Inilah Hukum Sujud Syukur dalam Islam


Assalamulaikum, ustadz. Saya ingin bertanya tentang hukum sujud syukur dalam Islam. Terima kasih, wassalamualaikum.

Waalaikumussalam.

Sujud syukur yang biasa dilakukan ketika merayakan sebuah kemenangan atau mendapatkan keberuntungan telah banyak dilakukan oleh masyarakat kita. Namun, apakah sebenarnya hukum mengerjakan sujud syukur ini?

Ulama berbeda menyoal tentang hal ini. Madzab Maliki berpendapat bahwa sujud syukur adalah sesuatu yang makruh, sedangkan ulama Syafi’iyyah, Hanabilah dan Dzahiriyah menganggap bahwa sujud syukur adalah amalan mustahab. Syekh Zakariya al-Anshari dalam Syarah al-Bahjah menyebut bahwa sujud syukur merupakan kesunahan sebagaimana sujud tilawah di luar solat. Ini dilakukan ketika seseorang merasakan rezeki yang berlimpah seperti dikaruniai anak, mendapatkan kemulian, harta, bertemu orang yang telah lama pergi, atau ketika terhindar dari mara bahaya.

Kelompok Hanafiyah berbeda-beda melihat sujud syukur, ini merujuk kepada pernyataan Imam Abu Hanifah yang menganggap sujud syukur bukanlah hal yang disyariatkan dalam agama. Hasilnya, beberapa pengikut madhab ini menafsirkannya berbeda, di antara mereka ada yang menganggap sujud syukur adalah sunnah dan yang lain menganggap bahwa sujud syukur bukanlah kewajiban. Alasan mengapa sujud ini bukan merupakan yang disyariatkan dalam agama adalah karena sekali sujud dalam agama Islam yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah hanyalah sujud tilawah tidak ada yang lain dan jika sujud ini disyariatkan maka sudah seharusnya setiap saat orang-orang bersujud karena setiap saat orang memeroleh nikmat.

Imam malik yang menganggap bahwa sujud syukur adalah perbuatan makruh beralasan bahwa sujud syukur bukanlah sesuatu yang fardhu maupun sunnah, Nabi Saw tidak pernah menyontohkannya, demikian pula dengan ijma’ ulama. Adapun dalil bahwa Nabi Dawud pernah sujud sebagai mana disebutkan dalam Alquran:

وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ

Ayat di atas menurut sahabat bukanlah berkaitan dengan sujud syukur, akan tetapi merupakan sujud taubat, sujud yang dilakukan untuk tujuan tobat kepada Allah, dan ini merupakan syariat umat sebelum umat Muhammad (syar’u man qablana).

Adapun jumhur ulama, dalam hal ini syafi’iyyah, hanabilah dan dhahiriyah yang menyebut bahwa sujud syukur adalah sunah beralasan bahwa:

Pertama, Alquran dengan lafad yang umum menyebut tentang pensyariatan sujud syukur. Dalam surah al-Hajj ayat 77 disebutkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman rukuklah kalian, sujudlah kalian, beribadahlah kepada Tuhan kalian, serta lakukanlah kebaikan agar kalian beruntung.” Ayat ini menurut jumhur ulama merupakan ayat yang umum, di dalamnya termasuk sujud syukur.

Kedua, bahwa surah al-Shad ayat 24 tentang Nabi Dawud yang bersujud merupakan bentuk rasa syukur Nabi Dawud karena taubatnya diterima. Disebutkan dalam Alquran:

وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ (ص: 24)

“Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat.

Ketiga, banyak hadis yang menyebutkan tentang kesunahan sujud syukur, di antaranya:

ما رواه أبو داود في سننه عن النبي صلى الله عليه وسلم قَالَ: (إنِّي سَأَلتُ رَبِّي وَشَفَعتُ لأُمَّتِي، فَأَعطَانِي ثُلُثَ أُمَّتِي فَخَرَرتُ سَاجِدًا شُكرًا لِرَبِّي، ثُمَّ رَفَعتُ رَأسِي فَسَأَلْتُ رَبِّي لأُمَّتِي فَأَعطَانِي ثُلُثَ أُمَّتِي فَخَرَرتُ سَاجِدًا لِرَبِّي شُكرًا، ثُمَّ رَفَعتُ رَأسِي، فَسَأَلتُ رَبِّي لأُمَّتِي فَأَعطَانِي الثُّلُثَ الآخِرَ فَخَرَرتُ سَاجِدًا لِرَبِّي.

Nabi Saw bersabda: “Ketika aku meminta kepada Tuhanku untuk memberi syafaat kepada umatku, kemudian Ia memberikannya untuk sepertiga umatku, maka aku bersujud kepada Tuhanku sebagai wujud rasa syukur. Kemudian aku mengangkat kepalaku dan meminta untuk kedua kalinya, lalu Dia memberikannya kembali untuk sepertiga lainnya, maka aku sujud kembali. Kemudian aku mengangkat kepalaku dan meminta untuk kedua kalinya, lalu Dia memberikannya kembali untuk sepertiga lainnya, maka aku sujud kembali.

عن أبِي بكرة، عن النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أَنَّهُ كَانَ إِذَا جَاءَهُ أَمْرُ سُرُورٍ أَوْ بُشِّرَ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شَاكِرًا لِلَّهِ"

Dari Abu Bakrah, bahwa Nabi Saw apabila menerima kabar baik yang membahagiakan beliau bersujud untuk bersyukur kepada Allah.

Demikian penjelasan mengenai dalil sujud syukur sebagaimana dijelaskan mayoritas ulama. Semoga bermanfaat. (Misbahuddin).