Hukum Menjama’ Shalat Karena Bukber

Jumat, 17 Mei 2019 konsultasi | 743 klik
Faza Grafis:Faza

Assalamualaikum…

Saya mau bertanya… di bulan Ramadan tentu saja kita tahu lagi musimnya bukber atau buka bersama. Kawan-kawan saya di SMP sampe kuliah mengadakan bukber angkatan sekolah kami. Nah, suatu waktu kami mendapatkan tempat bukber yang tidak menyediakan tempat shalat. Sehingga akhirnya kami tidak shalat maghrib. Lalu, bagaimana hukumnya menjama’ shalat karena bukber ya?

Waalaikumsalam…

Pada dasarnya, shalat haruslah dilaksanakan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Masuknya waktu shalat merupakan syarah sahnya shalat. Namun ada beberapa kondisi di mana Islam memberikan rukhsah atau keringanan berupa diperbolehkannya menjama’ (mengumpulkan) shalat dalam satu waktu tertentu, atau bahkan menqashar shalat (mengurangi setengah jumlah rakaat shalat).

Beberapa faktor yang menyebabkan munculnya keringanan antara lain adalah safar atau perjalanan. Ketika kita sedang berada di perjalanan dengan jarak tempuh di atas 80 km, maka kita diperbolehkan menjama’ dan menqashar shalat. Kita juga diperbolehkan tidak berpuasa dengan syarat hutang puasa tersebut diganti di hari yang lain.

Selain safar, jama’ shalat juga diperbolehkan ketika ada acara-acara genting yang tidak memungkinkan kita melakukan shalat pada waktunya. Misal acara pernikahan. Karena tidak mungkin seorang wanita menghapus make upnya tiap kali shalat, maka boleh dijama’. Belum lagi banyak pekerjaan seperti menerima tamu dan mengurusi acara yang harus dilakukan. Dalam konteks semacam ini, menjama’ shalat diperbolehkan.

Lalu apakah bukber termasuk kegiatan yang memperbolehkan menjama’ shalat? Pertama yang harus diperhatikan, bukber adalah sesuatu yang mubah. Artinya, ketika kita tidak melakukan hal itu, sebenarnya gak papa dan gak masalah. Kedua, masih ada kemungkinan bagi kita unuk mencari tempat shalat, berwudhu dan melaksanakan shalat. Jadi kesimpulannya, menjama’ shalat karena bukber sebenarnya tidak diperbolehkan. Karena faktor-faktor yang ada tidak menyebabkan munculnya keringanan hukum.

Lalu bagaimana hukum seseorang yang menjama’ shalat tanpa adanya udzur syar’i? begini kata Nabi, “man jama’a baynas shalatayni min ghayri ‘udzrin faqad ata baban min abwabil kaba’ir” (barang siapa yang menjama’ dua shalat tanpa adanya udzur, maka sungguh ia telah masuk ke dalam salah satu pintu dosa-dosa besar). Hadis ini masyhur, salah satunya dikutip oleh Imam al-Suyuthi dalam Lubab al-Hadis.

Jadi waspadalah bagi kalian anggota bukber fans club