Hukum Menceritakan Adegan Ranjang

Jumat, 9 November 2018 konsultasi | 1565 klik
Mujiburrahman Teks:Mujiburrahman
Faza Grafis:Faza

Salam, admin Harakah yang terhormat, kami ingin bertanya, bolehkah suami istri menceritakan hubungan ranjangnya kepada orang lain? 

Terkait hal ini, Nabi SAW pernah bersabda,

إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

Sesungguhnya di antara manusia yang paling buruk kedudukannya di hadapan Allah pada hari kiamat nanti, ialah seorang laki-laki yang menyetubuhi istrinya, dan seorang istripun menyetubuhinya, kemudian menceritakan rahasia (adegan ranjangnya  kepada orang lain). (HR. Muslim).

Al-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadis di atas merupakan dalil tentang keharaman bagi pasangan suami istri untuk menceritakan adegan ranjangnya kepada orang lain, baik itu cerita soal gaya ataupun rayuannya. Sedangkan apabila yang bersangkutan hanya sekedar mengatakan bahwa dirinya telah berjima, tanpa ada maksud tertentu, maka hukumnya makruh karena hal itu dapat menurunkan harga diri. Sementara itu, jika yang bersangkutan menceritakannya dengan tujuan yang sangat penting, semisal untuk mengingkari tuduhan negatif, maka hukumnya tidak makruh. 

Tak hanya itu, dalam hadis riwayat Ahmad, Nabi SAW menggambarkan orang yang menceritakan adegan ranjangnya sama seperti setan laki-laki dan setan perempuan yang bersetubuh di jalanan dan disaksikan ramai-ramai.

فَلَا تَفْعَلُوا فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِثْلُ الشَّيْطَانِ لَقِيَ شَيْطَانَةً فِي طَرِيقٍ فَغَشِيَهَا وَالنَّاسُ يَنْظُرُونَ

Janganlah kalian melakukan itu (menceritakan adegan ranjang). Karena hal itu sama seperti setan laki-laki yang bertemu setan perempuan di jalan, kemudian keduanya langsung melakukan hubungan intim, sedangkan yang lain menyaksikannya. (HR. Ahmad).  

Demikianlah penjelasan singkat tentang keharaman menceritakan adegan ranjang kepada orang lain. (Mujiburrahman)