah. Rasulullah saw. bersabda, “Akan ada fitnah (kekacauan) yang akan menimpa seluruh bangsa Arab. Para korbannya akan masuk neraka. Pada saat itu, lisan terasa lebih tajam dibanding tebasan pedang.” (HR. Abu Daud)