Hukum Menjadi Penyiar Berita bagi Perempuan Berhijab

Rabu, 30 Januari 2019 konsultasi | 133 klik
M. Khoirul Huda Teks:M. Khoirul Huda

Assalamualaikum. Saya sering menonton acara berita di televisi. Penyiar beritanya adalah seorang perempuan berhijab. Yang jadi pertanyaan saya, bolehkan seorang perempuan Muslim bekerja sebagai penyiar berita tapi masih dengan mengenakan hijab? Terima kasih. Wassalam.

Waalaikum salam wr wb.

Terima kasih atas pertanyaannya. Mengenai masalah ini, Syekh Ali Jum’ah dalam fatwa yang diterbitkan Dewan Fatwa Mesir (Dar Al-Ifta’ Al-Misriyyah) bahwa boleh saja seorang perempuan bekerja sebagai penyiar berita di televisi. Dengan syarat dia mempertahankan aturan-aturan dan adab-adab Islam seperti menutup aurat dan bicara sewajarnya.

Dalam fatwa nomor 4526 yang dipublikasikan tahun 2004 dengan judul ‘amal al-mar’ah mudzayyi’ah bi wasa’il al-I’lam wa irtida’ al-hijab (Perempuan Bekerja sebagai Penyiar di Media dan Memakai Hijab), seseorang bertanya,

أولًا: ما حكم الدين في عمل المرأة بالتليفزيون ووسائل الإعلام كمذيعة؟

“Apa hukumnya dalam agama untuk pekerjaan perempuan di stasiuan televisi dan media penyiaran sebagai penyiar?”

Syekh Ali Jum’ah menjawab,

يجوز شرعًا عمل المرأة بالتليفزيون ووسائل الإعلام المختلفة كمذيعة أو مقدمة للبرامج أو معدة أو مخرجة أو مصورة أو محررة ونحو ذلك؛ لأن ذلك لا يترتب عليه مخالفة شرعية، وكل ما كان كذلك يجوز للمرأة أن تقوم به، والنبي صلى الله عليه وآله وسلم يقول: «النّسَاءُ شَقَائِقُ الرِّجَالِ» رواه أبو داود والترمذي في "سننيهما" والإمام أحمد في "مسنده". ولا يخفى على المرأة وجوب الالتزام بما أمرها الله به ورسوله من الالتزام بالحجاب الشرعي والجدية في الحديث والاستقامة في السلوك كشأن المسلم في التمسك بتلك الآداب،

“Secara syara’, seorang perempuan boleh bekerja di stasiun televisi dan media penyiaran yang beraneka macam seperti sebagai penyiar, pembawa acara, penyaji, kameramen, pengulas, dan sejenisnya. Karena, hal itu tidak berakibat pada munculnya perkara yang bertentangan dengan syariat. Perkara yang semacam itu, boleh dilakukan seorang perempuan. Rasulullah SAW bersabda, “Para perempuan adalah saudara kandung kaum lelaki”. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Al-Tirmidzi dalam kitab Sunan-nya serta Imam Ahmad dalam Musnad-nya. Dan tidak samar bahwa perempuan wajib memegang perintah Allah dan Rasul-Nya tentang keharusan mengenakan hijab syar’i, benar dalam bicara, dan sopan dalam bertingkah laku sebagaimana seorang Muslim yang berpegang dengan adab-adab tersebut.” (M. Khoirul Huda)