Hukum Pesan Makanan Lewat Ojek Online

Senin, 3 Desember 2018 konsultasi | 462 klik
Juriyanto Teks:Juriyanto
Vanny Rosa Grafis:Vanny Rosa

Salam, admin Harakah yang budiman. Saya ingin bertanya, bagaimana hukum pesan makanan dan barang melalui ojek online, apakah boleh? Mohon penjelasannya. Terima kasih.

Untuk menentukan hukum transaksi atau pesan makanan melalui ojek online harus diketahui terlebih dahulu mikanisme layanannya. Mekanisme layanan pesan makanan dan barang melalui ojek online biasanya sebagai berikut;

1. Konsumen memilih menu pesanan melalui aplikasi tertentu. Sebelum dipesan, harga makanan dan ongkos kirim sudah tertera dan diketahui oleh konsumen.

2. Driver menerima orderan dan kemudian menelpon konsumen untuk memastikan makanan atau barang yang dipesan.

3. Driver jalan ke toko sesuai pilihan konsumen. Jika harga tidak sesuai dengan harga yang tertera saat pemesanan, maka driver menelpon konsumen. Jika konsumen setuju, maka driver membelikan makanan yang dipesan oleh konsumen.

4. Pilihan pembayaran bisa cash atau kredit ojek online.

Jika kita memperhatikan mekanisme pemesanan ini, maka transaksi tersebut dihukumi sebagai wakalatul bai’ biasa atau mewakilkan kepada orang lain (driver) untuk membelikan makanan sesuai dengan pesanan kita. Hukum transaksi seperti ini hukumnya boleh dan tidak termasuk transaksi fasid atau rusak, apalagi kriteria makanan atau barang dan harganya sudah kita diketahui.

Hal ini sebagaimana telah dijelaskan oleh Al-Habib Abdurrahman (w. 1320 H) dalam kitabnya Bughyatul Mustarsyidin berikut;

قال في التحفة : لو قال لغيره اشتر لي كذا بكذا ولم يعطه شيئاً فاشتراه له به وقع للموكل وكان الثمن قرضاً له فيرد بدله،

“Imam Ibnu Hajar Al-Haitami mengatakan dalam kitab Tuhfah; Jika ada seseorang (A) berkata kepada orang lain (B), “Tolong belikan untukku barang ini (atau makanan) dengan harga segini dan dia (A) tidak memberikan sesuatu (uang) kepada orang tersebut (B), kemudian orang tersebut (B) membelikan barang pesanan, maka dia (A) disebut muwakkil atau orang yang mewakilkan. Harga barang pesanan menjadi hutang bagi muwakkil (A) sehingga dia (A) wajib mengembalikan ganti dari harga barang yang dipesan.”

Dari keterangan itu, kita bisa mengetahui bahwa transaksi melalui ojek online disebut wakalah atau mewakilkan kepada orang lain untuk membelikan barang pesanan kita. Hukum transaksi seperti ini diperbolehkan, sebagaimana transaksi wakalah pada umumnya. (Jurianto).