Hukum Menanam Ari-ari dalam Islam

Kamis, 20 Desember 2018 konsultasi | 5120 klik
Ida Mahmudah Teks:Ida Mahmudah
Faza Grafis:Faza

Salam Ustadzah, bagaimana hukumnya mengubur ari-ari dan tradisi tingkeban yang biasa dilakukan oleh masyarakat Indonesia? terima kasih..

Waalaikumsalam...

Ari-ari adalah gumpalan daging berisi darah atau bagian yang ikut dikeluarkan bersama jabang bayi. Ketika bayi lahir dan dipotong pusarnya, gumpalan itu sudah tidak berguna. Sebagian orang Indonesia menganggap ari –ari sebagai sesuatu yang sangat berharga sehingga ia dikubur sambil diberikan sesaji. Biasanya, tempat menguburnya berbeda antara ari-ari laki-laki dan ari-ari perempuan. Di atas timbunan tempat ari-ari dikubur, masyarakat biasanya memberi lampu yang ditutup dengan kuali, paso atau yang lain.

Bagi sebagian masyarakat Indonesia ada sebuah kepercayaan yang berkembang jika ari-ari bayi tersebut tidak dukuburkan, maka sesuatu yang buruk akan terjadi pada si bayi. Seperti diketahui ketika akan menguburkan ari-ari itu dimasukan ke dalam kuali kecil yang terbuat dari tanah liat. Ari-ari harus dibungkus dengan kain putih dan disertakan bunga setaman. Ketika akan dikuburkan maka harus diiringi dengan do’a, baru kemudian dikuburkan pada lubang yang sudah disiapkan.

Dalam ajaran Islam, menanam ari-ari atau menguburkannya merupakan hal yang sunnah. Adapun menyalakan lilin atau menaburkan bunga di atasnya hukumnya makruh, karena dianggap sebagai tindakan membuang-buang harta yang tidak ada manfaatnya.

Begitu juga halnya dengan tradisi Tingkeban, yaitu upacara yang diselenggarakan bulan ketujuh dari usia kandungan. Para ulama membatasinya pada kebolehan bersedekah dan menyelenggarakan majelis doa. Jika ditambah dengan hal-hal lainnya seperti memecah kendi, suami istri harus dimandikan, perut yang berisi jabang bayi harus diberi tali dengan janur kuning, lalu dimasuki cangkir gading, maka hal itu tidak diperkenankan. Sebab memecah kendi, memasang lilin atau lampu (menanam ari-ari) semua itu mubadzir, membuang-buang harta, tak ada manfaatnya.

Dalil kebolehan menanam ari-ari disebutkan dalam Kitab Nihayat al-Muhtaj: “Disunnahkan mengubur sesuatu (anggota badan) yang terpisah dari orang yang masih hidup atau yang diragukan kematiannya, seperti tangan pencuri, kuku, rambut dan darah akibat goresan, demi menghormati pemiliknya.”Hal serupa juga disebutkan juga dalam Kitab Al-Bajuri: “maksud mubadzir ialah memperlakukan harta diluar kewajarannya, yaitu segala sesuatu yang tidak ada gunanya, baik jangka pendek maupun panjang, sehingga mencakup segala hal yang diharamkan dan yang dimakruhkan.”

Penguburan ari-ari dilakukan dengan membersihkannya terlebih dahulu. Kemudian dimasukan ke dalam wadah, ditutup dan lalu dikubur. Karena ari-ari tersebut pernah menjadi bagian dari bayi. Namun jangan sampai hal tersebut dilakukan dengan keyakinan kalau tidak dilaksanakan akan membuat celaka, atau prasangka buruk lainnya akan menimpa bayi kita.

Sesungguhnya hanya Allah SWT yang memiliki kuasa dan mempunyai kekuatan. Hanya Allah SWT yang dapat memberi manfaat dan madharat. Hanya kepada-Nya kita menyembah dan meminta pertolongan.