Hukum Menggugurkan Kandungan

Kamis, 30 Agustus 2018 konsultasi | 375 klik
Ida Mahmudah Teks:Ida Mahmudah
Faza Grafis:Faza

Assalamualaikum harakah islamiyah. Saya mau tanya, bagaimana hukumnya menggugurkan kandungan?

Waalaikumsalam. Berikut penjelasannya:

Dikatakan oleh Imam Al-Ghazali: “bahwa menggugurkan kandungan merupakan tindak kejahatan terhadap bayi yang berada dalam kandungan. Adapun mengenai pengguguran kandungan ini terdapat beberapa tingkatan. Pertama, nuthfah yang berada dalam Rahim yang telah bercampur dengan indung telur wanita dan siap untuk hidup, dimana pengguguran terhadapnya dianggap sebagai tindak kejahatan. Kedua, nuthfah tersebut telah menjadi segumpal daging, dimana pengguguran terhadapnya merupakan kejahatan yang lebih besar. Sedang tingkat ketiga adalah apabila telah ditiupka ruh dan telah sempurna menjadi bayi, dimana pengguguran terhadapnya merupakan kejahatan yang dinilainya jauh lebih berat.”Di dalam kitab Subulussalam disebutkan: “Pencegahan kehamilan yang dilakukan oleh seorang wanita dengan menggugurkan nuthfah yang belum ditiupkan ruh ke dalamnya, dalam hal ini terdapat dua pendapat yang berpijak pada hukum ‘azl: yaitu yang membolehkan ‘azl dan yang mengharamkannya, namun pendapat kedua dianggap lebih afdhal.”

Sedangkan di dalam kitab fiqhussunnah, Sayid Sabiq mengatakan “setelah nuthfah itu bersemayam dalam Rahim dan janin sudah berada dalam kandungan selama seratus dua puluh hari, maka tidak diperbolehkan untuk menggugurkannya. Karena jika hal itu dilakukan, maka berarti telah melakukan pembunuhan dan berhak mendapatkan hukuman di dunia maupun di akhirat.”

Dari Abdullah bin Mas’ud ra. ia menceritakan; bahwa Rasulullah Saw pernah memberitahukan kepadanya, dimana beliau adalah orang yang terkenal paling jujur: “sesungguhnya salah seorang diantara kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam rahim ibu selama empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal darah, lantas segumpal daging, lalu diutus kepadanya malaikat yang diperintahkan empat hal, ditetapkan baginya rezeki, ajal dan amalnya, apakah akan sengsara atau bahagia.” (HR. Bukhari, Imam Muslim, Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Mengenai hal ini, Imam Syafi”i berpendapat, pengguguran kandungan yang dilakukan sebelum 40 hari diperbolehkan. Catatannya, pengguguran diizinkan oleh pasangan suami istri dan tidak membahayakan ibu hamil juga dengan alasan darurat kesehatan. (Ida Mahmudah)